Bersujud kepada-Mu dan meminta mohon untuk diberikan kesabaran yang lebih. Hanya itulah yang bisa ku lakukan saat ini, ya Rabb.
Maafkan aku karena belum bisa menerima kenyataan bahwa wanita yang ku cintai lebih memilihnya dibanding diriku. Maafkan hamba mu karena belum bisa melupakannya. Maafkan hamba mu karena masih mengharapkan nya padahal dia sudah bersuami.
Maafkanlah aku ya Allah..
Ku kira sebelumya jika di tolak oleh nya tidak akan semenyakitkan ini. Ku kira, do'a yang selama ini ku panjatkan dengan menyebut nama nya di sepertiga malam, akan menjadi kenyataan. Karena hamba kemarin begitu yakin jika dia akan memilih lamaran hamba.
Tapi ternyata ekspektasi yang ku dapat tidak semenarik yang ada pada realita ku.
Dia lebih memilih adikku di banding diriku.
Mungkin memang ini suratan takdir yang engkau berikan. Tapi hatiku tidak bisa berbohong, jika aku masih tidak terima bahwa wanita itu menjadi pendamping hidupnya.
Aku yang pertama kali menemukannya, mencintainya, dan mengharapkan nya. Tapi dia yang engkau ijinkan untuk menjadi pelengkap hidup nya.
Ya Allah, ya Rabb ku. Maafkan aku. Aku sungguh benar-benar belum bisa mengikhlaskan nya.
Jika memang ini adalah jalanku, maka aku akan menerimanya dengan tabah dan ikhlas.
Aku akan berusaha untuk sekuat tenaga agar bisa mengikhlaskan nya. Mengikhlaskan wanita yang ku cintai bersama adikku sendiri. Memang ini begitu sulit ku lakukan, tapi hamba yakin engkau selalu berada di sampingku yang bisa membantuku berusaha semaksimal mungkin untuk melupakannya.
Entah nantinya aku akan bisa membuka pintu hatiku kembali atau tidak untuk menerima kehadiran yang lain dan menjadi penunggu yang setia.
Aku takut kisah percintaan ku nanti akan sama seperti sekarang ini. Kenyataan ini membuatku tersadar, jika percintaan ku seperti sebuah hal nya dengan jungkat-jungkit. Aku tidak begitu paham apa maksudnya, tetapi hamba sangat yakin jika itulah yang ku rasakan.
Terkadang cinta merasakan hal nya dengan kebahagiaan. Namun kebahagiaan itu bisa saja tergantikan dengan sebuah kehancuran.
Hamba tahu, rasa cinta ini memanglah anugrah terindah darimu. Tetapi jika rasa cinta ini akan berakhir kandas, lantas mengapa engkau memberikan ini kepadaku?
Maafkanlah hamba yang terus menerus belum bisa menerima takdir-Mu sejak kemarin. Mohon berikanlah hamba kekuatan yang mendalam agar hamba bisa tetap bersikap layaknya mengikhlaskan kepergian nya di hadapan mereka.
"Yoongi hyung? Kau menangis?"
Lelaki yang sedang menangis dengan menengadahkan tangan nya yang sedang berdoa sembari menangis itu tidak mendengarkan panggilan dari seseorang.
"Yoongi hyung..?"
Masih tidak di sahuti oleh sang pemilik nama. Hingga tangisan Yoongi semakin terisak hebat dan tidak sanggup untuk melanjutkannya do'a nya kembali di dalam hatinya. Do'a yang terus ia pinta untuk sang maha kuasa tentang permasalahan yang sama.
"Astaghfirullahaladzim. Aku tidak bisa menerima semua ini. Aku belum siap untuk mengikhlaskan Hani. Aku sangat menyayanginya lebih dari apapun. Tapi mengapa hatimu memilihnya dibanding diriku, Hani?"
Mendengar gumaman Yoongi di sela-sela tangisnya. Seketika lelaki yang tadi memanggil Yoongi hatinya merasakan sesak mendengarnya.
"Hyung, ini takdir ku dan takdir nya. Allah menentukan nama di dalam lauhul mahfudz nya yaitu aku, bukan nama mu. Jadi sekuat apapun cintamu terhadap Hani, jika akulah yang menjadi takdirnya, kau tidak akan pernah di persatukan. Kendatipun kau juga selalu menyebutkan namanya dalam setiap sujud di sepertiga malam mu."

KAMU SEDANG MEMBACA
Seesaw
Fanfiction"Aku menaiki jungkat-jungkit ini tanpamu." Ungkapnya sebelum menyadari bahwa ternyata masih ada seseorang yang bisa menemani nya dalam bermain jungkat-jungkit tersebut. Meski demikian, seseorang itu juga merasakan terjebak dalam permainan ini. Terj...