14: Ayolah, bangkit!

20 5 1
                                    

Tibalah dimana hari yang terasa begitu berat ini bagi Yoongi untuk bisa mendatangi suatu acara. Dimana acara tersebut ialah milik Jungkook yang tengah merayakan atau bisa disebut mengadakan resepsi pernikahan yang sempat ditunda karena suatu alasan yang tidak diketahuinya.

Bukankah seharusnya ia bahagia juga melihat sahabat sekaligus ia anggap sebagai adiknya itu tengah berbahagia bersama pilihannya?

Juga, Yoongi tidak boleh melupakan apabila disaat Jungkook mengatakan perasaannya jujur pada Yoongi lebih dulu kala itu, ia pun berkata jika ia akan mendukung Jungkook untuk mengejar cinta Hani. Dan ia juga mendoakan melalui perkataan agar keinginan Jungkook bisa terkabulkan menjadi pendamping gadis itu.

Lantas, mengapa aku terus seperti ini, huh? Sudah seharusnya kau berbahagia melihat mereka dan ikhlaskan takdir ini.

Menyemangati diri sendiri dengan adanya komentar yang ia berikan melalui hati kecilnya. Yoongi tentu merasa jika ia haruslah seperti itu. Tidak ada yang bisa menghambat nya untuk berbahagia meski pujaannya telah di takdirkan bersama kerabatnya.

Lagipula, aku masih mempunyai Yoora dan Shadiq yang membuatku bahagia.

Mengingat kembali dengan mereka berdua. Pasca kejadian malam itu, disaat Jinyeon meminta alasan kepada keduanya mengapa memilih bertinggal dirumah Yoongi, dan ia pun menjawab dengan adanya kejujuran dari hati yang membuat lelaki bernama Jinyeon itu masih tidak mempercayai sepenuhnya.

Apa niatnya untuk meminang sang adik dari lelaki itu salah? Hingga Jinyeon seperti nya masih enggan untuk mempertemukan dirinya bersama Yoora maupun Shadiq.

Dua hari berlalu tanpa adanya mereka berdua tentu terasa sulit. Bahkan, ia tidak menerka jika kesendiriannya dirumah yang besar ini terus membuatnya teringat dengan adanya Shadiq yang selalu berlarian kesana-kemari dan bermain kejar-kejaran bersamanya.

Niat hati ingin kembali ke dorm dan mungkin ia bisa saja menetralkan pikirannya yang kacau kala itu dengan hiburan para member yang ada. Namun, niatnya pun ia urungkan karena ia tidak mau jika harus diinterogasi oleh mereka disana tentang apa saja yang ia lakukan bersama Yoora. Juga, Yoongi masih belum bisa untuk menjawab apakah Yoora masih bersamanya atau tidak.

Ya, mungkin jiwa nya memang sedang tidak bersamanya kini, karena wanita itu diberitahukan oleh sang kakak jika ia sedang tinggal di suatu apartemen yang di sewa oleh Jinyeon. Tetapi, mengapa Yoongi merasa jika kehadiran Yoora masih terus terasa hingga sekarang. Ia masih berandai-andai bila Yoora sedang menyiapkan sarapan pagi untuk bisa mereka makan seperti beberapa hari lalu.

Seperti sekarang ini. Seusai ia mengambil jas putihnya yang ada di lemari, Yoongi pun memutuskan untuk menghampiri area dapur guna melihat apakah disana sudah ada sajian makanan yang bisa ia jadikan sarapan nanti. Seperti roti dengan isi selai jeruk favorit nya yang biasa Yoora sajikan diatas meja makan.

Kini langkahnya pun mulai melambat dan menyadari jika di atas meja makan berwarna putih tulang itu ternyata tidak satupun ada makanan yang bisa ia santap untuk mengganjal perutnya yang kosong.

Tangannya yang indah itu mengelus permukaan meja yang mulus sembari berjalan kembali untuk bisa menduduki salah satu bangku disana.

Ia duduk disana seorang diri dengan bermenung dan tatapan matanya terus menelusuri permukaan atas meja tersebut.

"Kosong."

Memang kosong, tidak ada makanan apapun disana. Hanya terdapat dua gelas dan teko air, yang mungkin masih bisa menyadarkan dirinya jika meminum air mineral saja sudah cukup untuk mengisi perutnya yang kosong.

Tiada pilihan lain. Selagi ia masih bisa meminum air itu, pun itu sudah merasa cukup baginya. Daripada harus memasak lebih dulu yang bisa-bisa membuat nya kembali berkeringat dan bajunya pun menjadi bau badan.

SeesawTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang