"Moo Timjang-nim!" Kwon Joo tidak bisa menahan perasaan senangnya hingga ia berlari meninggalkan Derek, mendekati Jin Hyuk dengan senyuman lebar.
Jin Hyuk memeluk Kwon Joo dengan hangat, menepuk- nepuk punggung gadis itu. "Sudah lama sekali."
"Sangat, sangat lama, Moo Timjang-nim," Kwon Joo menjawab, menjauhkan diri setelah Jin Hyuk selesai menepuk punggungnya. "Astaga, anda sama sekali tidak berubah."
"Benarkah?" Jin Hyuk tertawa keras, menggelengkan kepala. "Aku sudah menua, Kang Center. Kau juga agak berubah."
"Saya berubah?" Kwon Joo bertanya, senyuman tidak menghilang dari wajahnya.
Jin Hyuk menatap Kwon Joo dari atas ke bawah, tersenyum lebar. "Aku tidak tahu aku bisa melihatmu mengenakan gaun."
"Oh," Kwon Joo baru menyadari saat ini penampilannya jelas berbeda dari biasanya. "Ini--"
Tiba- tiba Derek muncul di sebelah Kwon Joo. Pria itu memaksakan senyuman, mengulurkan tangan pada Jin Hyuk. "Detektif Kepolisian LA, Derek Cho."
"Oh," Jin Hyuk menatap Derek dengan alis terangkat tinggi, tapi ia tetap menjabat tangan Derek. "Guru SD New York, Moo Jin Hyuk."
"Anda sekarang guru SD?" Kwon Joo menatap Jin Hyuk dengan mata berbinar- binar, sama sekali tidak mempedulikan Derek yang masih menjabat tangan Jin Hyuk. "Anda serius?"
Jin Hyuk menarik tangannya dari genggaman Derek, perhatiannya kembali pada Kwon Joo sepenuhnya. "Kau tidak percaya?"
Kwon Joo tersenyum manis. "Kalau anda benar- benar guru SD, berarti anda juga sudah sangat banyak berubah."
"Sepertinya tidak sebanyak perubahan yang terjadi padamu," Jin Hyuk tertawa. "Kau bahkan bisa bercanda sekarang."
Kwon Joo menganggukkan kepalanya, ekspresinya sedikit serius. "Dulu kita berdua sama- sama kelamnya."
Tawa Jin Hyuk langsung berhenti. Ia menatap Kwon Joo dengan lembut, sama sekali melupakan kehadiran pria di sebelah Kwon Joo.
"Maaf," Derek berusaha mengalihkan perhatian kedua orang itu padanya. "Anda siapa..?"
Kepala Kwon Joo langsung tersentak ke arah Derek. Ia menggesturkan tangannya ke arah Jin Hyuk. "Ah, dia Moo Jin Hyuk Timjang-nim. Dia partner pertama saya."
Derek mengangguk mengerti dan menutup mulut, berharap Kwon Joo akan memperkenalkan dirinya pada laki- laki bernama Moo Jin Hyuk itu, tapi Kwon Joo tidak mengatakan apa- apa lagi. Derek berakhir menatap tajam Jin Hyuk tanpa suara.
Jin Hyuk sepertinya menyadari tatapan Derek yang seperti menusuknya, tapi ia menjadi semakin iseng. Ia menatap Kwon Joo. "Bagaimana kalau kita ke cafe dan mengobrol?" Ia melirik Derek saat menambahkan satu kalimat pamungkas. "Aku merindukanmu."
Sesuai yang sudah diprediksi oleh Jin Hyuk, sekarang mata Derek melebar dengan syok, melotot untuk memprotes. Derek menoleh pada Kwon Joo, berharap gadis itu menolak, tapi Kwon Joo malah tersenyum.
"Saya juga merindukan anda." Kwon Joo menoleh pada Derek, tersenyum. "Anda boleh bergabung jika mau."
Rahang Derek nyaris terjatuh. Ia ingin seharian berdua dengan Kwon Joo di pantai, tapi laki- laki bernama Moo Jin Hyuk ini sepertinya berkeinginan untuk menghancurkan rencananya. Dan Derek jelas tidak ingin bergabung, karena ia pasti tidak bisa ikut membahas masa lalu yang dialami oleh Kwon Joo dan Moo Jin Hyuk ini.
Jadi Derek memaksakan senyuman. Ia sudah hampir bicara saat ponselnya bergetar. Seketika wajahnya berubah lebih cerah. Siapapun yang meneleponnya saat ini layak ditraktir makan malam.
Dan orang yang mendapat kesempatan makan malam gratis dari Derek adalah Chad.
-----
Derek kembali ke mobilnya dengan tangan memegang keranjang piknik yang sudah menjadi ringan. Tadi ia berangkat dengan seseorang dan barang bawaan yang cukup berat, tapi ia berakhir pulang sendirian dengan beban yang ringan.
