Jalan aspal depan sekolah tidak terlalu panas sekalipun sudah pukul satu siang. Aku tak sedang bersama siapa-siapa kecuali membawa tas milik Diksa yang masih denganku dan berada di keranjang depan sepeda, yang kemudian dihampiri oleh Rizal. “Kenapa sepeda mu, Ryn?” dia bertanya usai menyeberang jalan dari gerbang sekolah.
“Mau ke Pak Sem. Ban sepeda sepertinya bocor,” aku melihat dia kawatir akan aku.
“Sendiri? Mau kutemani?”
Aku menggeleng. Sekalipun iya, dia pasti sebentar lagi akan dijemput oleh ibunya. Aku memilih menolak.
Oh, iya, pembaca. Aku memang biasa pergi ke sekolah dengan sepeda. Sepeda ontel biasa tapi modelnya sejenis Sparta, yaitu perusahaan yang memproduksi sepeda terbesar di Belanda tahun 1970an. Dulu, sepeda yang sering kunaiki ini disebut E bikes, sekarang tak tahu apa namanya. Mungkin engkau yang bisa membayang, tahu bagaimana sepedaku.
Sepeda Sparta didesain tidak terlalu rumit. Kedua rodanya sama besar, antara sedel dan bagian depan didesain melengkung. Rantai sepeda tertutup sehingga ketika mengayuh, kaos kaki tidak akan terkena oli yang masih basah. Juga, tidak terlalu tinggi sehingga aku bisa menaikinya dengan leluasa.
Tidak tahu mengapa tiba-tiba bocor. Dan seperti yang sudah kuduga, Rizal dijemput oleh ibunya dan pulang.
Aku tak keberatan menjadi sendiri. Kristina dan yang lain juga sedang dipanggil Bu Mia untuk membantu merapikan buku di perpustakaan yang tidak terlalu besar. Dan memang kami sering melakukannya untuk membantu pengurus perpustakaan yang sendirian.
Tambal ban Pak Sem, aku biasanya ke sana ketika ban sepedaku sedang bocor. Terlepas dari searah menuju pulang, di tempat Pak Sem terasa sangat nyaman karena beliau sangat ramah. Usianya mungkin sekitar 60 tahun tetapi masih kuat untuk melakukan pekerjaan semacam menambal ban.
Tas milik Diksa kutaruh di keranjang depan dan membawanya sambil aku menuntun sepeda. Tak ada siapa-siapa yang kukenal sepanjang pulang, selain kawan-kawan jauh yang berseragam sama yang menuju rumah-rumahnya. Ternyata memang panas juga kalau jalan kaki sendiri begini. Tak ada yang bisa diajak bicara. Sepedaku melaju pelan beriring dengan langkah kaki. Sambil kadang kulihat depan, kadang kulihat langkah kakiku. Sepatu yang biasa kupakai rasanya sudah usang, ingin segera menggantinya dengan yang baru.
Tempat tambal ban Pak Sem mungkin sekitar 100 meter lagi. Aku mempercepat langkah dan menujunya.
Ya, sebab ingin segera duduk.
“Nak, Aryn, kenapa?” Pak Sem menyapa sesaat setelah aku sampai. Aku tersenyum kepadanya, memberhentikan sepeda dan menaruh tas di kursi tunggu di sudut toko, kemudian mendekat ke arah Pak Sem.
“Ban-nya bocor, Pak Sem. Tak tahu kenapa, sudah begini semenjak pulang dari parkiran sekolah,” aku menjelaskan.
Pak Sem segera mengambil alatnya, berupa bak berisi air dan pompa untuk mengecek ban sepedaku apakah benar-benar bocor. Aku diminta menjauh dan menurutinya, memilih duduk di tempat biasa menunggu.
“Nak Aryn membawa dua tas, ada acara apa?” Tanya Pak Sem begitu tahu ada tas lain di keranjang sepeda.
Aku menggeleng, “Milik teman, Pak.”
“Macam tas laki-laki,” ujarnya, dan lalu aku hanya tersenyum.
Meski tak terlalu lama Pak Sem menambal ban, aku mulai mengantuk. Kurang lebih sudah memejamkan mata beberapa menit, yang kemudian dikagetkan oleh suara deru motor yang terdengar tidak asing.
“Diksa?” aku menjadi begitu segar setelah mendapatinya ada di tempat aku berada.
“Terima kasih,” ucapnya setelah memarkir motor tidak jauh dari sini. Dia mendekat ke arahku, ikut menunggu setelah mengambil tas yang ada di keranjang sepedaku dengan permisi.
Pak Sem tersenyum ke arah kami berdua. Entah apa yang sedang beliau pikirkan.
“Bagaimana tahu aku di sini?” kutanya Diksa.
