⚠️JANGAN LUPA VOTE!
•
•
•
"HEI!" Suara seseorang muncul dari arah belakang. Bergema menyeluruh sudut langit biru di atas.
Kepala Alequa dan Rafael cepat menoleh. 180 derajat di belakang mereka, berdiri kaku sosok perempuan dengan pakaian lembab dan wajah lusuh penuh goresan luka.
"A-apakah aku m-masih hidup?" Layak tulang berlapis kain, perempuan itu menjatuhkan tubuhnya ke atas pasir. Tersungkur dengan jari telunjuk yang mengarah ke dirinya sendiri.
Tak ada dugaan yang salah, sosok perempuan itu memanglah gadis penjual bir yang terbaring tak sadarkan diri bersama Alequa beberapa jam yang lalu. Wajahnya lusuh, penuh memar luka dengan wajah pucat seperti mayat hidup.
Raut muka Alequa melesu seketika. Ia berdiri, berjalan mendekati gadis penjual bir. Hangat tangannya mengepak lebar memeluk tubuh gadis penjual bir yang lemas di atas pasir.
"A-aku m-masih hidup?" Wanita yang Alequa peluk melontarkan pertanyaan yang sama. Bola matanya membulat, menatap Rafael di belakang seperti kehilangan jiwa.
"Ya, kau masih hidup. Kau diselamatkan oleh Tuhan. Nyawamu adalah keajaiban terbesar saat ini!" Kalimat itu Alequa bisikkan ke telinganya. Membuat peluk tangan gadis penjual bir semakin erat.
Dua gadis di hadapan Rafael menangis perlahan-lahan. Tak menutupi jiwanya yang seperti jantan, wanita penjual bir kini mengekspresikan hatinya layaknya perempuan pada umumnya. Lama kelamaan air mata belinangan bak air terjun yang tercurah deras.
* * *
20 menit...
"Siapa namamu, Nona?" Alequa bertanya usai tangisan antara mereka berdua mereda.
"Gwen," Gadis penjual bir menjawab. Tertunduk sambil menatap sendu pasir merah di bawahnya.
"Gwen?" Alequa memastikan.
"Ya! Gwen." Gadis di sebelahnya mengulang. Masih dengan kepala yang tertunduk.
Namanya Gwen. Perempuan Belanda berparas cantik dengan perangai jantan. Tinggi tubuhnya persis seperti tinggi tubuh Alequa. Tak kurang 1 cm-pun atau ditambah 1 cm-pun. Benar-benar sama persis.
Kepala Gwen perlahan naik ke atas. Mata sembab menggenang rasa takut, berputar—merekam sekeliling pemandangan di sekitarnya. Tubuh Gwen bergetar seketika, hatinya bergejolak meminta pulang. Pemandangan tempat macam apa ini? Tak pernah ia lihat sebelumnya. Belum ada penjelasan dari Alequa atau-pun Rafael sedari tadi.
Rupanya tak hanya Alequa yang ketakutan saat pertama kali meratapi pemandangan pulau itu. Pemandangan paling menakutkan yang pernah ditangkap mata telanjang.
"Ini, makan-lah!" Alequa menjulurkan sisa buah merah yang diberi Rafael tadi.
Gwen menelan ludah, matanya tiba-tiba saja memerah, terbuka sangat lebar. Tubuhnya bertambah menggigil. Hanya ada rasa takut di dalam benak kepalanya. Gadis itu menggelengkan kepala, menolak buah merah yang Alequa berikan.
Alequa menghela napas. Jiwa yang belum pulih sempurna dalam diri Gwen dapat ia pahami. Tak bisa ada desakan di situasi ini. Kematian bisa datang perlahan-lahan dari 2 arah—tubuh atau-pun jiwa.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALEQUA
Adventure𝙆𝙚𝙩𝙞𝙠𝙖 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙚𝙗𝙪𝙖𝙝 𝙝𝙖𝙧𝙖𝙥𝙖𝙣, 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙢𝙖𝙩𝙞𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙮𝙪 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙢𝙗𝙖𝙞-𝙡𝙖𝙢𝙗𝙖𝙞... Bagaimana rasanya membiarkan jasad insan tercinta perlahan mengurai di atas tana...
