∆∆∆
Happy Reading..
Adrian memasuki pekarangan rumah dengan mobil yang di bawanya, hari ini memang pulang malam tapi tidak selarut itu.
Ia pun turun dan memasuki rumahnya setelah memarkirkan mobilnya, tak sengaja melihat bi sum yang berada di dapur yang sedang berbenah dengan piring-piring kotor.
"El di mana bi?" Tanya Adrian.
"Loh tuan Adrian sudah pulang ya, mau makan dulu biar bibi siapkan, tuan muda Elvino tadi bersama nyonya tuan mungkin di kamar tuan muda Elvino"
Adrian mengangguk mendengar penjelasan dari bi sum.
"Tuan Adrian mau makan, biar bibi siapkan"
Adrian menggeleng "saya sudah makan tadi bi"
"Kalau begitu bibi lanjut mencuci piring dulu ya tuan"
Adrian mengangguk, ia pun pergi dari sana menuju kamar Elvino, ia ingin melihat apa yang di lakukan anaknya di dalam kamar.
Saat sampai di depan pintu kamar anaknya Adrian pun membuka pintu secara perlahan dan dilihatnya Elvino dan juga kiara tengah tertidur di atas ranjang dengan posisi kiara memeluk Elvino. Cepat sekali mereka tertidur.
Adrian berjalan menghampiri mereka melihat dari dekat dan mengusap surai hitam milik anaknya. Setelahnya ia beralih kepada seseorang di sebelah anaknya, Kiara.
Diperhatikannya kiara, Adrian tersenyum tipis, tangannya bergerak ingin merapikan helai rambut yang menutupi wajah kiara.
Adrian kembali memperhatikan kiara dalam dan menelisik tak sengaja matanya menangkap pergelangan tangan kiara yang sedikit membengkak serta membiru. Ia menggeram tertahan, siapa yang sudah berani menyakiti kiara.
Adrian mencoba menyentuh pergelangan tangan kiara dan itu membuat sang empu meringis.
Kiara yang merasa terganggu apalagi dengan pergelangan tangannya yang tiba-tiba berdenyut, ia segera membuka matanya. Dan melihat sosok wajah Adrian yang sangat dekat dengannya.
"Mas Adrian"
"Siapa?"
"Hah" Kiara bingung dan terheran, siapa apanya coba? Kenapa pula suaminya ini.
"Siapa yang sudah membuat lenganmu terluka?"
Oh jadi masalah tangannya ini. Kiara mengernyit kenapa Adrian terlihat sedang menahan sesuatu begitu apakah Adrian marah, tapi kenapa?
"Siapa kiara!" Suara Adrian naik satu oktaf dan itu membuat kiara tersentak. Dan Elvino tentu saja terbangun mendengar suara Adrian yang meninggi itu.
Kiara bergetar ketakutan, kenapa Adrian jadi membentaknya.
"I-ini bukan siapa-siapa mas" ucap kiara menunduk.
Adrian yang menyadari bahwa kiara tengah ketakutan padanya, ia pun menghela nafas. Apakah ia terlalu berlebihan?
"Papa kenapa marahin mama!" Ucap Elvino yang tadinya terbangun. Elvino segera memeluk kiara dan menatap Adrian tajam.
"Papa tidak marah Elvino" Ucap Adrian
"Tapi papa meneriaki mama!"
"Hei sayang nggak boleh seperti itu, jangan berteriak kepada orang yang lebih tua apalagi sama papa" Ucap kiara memberi pengertian pada Elvino dan menenangkan anak itu dengan usapan lembut pada lengannya.
"Papa hanya tidak sengaja, bukan berarti papa marah sama mama" lanjutnya.
Elvino hanya mengangguk "maaf papa" sesalnya. Adrian mengangguk.
Adrian melihat itu, bagaimana kiara mencoba menjelaskan pada anaknya dengan memberi pengertian agar Elvino tidak salah paham, dan menegur anak itu agar lebih sopan dengan yang orang-orang yang lebih tua darinya.
"Maafkan saya"
Kiara mendongak matanya bertemu dengan tatapan Adrian dan mencoba meminta penjelasan kenapa tiba-tiba Adrian meminta maaf, ah bukan lebih tepatnya kenapa Adrian peduli untuk meminta maaf.
"Ah nggak papa kok mas" ucap kiara sambil memalingkan wajah menatap Elvino, perasaannya mulai tenang sekarang dan suasana tidak semenakutkan tadi, kiara lebih rileks.
