Sinar mentari menusuk tajam pandangan mata. Tegukan air dari dalam 4 tubuh yang terkapar lemas keluar dengan sendirinya. Sekujur tubuh yang dasarnya dari tanah itu terasa dingin diiringi hangat mentari pagi.
Alequa membuka mata perlahan. Kelopak matanya bertabur pasir lembab dengan wajah penuh luka dan memar biru. Entah sudah berapa lama tubuhnya terkapar. Lemas yang begitu mendalam terasa mendekap ke seluruh jaringan-jaringan penyusun tubuhnya.
Samar-samar matanya mulai menangkap apa yang terekam di hadapan. Hanya terlihat daun pohon kelapa dan langit biru yang terbentang jauh di atas sana.
"Aku masih hidup?"
Pertanyaan itu hampir terlontar. Kerongkongannya menolak secepat kilat. Air masih tergenang penuh di dalam sana, membuat pita suara sulit untuk bekerja.
Alequa terbatuk kembali. Air tercurah dari mulutnya, hingga akhirnya termuntah berkali-kali. Yang keluar bukan sebagaimana isi lambung yang penuh makanan-makanan terurai. Melainkan hanya air. Air garam yang menyelekit, terasa menusuk pedas di kerongkongan.
Dengan pelan kepala gadis itu menoleh ke samping. Tampak setubuh insan perempuan yang terbaring lemas di sana. Dia wanita penjual bir. Ia tampak masih bernapas, namun matanya terkejap.
"Hei... Hei.... Bangun... Kita masih hidup," Alequa berkata lemah. Tangannya bergerak lambat menyentuh tubuh wanita penjual bir yang tak sadarkan diri.
"Ael... Ael... kamu di mana...?" Alequa menoleh ke arah lawan. Di sebelah kirinya terkapar seorang laki-laki yang juga tak sadarkan diri. Pria itu bukan Rafael, tapi sosok pria yang duduk bersebelahan dengannya sebelum kapal mereka hanyut diterjang ombak.
Gadis itu mencari Rafael. Terus menerus memanggil Rafael yang tak tampak di bola matanya. Namun tak ada jawaban. Dunia terdengar begitu sunyi kala itu. Perlahan Alequa mengepakkan tangannya, menopang tubuh untuk bangkit.
Degg...
Wajah gadis itu menegang tepat saat kedua kakinya memijak sempurna. Ia baru tersadar di mana tubuhnya berbaring barusan.
Sejauh matanya memandang, yang terlihat adalah pasir merah. Ya, pasir tempat ia memijak berwarna merah. Bukan warna merah muda, tapi warna merah pekat. Pemandangan yang begitu menakutkan.
Di hadapannya terbentang luas samudera biru tak berpenghujung. Sedangkan di belakangnya berdiri gagah gunung tinggi yang dikelilingi hutan rimba belantara. Merah, biru, dan hijau mendominasi pandangan mata.