kecelakaan

11 1 0
                                    

Kaki jenjang dua insan itu terlihat sibuk didepan ruang operasi. Mulutnya juga tidak berhenti merapalkan doa.

2 jam lalu, pihak rumah sakit menelfon ke ponsel Zidan, mengatakan bahwa mereka harus sesegera mungkin kesana. Dirumah tidak ada siapa-siapa, kecuali bibi dan pak Bagas. Tadinya Zidan mau langsung pergi, tetapi malah bertemu kembarannya di depan pintu rumah.

Raut mukanya terlihat panik. Beberapa tetes keringat bahkan mengalir di wajahnya.

"Mau kemana?"

Lima detik, sepuluh detik. Zidan masih tidak menjawab. Tangannya secepat kilat merenggut kunci mobil.

"ZE BALIKIN! GUE AJA YANG BAWA" teriak Zidan.

Gadis itu hanya melongos pergi, tidak memperdulikan apa yang didengarnya.

"Rumah sakit mana?"

"Medika Taruma"

20 tahun hidup bersama membuat mereka bisa saling mengerti tanpa perlu bicara. Melihat ekspresi dan tingkah laku Zidan membuat dia juga mengerti pasti laki-laki itu sedang dalam kesulitan.



"Sus pasien yang baru kecelakaan"

"Maaf mas siapanya ya?"

"Keluarganya" 

Zeata menengok, siapa yang kecelakaan?papa?mama?atau Kenan? Hatinya menjadi tidak tenang sekarang.

"Silahkan ke ugd mas"

Kakinya langsung berlari ke arah ugd. Entah apa isi otaknya sekarang. Yang diketahuinya adalah dia harus secepatnya melihat keadaan orang itu.

Ayo gais tebak dulu siapa yang kecelakaan.














"ZIDAN JAWAB GUE! SIAPA YANG KECELAKAAN ANJING"

"Azka" Lega, cuma itu yang ada di perasaanya sekarang. Setidaknya bukan keluarganya. Tapi pasti Zidan panik setengah mati. Azka itu sudah seperti saudaranya sendiri, bahkan kembaran karena mereka seumuran.

Kakinya benar-benar tidak berhenti bergerak didepan UGD, tidak untuk sedetikpun. Bahkan pantatnya belum menempel ke kursi sejak mereka datang. Tapi sepertinya dokter datang di waktu yang tepat.

"Dok gimana temen saya"

Pria berjubah putih itu memindai lorong sekitar, berusaha mencari keluarga pasien. Tidak mungkin dia akan menjelaskan keadaan pasien kepada yang bukan keluarganya. 

"Dia ga punya keluarga dok, cuma saya keluarga sekaligus temennya" tegas Zidan. 

"Baiklah, silahkan ikut saya ke ruangan dulu" Dua orang itu berjalan berdampingan. Hanya Zidan dan Dokter yang berbicara, Zeata disuruh untuk menjenguk Azka kedalam. 

"Kalau saya boleh tau, pasien atas nama siapa?" 

"Azka Yesaya, dok"

Dokter itu menarik nafas panjang sebelum menjelaskan bagaimana kondisi pasien yang baru saja ditanganinya. Menunjukkan file yang berisi hasil rontgen dan juga beberapa file pendukung lain. Menjelaskan secara detail, sedetail mungkin karena kondisi Azka cukup parah. Mulai dari bocor kepala sampai patah tulang.

Zidan benar-benar tidak habis pikir, 5 tahun lebih mengenal Azka, yang dia tahu temannya yang satu itu paling jarang sakit. Jangankan sakit berat, batuk ringan saja belum tentu akan terjadi setahun sekali. Kekebalan tubuhnya memang sangat tinggi. Meskipun tinggal sendiri, Azka selalu berusaha sebaik mungkin untuk menjaga kesehatan tubuhnya. Karena yang ada kalau dia makan sembarangan dan membuat tubuhnya terlalu lelah, yang nantinya berakhir jatuh sakit. Bukannya dia sendiri juga yang akan repot? Tapi sekarang dia malah berakhir di rumah sakit

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 07, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

our lifeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang