Kira-kira dua minggu setelah ibu pulang dari rumah sakit, kawan-kawanku datang ke rumah. Rini, Kristina, Nunuk, Pi’anan, dan Rizal ke sini bersama-sama. Meski sudah kukatakan untuk tidak perlu membawa apa-apa, mereka tetap bersikeras membawa buah-buahan. Mereka anak-anak yang bandel dan sangat perhatian. Ketika aku izin dan harus merawat Ibu dan Ayah, Rini selalu mengirimiku surat. Aku sangat berterima kasih atas tulisan bersejarah itu.
Usai mereka menjenguk Ibu di kamar dan Ayah di taman belakang, kami berbincang di ruang tamu, berbicara apa saja tentang yang kami tahu. Tidak terasa, kami sudah akan melewati kelas sepuluh. Kemungkinan besar tidak ada acakan kelas sebab kakak kelas kami juga begitu. Dan kabar yang entah baik atau buruk kudapat dari kawan-kawan, anggota olimpiade matematika di sekolah telah dirombak ulang.
Aku dikeluarkan.
“Kau tak apa, Ryn?” Nunuk mencemaskanku, dan begitu pula yang lain.
“Tidak apa-apa, lagipula kalau aku terus bergabung nanti akan merepotkan tim,” kujawab.
Dan, ya, pembaca, setelah tidak mengalami peningkatan belajar untuk olimpiade karena harus merawat orang tuaku akhir-akhir ini, aku harus mundur. Sebab nanti akan menjadi beban untukku dan kawan-kawan. Sekarang kami sudah akan kelas sebelas, jadi aku hanya akan fokus kepada ujian kenaikan kelas saja. Aku sudah tak bisa berpikir apa-apa selain kesehatan orang tuaku dan itu membuat prestasiku menurun. Dan tidak apa-apa. Ini bagian dari jalan yang harus aku lalui.
Pukul 11 di Minggu siang, kawan-kawan pulang. Meski mereka selalu ada untukku, aku menyadari satu hal yang begitu membelenggu. Ibu harus istirahat total di rumah dan Ayah justru tak lagi sama. Di dalam sakitnya, Ayah sering marah-marah padaku. Aku akan mencoba memahami dari sudut pandangnya sebab mungkin ia kehilangan satu kebiasaan yang berbeda, dan aku pula begitu. Ayah mungkin merasa terancam akan kehidupannya dan takut kehilangan, takut kehilangan ibu dan juga aku. Ayah mungkin merasa kesepian sebab candaan kami tak lagi sama, sekali membuat suara yang tak semestinya, Ibu akan kambuh dan kami akan sangat cemas sejadinya. Ayah mungkin merasa dunianya tinggal separuh meski aku dan ibu masih ada di sini tapi sudah tak lagi sama.
Maafkan aku, Ayah.
-
Pukul empat sore Waktu Indonesia Barat. Matahari terik sekali. Sungguh amat riuh orang-orang mendirikan tenda, sedang kelompokku telah selesai. Acara kemah sekabupaten ini dihadiri oleh anak-anak SD sampai dengan SMA yang diwakili oleh dua tim dari setiap sekolah, tim perempuan dan tim laki-laki.
Usai diputar musik-musik kepramukaan, terdengar lagu-lagu Nike Ardilla diputar dari posko. Lagu-lagu yang biasa kuputar bersama kawan-kawan dengan radio Ayah di rumah. Dengannya aku jadi ingat Ayah dan Ibu. Sekarang Ayah telah mulai bekerja lagi, sedang Ibu dirawat di rumah oleh Bi Sri, bibiku yang rumahnya tak jauh dari rumah. Bi Sri tidak selalu ke rumah, hanya ketika ibu memerlukan bantuan memasak dan menyiapkan lain-lain saja, sebab sepertinya keadaan Ibu sudah cukup membaik.
Aku telah kelas sebelas sekarang, tahun 1997. Karena aku sangat menyukai Nike Ardilla dan Poppy Mercuri, aku sangat ingat dua tahun lalu, tahun 1995, tentang meninggalnya Nike Ardilla pada 19 Maret 1995. Waktu itu rasanya seperti dunia hanya berfokus padanya dan seluruh media memberitakan kepergiannya. Aku sendiri sebagai penggemar merasa terpukul. Namun, meski ia sudah tiada, sampai saat ini masih muncul kaset-kasetnya dengan cover terbaru dan laris terjual. Aku kagum.