“Aku melihat sepeda mu di sini, jadi aku berhenti.” Jelasnya.
Diksa memberiku capri-sonne orange, minuman yang biasa dibeli kawan-kawan pula di Bu Imung. Aku menerimanya dan berterimakasih. Hari-hari bulan November tahun ini memang cukup panas.
“Bagaimana Idhang?” aku memulai perbincangan, lagi.
“Sudah baik-baik saja,”
“Oh?” raut wajahku bagai menanyakan seperti apa ceritanya, dan dia paham.
“Dia dan kawan-kawannya punya tempat persembunyian. Dia tak kena, tapi ada satu kawannya yang tertangkap. Mungkin besok-besok dia sudah tidak berangkat lagi. Sudah sangat bahaya,”
“Tempat persembuyian?”
“Iya, semacam gubuk di tengah sawah. Kayunya ditinggal, tak dapat kayu tak apa. Dia lari, sesampainya keluar hutan dia nyamar jadi petani sama kawan-kawan yang lain.”
“Wah,” aku terheran. “Tapi bukannya Idhang sudah bekerja denganmu di tempat meubeul milik Bang Minar?”
“Memang. Tapi sepertinya tak cukup untuk kebutuhan sekeluarga. Aku dan kawan-kawan sering memberinya bantuan, tapi ya begitu, ia tak selalu mau menerima,”
Aku paham. Diksa sudah tidak melanjutkan ceritanya. Dan kami terdiam berdua. Biasanya ia tak bisa membiarkan suasana jadi hening begini. Tetapi mungkin ia sedang lelah. Atau mungkin ia sedang ada masalah. Aku tak mau sok tahu dan ikut campur lebih dalam atas dirinya.
Pak Sem yang sedari sibuk mengurus sepedaku akhirnya mengambil jarak darinya, mengatakan pada kami bahwa sudah selesai. Dan dia, Diksa, mengantarku pulang dengan menyamai laju sepedaku yang pelan.
Setengah jam sudah terlalu lambat untuk bersepeda sepanjang lima kilometer, tetapi sampai di depan rumahku pun ia tetap ada di belakang tanpa kemana-mana. Engkau tak harus sebegitunya, Diksa.
“Mulai besok, kuantar jemput, ya, Ryn!” ujarnya meminta serasa menuntut.
Aku memarkir sepeda ku di samping pekarangan, sedang Diksa tak ikut masuk ke dalam, tetap berada di pinggir jalan sembari masih di atas motor besarnya. Kudekati ia tanpa menaruh tas dulu. Mungkin, ia sedang terburu pulang.
“Mau?” dia masih menawariku atas pertanyaannya yang tadi.
Diam sebentar, aku, sejurus menatap matanya, apakah serius atau basa-basi. “Nggak perlu,” ucapku, dan dia langsung menoleh, menautkan alis bertanya kenapa.
“Kawan-kawan biasanya juga naik sepeda,”
“Tapi aku mau mengantar jemputmu?” nadanya memaksa, tapi terasa nyaman. Aku diam. Lanjutnya, “Kalau engkau tak mau selamanya, boleh mencoba untuk besok atau lusa,” tawarnya lagi. Dan hatiku bertanya-tanya mengapa begitu?
“Ryn,” panggilnya karena aku terlalu lama untuk memutuskan.
“Oh? Iya, tak apa. Aku akan bilang Ayah,” jawabku. Maksudnya, aku akan bilang pada Ayah kalau mulai besok, aku akan pergi ke sekolah bersama Diksa.
Laki-laki dengan seragam lusuh itu sumringah. “Besok kelasmu kebagian berangkat siang, kah?” tanyanya kemudian.
Aku mengangguk. Dan, ya, pembaca, di sekolahku ketika hari tertentu ada kelas yang tidak dapat ruangan sehingga harus berangkat siang untuk mengikuti pelajaran. Sesuatu yang mungkin tidak ada di hari ini sebab tentu saja fasilitas di hari itu sangat terbatas. Tetapi meskipun begitu, semua tetap akan baik-baik.
“Besok siang aku ke rumahmu,” dia tersenyum. “Ryn, aku harus pulang. Terima kasih untuk ini,” lanjutnya sambil mengedikkan kepala ke arah tasnya yang ada di belakang punggung.
“Dah.” Aku melambaikan tangan sebentar untuknya. Dan aku menyadari bahwa aku sudah sedikit lebih hangat kepada dirinya. Meski masih tak banyak bicara, tapi aku bisa lebih apa-adanya.
“Istirahatlah, Tuan Putri!” begitu katanya yang kemudian berlalu, menyisakan ketertegunanku atas kata-kata yang dipilihnya untuk berbincang denganku, menyebut diriku.
Lancang sekaligus memesona.
👒