Sambil meletakkan keranjang di kursi belakang, ia menyadari udara sudah berubah lebih dingin. Angin berhembus menembus kausnya, membuatnya sedikit menggigil. Ia cepat- cepat masuk ke mobil dan menyalakan mesin.
Di dalam mobil ia bahkan tidak menyalakan pendingin udara. Ia sudah merasa kedinginan. Atau mungkin ia kedinginan karena tidak ada teman? Lebih tepatnya, karena tidak ada Kwon Joo.
Ponsel Derek bergetar lagi dan ia menyambungkan ponsel ke layar mobil. "Aku sedang dalam perjalanan."
"Cap, anda tidak perlu datang," suara Chad terdengar setelah ia menghela napas. "Pria itu sudah diurus oleh bagian narkotika, jadi pihak kita tidak perlu melakukan apa- apa lagi. Untuk apa anda ke sini--"
"Karena aku tidak ada hal lain untuk dikerjakan," sela Derek, membuang napas dengan kesal.
Chad diam untuk beberapa saat. "Bukannya anda sedang liburan dengan Centerjang--"
"Diam. Atau kau tidak jadi aku traktir makan malam."
"Dan kenapa anda perlu membelikan saya makan malam?" tanya Chad tidak mengerti.
"Diam. Hari ini kau harus menemaniku makan malam."
"Cap--"
Derek memutuskan sambungan.
-----
Sambil menghirup cappuccino-nya Jin Hyuk mengamati Kwon Joo. Gadis itu jelas lebih ceria dan bersemangat jika dibandingkan dulu. Mungkin partner-nya kali ini lebih bisa diatur? Atau mungkin... lebih baik?
"Anda memiliki pertanyaan," Kwon Joo berkata dengan mata menatap jus stroberi-nya. "Silakan bertanya."
"Derek Cho," Jin Hyuk menjawab dengan nada santai. Ia meletakkan cangkirnya di meja. "Dia partner-mu sekarang?"
Kwon Joo menatap Jin Hyuk, menggelengkan kepala. "Tidak. Dia detektif. Partner saya sekarang Park Timjang-nim."
Mata Derek melebar. "Park Joong Ki?"
Kwon Joo tersenyum dan mengangguk. "Saya belum memberitahu anda, ya? Setelah Do Timjang-nim--" Kwon Joo langsung kehilangan senyumnya.
Jin Hyuk menatap Kwon Joo. Keningnya sampai berkerut karena cemas. "Kau sudah berusaha, Kang Kwon Joo."
"Sepertinya usaha saya kurang, Moo Timjang-nim," Kwon Joo menatap Jin Hyuk. Matanya sedikit memerah. "Kalau saja saya menghentikannya dari membunuh pria itu. Kalau saja saya bisa berteriak pada agen- agen yang menodongkan senjata mereka padanya. Kalau saja saya tidak tertangkap--"
"Kang Kwon Joo," Jin Hyuk memanggil nama Kwon Joo dengan tegas hingga gadis itu berhenti bicara. "Tidak ada gunanya menyesali yang sudah berlalu."
Kwon Joo menunduk untuk menahan diri supaya tidak menangis. "Tapi penyesalan saya belum berkurang sedikitpun. Apa yang harus saya lakukan, Moo Timjang-nim?"
"Melupakan semuanya," jawab Jin Hyuk tegas, membuat Kwon Joo kembali menatapnya. "Lihat ke masa depan, berhenti memikirkan masa lalu."
Kwon Joo menunduk, menggelengkan kepalanya. "Saya tidak tahu apa saya bisa melakukannya."
"Kau bisa," tegas Jin Hyuk. "Aku sudah memperhatikanmu sebelum memanggilmu tadi. Kau tampak sangat bahagia."
Kepala Kwon Joo terangkat sedikit. "Saya? Bahagia?"
Jin Hyuk menganggukkan kepalanya. "Kau bahagia, dan kau akan baik- baik saja. Yang perlu kau lakukan adalah berjalan maju. Dan Derek Cho, kurasa ia pria yang baik. Aku hampir yakin ia benar- benar menyukaimu."
"Detektif Cho memang orang yang baik," Kwon Joo menjawab, menatap Jin Hyuk. "Soal dia menyukai saya atau tidak, saya tidak tahu. Tapi saya berbohong jika saya berkata tidak khawatir ia akan berakhir seperti Jang Timjang-nim atau Do Timjang-nim saat kami bekerja sama tahun lalu."
"Kang Kwon Joo," kali ini Jin Hyuk memanggil Kwon Joo dengan lembut. "Siapapun yang mendapat kesempatan menjadi partner-mu dan bekerja sama denganmu adalah suatu kehormatan besar."
Kata- kata Jin Hyuk berhasil membuat Kwon Joo tersenyum dan menangis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Travel Log
FanfictionBecause Kang Kwon Joo deserves a vacation. (What If) Kang Kwon Joo tidak mengikuti si Dokter dan memilih untuk pergi liburan. #1 kangkwonjoo september 2021