“Ryn, udah?” Kristina dan Nunuk memanggil dari luar tenda.
Ya, aku sedang membereskan barang bawaanku dari rumah yang tak seberapa banyak. Dan hari sudah menuju petang. Aku bergegas ke arah mereka.
Upacara pembukaan resmi akan diadakan besok pagi pukul tujuh, sedang malam ini kami tidak memiliki kegiatan apa-apa yang sungguh. Sekarang kami pun sedang menuju tenda anak laki-laki di sisi barisan tenda sebelah untuk mengambil barang-barang yang dititipkan mereka seperti kompor dan sebagainya. Kami akan mempersiapkan untuk hari-hari selanjutnya.
Dari kawan-kawan dekatku di kelas, hanya Rini yang tidak ikut. Pi’anan dan Rizal bahkan sudah rebahan di dalam tenda. Sedang Diksa sibuk menali ujung tali tenda dengan bambu yang digunakan sebagai pengait tali dengan tanah.
“Ryn,” Diksa menyapa sambil masih sibuk dengan apa yang ia lakukan bersama beberapa kawan lain.
“Mau ambil kompor,” kataku. Sambil menunjuk tumpukan benda yang belum dibereskan oleh anak laki-laki.
“Oh?” dia segera beralih. “Biar kubawakan.” dan diambilnya satu dari dua kompor menujuku.
“Aku akan bawa beberapa kayu bakar saja, kalau begitu.” Ucap Kristina. Dan Nunuk mengikuti apa yang mau dilakukan.
“Jangan,” Diksa melarang. “Anak perempuan bawa karpet saja, nanti akan diantar oleh yang lain,” ia tersenyum, menjadikan Nunuk dan Kristina beralih aktivitas.
“Makasih,” ucapku padanya. Yang kemudian berlalu, diikuti beberapa anak laki-laki yang membawakan kayu.
Sebelum balik ke tenda dan membawa karpet, aku melihat Pi’anan dan Rizal sudah terpejam matanya, menidurkan diri. Aku terkekeh begitu memandang mereka berdua. Bisa-bisanya meninggalkan kawan-kawannya tidur begitu.
“Enak banget punya pacar perhatian, Ryn.” mendadak ada yang menyambung percakapan. Dia Prawito. Prawito BL, ketua kelompok laki-laki. Sedangkan yang perempuan dipimpin oleh Ariwidita.
Aku menoleh kepadanya. “Kau mau merebutnya?” balasku sambil setengah tawa.
Dia ikut tertawa pula. “Kalau mau merebut, aku maunya merebutmu.”
Haris, cowok paling humoris di angkatan kami rupanya menyimak pembicaraan. “Duh, Diksa punya ancaman,” dan dia melanjutkan mengokohkan tenda.
“Bukan, bukan. Hanya ingin bilang saja,” tukas Prawito. Dia mendekat ke arahku sambil memberikan kertas yang entah bertuliskan apa, ia terbungkus amplop cokelat kecil. “Bertemu denganku di sendang, mau?” dia menawari ajakan yang tak kutahu apa maksudnya. Dia nampak mencurigakan apalagi ucapnya sambil berbisik.
Mengernyit dahiku. “Apa maksudmu?”
Dia kembali berbicara dengan normal. “Tidak, hanya sedang ingin memberitahukan kebenaran saja.”
“Kebenaran tentang?”
“Engkau. Dan pacarmu.”
“Urusan apa engkau dengan aku dan dia?”
“Sudah,” dia mendekat lagi, “temui saja diriku pukul enam.” dan ia berlalu. Selagi itu aku mendapati Diksa berjalan ke arah kami yang tidak jauh.
Gelagat Prawito agak tak menyenangkan. Menaruh curiga aku kepada dirinya. Lagipula, siapa mau percaya pada orang lain yang nampak mengancam pacar kita sendiri?
✨
