"Aku menaiki jungkat-jungkit ini tanpamu."
Ungkapnya sebelum menyadari bahwa ternyata masih ada seseorang yang bisa menemani nya dalam bermain jungkat-jungkit tersebut. Meski demikian, seseorang itu juga merasakan terjebak dalam permainan ini. Terj...
"Aku paham." Ucap Yoora setelah mendengar sebagian curhatan dari Yoongi langsung.
Yoongi menatap Yoora yang sedang menunduk, dan sekelebat bayangan wanita pujaannya kembali datang sekarang saat menatap Yoora seperti ini.
"Sekalipun ada yang mirip dengannya, mungkin aku tidak bisa lagi membuka hatiku dan membiarkan wanita baru itu masuk untuk menggantikan posisi nya di dalam hatiku." Lanjutnya, bayangan itu terus teringat jelas saat pertama kali ia mendapati tingkah wanita pujaannya yang terus menunduk jika di tatap olehnya.
Yoora mendangak, dan matanya tak sengaja saling bertukar tatap olehnya.
"Untuk kali ini, kau tidak boleh seperti itu, Yoongi-ssi."
Alis Yoongi bertautan kala mendengar larangan Yoora. "Kenapa bisa?"
"Ya. Karena jika kau telah di pertemukan oleh jodoh mu nantinya, apakah mungkin kau tetap akan menolak jodoh mu? Kendatipun pilihan Allah itu lebih dari apa yang kau inginkan dari dalam diri sepupuku?"
Yoongi menggeleng kepala, "Bukan begitu maksud ku. Mungkin saja untuk beberapa waktu kedepannya aku tidak bisa menerima kehadiran wanita baru itu masuk kedalam hatiku, dikarenakan masih ada namanya yang menjadi penunggu setia di dalam hatiku."
"Tapi dia sudah bersuami.."
"Aku tahu."
"Jika kau tahu, mengapa kau tidak melupakan nya dari sekarang?"
"Aku tidak bisa melupakannya."
"Maka dari itu cobalah sekarang. Aku akan membantumu, dan bukan hanya aku saja melainkan ada Allah yang juga senantiasa berada dalam sampingmu. Kau harus percaya, bahwa ini adalah takdir Allah. Mungkin menurut mu ini tidak baik bagi dirimu, akan tetapi bagi Allah, dia telah memberikan takdir yang begitu baik untuk hambanya. Jadi ku mohon, lupakan Hani. Lupakan bahwa Hani pernah menjadi bagian dari hidupmu."
"Dan tanpa kau beritahu hal itu. Aku sudah lebih dulu mengetahuinya perihal takdir Allah yang baik."
Yoora menghembuskan napasnya sejenak. Ia menatap Yoongi sebentar, lalu ia alihkan pandangan itu kepada Shadiq yang tengah asyik memainkan handphone miliki Yoongi di tengah-tengah kasur sana.
"Aku selalu bilang, bahwa ini adalah takdir ku. Jika aku bukan untuknya, sudah pasti ada seorang wanita di seberang sana yang tak kalah baiknya dari apa yang aku harapkan dari diri Hani."
Mendengar itu, Yoora kembali menatap wajah Yoongi dan menggeleng kecil setelahnya.
"Kau mengatakan hal itu hanya dengan lisan mu saja. Sedangkan kata hati mu tidak kau yakinkan tentang ucapan mu barusan."
Yoongi menyunggingkan senyumnya. Seolah senyuman itu adalah untuk merutuki dirinya sendiri, yang memang benar apa dikatakan Yoora barusan.
Memang,
Itulah yang Yoongi rasakan.
Lisan berkata bahwa, ia selalu menyadarkan dirinya sendiri jika ini adalah takdir. Dan jika takdir itu memang bukan untuk wanita pujaannya, itu berarti ada sesuatu yang tak kalah baiknya dari apa yang ia harapkan.
Namun hati berkata bahwa, ia tidak perlu susah-susah melupakan wanita itu. Toh, mereka juga akan sering bertemu nantinya, dan itu adalah suatu penghambat bagi Yoongi untuk melupakan istri dari adiknya.
"Dan, aku menyadari hal itu juga.."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.