Hari ini gw dan ka Bagas ada rencana buat pergi ke pantai tapi semuanya gagal saat ka Bagas dapet sekretarisnya kalo dia ada meeting yang sangat penting dan ga bisa diundur sehari aja.
"Yah ga jadi deh berduaan" kata ka Bagas mengawali pembicaraan setelah mematikan hpnya.
"Emang kenapa ka? " tanya gw penasaran.
"Soalnya kakak ada meeting dadakan" jawabnya lesu.
Gw sih ga masalah dengan itu, toh juga ini masalah kerjaan. Ka Bagas aja yang kayaknya melebih lebihkan ekspresinya.
"Gapapa kok kak ga jadi ke pantainya,kan bisa lain waktu" ucap gw berusaha membuat ka Bagas tersenyum.
"Tapi kan? Jatah? " muka ka Bagas masih terlihat cemberut. Iya dia emang umur 22 sih tapi kadang ya kayak gini, kayak bocil.
" Yaudah nanti dikasih, tapi mukanya biasa aja dong!" gw sedikit ngeledek dia.
"Bener ya? " tanyanya antusias.
"Idihhhh masalah jatah semangat banget ya"
" Iya dong" ka Bagas cekikikan.
****
Gw masuk kedalam kamar setelah mobil ka Bagas berlalu. Hari ini libur jadi gw dengan leluasa rebahan dan baca wattpad.
Satu persatu chapter cerita terus terus gw baca dan tak terasa jam udah nunjukin jam 12 siang saat ingin beranjak dari kasur hp gw tiba tiba bergetar.
"Ka Bagas kenapa telefon? " gumam gw.
Gw dengan cepat mengangkat telefon itu, suara wanita paruh bawa terdengar sedetik kemudian dia terdengar sedang menangis tersedu sedu.
"Halo?"
"Halo fan, kamu dimana?" tanya perempuan itu.
"Aku dirumah, tante siapa ya? "
" Ini mamanya Bagas"
Jantung gw tiba tiba berdebar kencang, calon mertua telefon pasti ada yang ga beres nih.
"Tante kenapa nangis?" heran gw.
"Fan! Ba-Bagas kecelakaan! "
Hah kecelakaan? Gw tersentak kaget, mata gw yang tadinya terang benderang kini terasa diperasi seember bawang.
"Trus sekarang ka Bagas dimana tan? " dengan air mata yang terus menetes dan ingus yang lancar gw bertanya.
"Sekarang dia lagi dirawat di rumah sakit Permata" jawabnya sambil terus menangis.
"Aku kesana sekarang tan"
Gw memutuskan telefon itu sepihak, dengan pakaian yang masih seadanya gw ambil jaket dan tas dan tak lupa memesan ojek online untuk pergi ke rumah sakit.
"Kemana fan? Kok nangis? " tanya mama heran.
Gw langsung memeluknya seakan kaki gw tak bertulang, gw lemas. Air mata terus menetes sampai membasahi baju mama.
" Ma ka Bagas kecelakaan" kata gw disela tangisan gw.
"Hah? Kok bisa? "
"Ga tau" gw kembali terisak.
Gw berusaha berhenti menangis dan melepas pelukan itu. Mama tampak terkejut dengan semua ini.
"Ma aku harus ke rumah sakit sekarang"
"Iya hati hati" suara mama terdengar samar.
***
Untunglah ojek online yang pesan gw cepat datang. Kini diatas jok motor gw menangis pilu memikirkan keadaan ka Bagas di rumah sakit. Dia terus mengalir dari mulut gw.
Ya Tuhan hamba tau engkau tak menyukai hubungan kami ini, tapi hamba mohon berilah keselamat untuk ka Bahas jangan biarkan terjadi apa apa padanya. Batin gw.
Entah berapa kata dalan doa yang sudah gw ucapkan, hingga akhirnya gw sampai di rumah sakit tempat ka Bagas dirawat. Tak lupa gw bayar ojol itu dan bergegas meninggalkannya, seharusnya masih ada uang kembalian gw lagi 1000 tapi bodoamatlah yang terpenting adalah ka Bagas.
"Sus pasien atas nama Bagas Kartawijana ada di ruangan berapa ya?" tanya gw pada salah seorang suster di tempat resepsionis.
"Tunggu sebentar ya mas" suster itu memeriksa komputernya. "Pasien atas nama Bagas Kartawijana sedang ada di UGD mas" lanjut suster itu.
"UGD dimana ya sus?"
"Belok aja dari sini nanti ke kanan" suster itu menginstruksikan.
"Makasih sus" ujar gw sedetik kemudian gw langsung berlari menuju tempat itu.
Tulisan UGD terpampang jelas diatas ruangan didepan gw sekarang berdiri, tampak seorang wanita yang sedang menangis dan laki laki disampingnya berusaha menenangkannya.
"Om tan" ujar gw pada orang tua ka Bagas. Air mata tak lagi bisa gw bendung .
"Fan! Bagas fan Bagas" ucap tante Bila disela tangisannya.
Suaminya, om Ersa. Tampak terus berusaha menenangkan istrinya yang tegah terisak itu.
Kaki gw kembali lemas, rasanya hati gw tertusuk banyak jarum. Isakan tangis tak henti henti namun karena gw ga mau bikin tante Bila tambah sedih jadi dengan sekuat tenaga gw tahan tangisan ini tapi kegelisahan sama sekali tak bisa disamarkan lagi.
Dengan tatapan kosong gw duduk di kursi di depan ruang UGD sambil menunggu kabar dari dokter yang menangani ka Bagas.
Hampir satu jam gw menunggu, seorang dokter berjas putih keluar dari ruangan dingin itu.
Orang tua ka Bagas dengan cepat menghampiri dokter itu begitupun juga gw, semoga semuanya akan baik baik aja.
"Dok gimana anak saya? " tanya tante Bila.
"Untung anak ibuk cepat dibawa kesini, sekarang dia baik baik saja hanya saja tangannya patah jadi butuh waktu penyembuhan yang lebih lama" jelas dokter itu panjang lebar.
"Pahh anak kita" tante Bila kembali menangis mendengar keadaan anaknya.
"Jadi apa boleh sekarang saya lihat anak saya dok? " kali ini om Ersa membuka suara.
" Maaf pak belum bisa, tapi tanti saat sudah dipindahkan ke ruangan perawatan baru boleh "
"Baik dok"
Hai guys!!!!
Maaf lama up, ada kerjaan soalnya
Tapi sekarang bakal sering sering up, soalnya author mau selesaikan cerita ini sebelum PAS. Jadi ikutin terus yaaaaa.
Baybay 👋👋👋💛
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Milik Bagas [TAMAT]
Roman pour AdolescentsHai! Gw Irvan anak SMA yang secara ga sengaja ketemu dengan seorang lelaki bernama Bagas yang merupakan seorang manager. Wira: gw cinta sama lo fan Gw: gw ga bisa wir, gw udah punya pacar dan gw ga bisa nghianatin pacar gw. Wira: apa kurangny...
![Aku Milik Bagas [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/282044509-64-k977031.jpg)