Alequa menatap kosong. Apa maksud jawaban Rafael? Keberadaan penumpang lain? Tak mungkin pertanyaan itu akan terjawab di sana. Tempat kakinya memijak hanya-lah setapak tanah datar di tengah curamnya tanjakan gunung.
Rafael berpaling. Kini pria itu menghadap samping, diam sejenak kemudian menghela napas begitu panjang. Perlahan tubuhnya membungkuk, bergerak memetik dedaunan pohon rindang tepat di depan jurang.
Gadis di belakang hanya terdiam. Penuh bertanya dalam hati. Namun jiwanya penuh rasa bersalah melihat Rafael yang tampak sebal sedari tadi.
Gambar Alequa hari itu :
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Puluhan helai daun kecil-kecil sudah menumpuk dalam dua genggam tangan Rafael. Pria itu berhenti memetik, berbalik, melangkah ke dekat Alequa di belakang. Kakinya berjalan tersendat-sendat. Rafael terus menunduk.
"Ambil," Pria itu menyerahkan tumpukan helai daun di tangan kanannya.
Saat itu-lah Alequa mulai peka dengan semuanya. Ketika Rafael mengangkat kepala, tampak dari matanya mengalir air begitu deras. Oh, Tuhan... pertama kali dalam hidup, Alequa menyaksikan pria itu menangis. Setelah hidup 10 tahun bersama, kini sang penguat pertama kalinya berada di posisi rapuh.
Alequa menelan ludah. Tangan kirinya perlahan mendekat ke wajah Rafael. Pria di hadapan mematung, menatap Alequa dengan binar mata yang sudah redup. Alequa menyeka air mata pria itu.
PLUK...
Rafael memeluk erat tubuh Alequa. Ada apa dengan pria itu? Ribuan pertanyaan di kepala Alequa masih belum terjawab, juga dengan pertanyaan di awal tadi.
"Ada apa denganmu, Rafael? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa maksud daun-daun ini?" Pertanyaan itu melesat diiringi raga yang mulai melemah.
Yang ditanya hanya diam sembari melepas pelukannya. 3 langkah mundur ke belakang, Rafael berhenti. Sisa dedaunan di tangan kirinya ia sebarkan ke atas tanah datar di hadapan. Barulah Alequa memahami. Seluruh kerumitan yang terahasiakan. Sangat menyakitkan, sunguh...
"Mari... taburi daunnya." Rafael memanggil lembut. Senyum amat tipis terbentuk tampan di wajahnya.
Tubuh Alequa melemas. Lubuk hati indah di dalam sana bergetar amat dahsyat. Menggigil. Kakinya berjalan tertatih-tatih. Bagai tulang yang hanya berlapis kain, seperti itulah penampakan Alequa setelah memahami maksud Rafael.
Ya, pertanyaan tentang di mana lokasi 5 penumpang lain itu sudah terjawab. Dengan seluruh kerumitan, pemandangan sepetak tanah datar, juga helaian daun yang disebarkan, Alequa tersadar sepenuhnya.
Perlahan helaian daun yang diberikan Rafael tadi ia taburkan ke tanah di hadapan. Ekspresinya kosong tercengang, tak dapat berkata-kata.