"Sudah di beri obat?" Tanya Adrian sambil melirik ke arah pergelangan tangan kiara yang membengkak.
"Sudah mas, tadi sudah disalepin di bantu bi sum"
"Ya sudah lanjutkan tidur kalian saya ke kamar dulu" Ucap Adrian yang di angguki oleh Kiara.
"Papa nggak tidur disini sama El sama mama juga?" Tanya anak itu polos.
Kiara mendadak gugup mendengar pertanyaan polos dari Elvino "papa tidur di kamarnya dong sayang, lagian kasur kamu sempit begini tidak cukup untuk tidur bertiga, lihat kita berdua saja sudah memenuhi kasur ini" Elvino mengangguk, iya juga karena kasur Elvino memang kasur yang tidak terlalu besar untuk menampung banyak orang.
Adrian lagi-lagi tersenyum tipis mendengar penuturan kiara. Ada aja alasan Kiara untuk menghindar.
Adrian pun kembali pamit dan keluar dari kamar Elvino, ia memasuki kamarnya dan segera membersihkan tubuhnya yang sudah bau keringat sedari tadi.
∆∆∆
Sudah 2 Minggu Amora hidup sebagai kiara, Elvino memang semakin lengket dengannya begitu juga dengan para pelayan di rumah mereka senang melihat perubahan yang terjadi pada nyonya mereka.
Hubungan antara dirinya dan juga Adrian pun begitu-begitu saja, Adrian yang kadang selalu memaksa dan kiara yang selalu menuruti perintah Adrian.
Seperti biasa sudah tiga hari ini Adrian selalu pulang larut malam di karenakan pekerjaannya yang menumpuk dan tidak bisa ditinggalkan biasanya ia akan pergi di pagi buta dan pulang tengah malam. Itu membuat Adrian dan juga kiara jarang bertemu selama tiga hari ini.
Malam ini pukul 01.00 kiara terbangun dari tidurnya ia tiba-tiba merasa tenggorokkannya kering dan ia butuh air saat ini.
Kiara memutuskan keluar dan menuju dapur untuk segera melepas dahaga nya.
Sesaat setelah ia akan kembali lagi ke kamarnya di lantai atas yang tentunya melewati ruang tv yang terdapat sofa di sana. Walaupun lampu di matikan ia masih dapat melihat jelas bahwa ada seseorang yang terbaring berselonjor pada sofa itu. Kiara mencoba mendekat.
Ia tersentak melihat pemandangan di depannya yang memperlihatkan Adrian masih dengan setelan jaz kerja yang di pakainya.
"Mas Adrian" panggil kiara dengan khawatir, bagaimana tidak di depannya Adrian memejamkan matanya sambil bergumam entah apa itu peluh keringat ikut serta membasahi dahi Adrian.
Kiara menempelkan telapak tangannya di dahi Adrian, dan benar saja dugaannya Adrian tengah demam sekarang.
"Mas! Mas Adrian bisa denger aku?" Tanya kiara sambil membangunkan Adrian dengan cara menepuk bahu pelan.
"Engghh" lenguhan Adrian terdengar.
"Kiara"
Adrian sangat ingin membuka matanya tapi terlalu berat dan pusing masih sangat mendominasi kepalanya saat ini.
"Kiara kepala saya pusing sekali" Adunya pada kiara masih dengan mata tertutup.
Kiara semakin khawatir mendengar penuturan Adrian, sepertinya ia harus membawa Adrian ke kamar dahulu karena pasti badan Adrian akan semakin tidak enak jika berbaring di sofa seperti ini.
Tapi masalahnya, bagaimana cara ia membawa Adrian ke kamar sedangkan ia tidak akan kuat menopang tubuh Adrian yang begitu kekar ini.
Ah sepertinya ia harus mengganggu waktu tidur pak jojo kali ini, iya dia harus meminta pak jojo untuk membantunya.
"Mas Adrian tunggu sebentar ya aku akan meminta bantuan pak jojo dulu" entah Adrian mendengarnya atau tidak kiara langsung melenggang pergi dari sana dengan cepat ia menghampiri kamar dari sang supir.
TBC

KAMU SEDANG MEMBACA
Suddenly Become a Wife
Fantasy[FOLLOW DULU SEBELUM BACA] Apakah kalian percaya dengan transmigrasi? Tapi itulah yang di alami oleh Amora saat ini. Ketika ia tertabrak oleh mobil dan terbangun dengan keadaan dan tempat yang berbeda. Amora pikir ia hanya bermimpi, nyatanya inilah...