Tersedia PDF
.
Hey, jantung ... kenapa kau selalu berdetak kencang ketika melihatnya, huh?
Apakah pemilikmu yang sebelumnya ... begitu mencintainya?
Start : 10 januari 2022
End : 28 maret 2022
Rank :
🥇#1 in friendzone, 15 maret 2022
🥇#1 in directo...
Setelah berkali-kali bertanya pada diri sendiri, bertanya pada lubuk hati paling dalam yang dia miliki, pada akhirnya Naru membulatkan tekadnya untuk menemui Nata, untuk mengakui perasaannya. Benar apa kata Kiba, dia akan menyesal jika sampai ada lelaki lain yang mendahuluinya untuk memiliki gadis itu. Sungguh, dia tidak akan pernah rela.
Naru tidak tahu kapan persisnya, namun rasa sayang sebagai adik itu memang sudah musnah, hilang sampai nyaris tidak bersisa. Yang ada hanyalah rasa cinta, sebuah rasa ingin memiliki dari seorang pria terhadap wanita.
Sambil mengemudi, senyuman pria itu mengurva ketika memeriksa arloji di pergelangan tangan kirinya. Jarum pendek belum menyentuh angka empat sore, dia masih punya kesempatan untuk menjemput gadis itu pulang sekolah. Semoga nasib baik menyertainya hari ini. Dia sudah tidak sanggup lagi menahan perasaan yang dia punya lebih lama lagi.
Ketika pintu gerbang SMA Kanto terbuka lebar di depan sana, para siswa dan siswi terlihat berhambur keluar. Naru memutar stir bundarnya, menepikan mobil yang dia kendarai kemudian menghentikannya di sisi trotoar. Tak perlu berpikir terlalu lama, pria itu segera keluar dari alat transportasi roda empatnya, menanti kehadiran sosok gadis manis yang telah sukses membuat dirinya nyaris gila.
Dan ketika sosok yang dia tunggu sudah mampu tertangkap tatapan mata, Naru segera berlari menghampiri lalu menangkap pergelangan tangannya. Dia tahu jika Nata akan menghindar setelah kejadian malam itu, makanya dia ingin menjelaskan semuanya sekarang.
"Nat ... bisa kita bicara?" Ada nada sarat akan permohonan di balik getar suara maskulinnya.
Nyatanya perkiraan Naru memang benar, gadis manis itu terlihat terkejut ketika menatap wajahnya. Sepertinya Nata tidak menyadari kehadiran Naru sebelumnya. Nata memang sering melamun akhir-akhir ini.
"M-maaf, Kak ... Nata ada les tambahan." Setelah terpaku cukup lama menatap wajah rupawan pria itu, pandangan Nata beralih pada genggaman tangan Naru, lalu dia berusaha melepaskannya. Raut jelita itu seakan ketakutan bagai melihat hantu. "Nata harus segera pergi."
"Biar Kakak antar."
"Eh?" Mata indah gadis itu membeliak, lalu tersenyum kaku. "Nggak perlu. Nata bareng Sasu. Nah, itu dia orangnya."
Tepat setelah Nata berucap begitu, Sasu dengan motor vespa antiknya sudah berhenti di sisi mereka. Embusan napas lega lolos dari mulut Nata, dan hal itu mampu tertangkap oleh Naru.
Kenapa?
"Mau bareng Kak Naru?" Tanya Sasu. Pemuda itu menaikkan kaca helmnya, menampakkan muka di baliknya.
"Nggak." Nata menjawab cepat kemudian mengurai cengkeraman tangan Naru dengan tangannya yang bebas, membuat tautan tangan mereka terlepas paksa. "Sama kamu lah ..."
Nata seakan tak menghiraukan keberadaan pria di sisinya, dia tidak sekali pun kembali menoleh pada presensi Naru setelah Kehadiran Sasu. Yang sebenarnya terjadi, Nata merasa begitu canggung jika berada di sekitar Naru, dia hanya tidak ingin rasa yang dia miliki pada pria itu semakin tumbuh mengakar hingga akhirnya sukar untuk dia musnahkan.
"Ya udah. Ayo, naik." Tanpa mereka sadari, Sasu tersenyum menang ketika Nata telah mendudukkan diri pada jok motornya, lantas memakai helm yang dia angsurkan. Meskipun pemuda itu sedikit heran melihat mereka sempat saling bergandengan tangan, namun seluruh dunia tahu bahwa sekarang Nata lebih memilih untuk bersama dengan dirinya dibanding dengan mantan calon Kakak ipar gadis itu.
Sasu membunyikan klakson motornya satu kali sebelum akhirnya memutar gas tangan kanan, melaju pergi. "Duluan, Kak."
Sedangkan Naru hanya mampu menatap kepergian Nata bersama Sasu dengan kecewa. Yah, sepertinya dia harus mengundur niatannya untuk mengungkapkan rasa. Dia menghela napas berat lalu menebar senyum yang tidak lagi sampai ke mata.
"... hati-hati."
***
Kamar mendiang Nao tidak berubah sama sekali, selalu bersih dan tertata rapi seperti sedia kala seakan tak pernah ditinggal pergi oleh pemiliknya---Nata dan ibunya memang selalu membersihkan kamar itu setiap hari. Menjaga dan merawat semua barang-barang di dalamnya merupakan sebuah kewajiban, agar kenangan tentang mendiang tidak akan pernah hilang.
Nata menghela napas panjang di sana, lalu duduk pada pinggiran ranjang. Ada sebuah album foto lama di dalam dekapan tangan gadis itu. Album foto yang berisi segala momen kehidupan Naori, potret sang mendiang semenjak bayi hingga potret terakhirnya ketika bertunangan.
Gadis itu menyentuh potret itu dalam diam dengan senyum terkembang. Kakaknya terlihat begitu cantik di sana, berdiri dengan senyuman menawan sambil menunjukkan cincin di jari manis tangan kiri. Ada sosok Naru di sisinya.
Atensi Nata jatuh pada sosok sang pria. Tanpa sadar jari telunjuk lentiknya membelai wajah tampan di foto itu. Ada tatapan rindu dari sorot mata indahnya. Dan ... senyuman itu hilang.
Nyatanya setelah dia sengaja menghindari pria itu belakangan ini, Nata justru merasa menyiksa diri. Dia menyentuh dada kiri, merasakan kembali detakannya lalu memejamkan mata.
"Pada akhirnya kita mencintai orang yang sama, Kak. Lucu sekali, ya? Apa Kakak marah sama Nata?" Gadis itu bermonolog seraya tersenyum miris, kembali menatap pada potret wajah kakaknya.
Dia ... semakin yakin kalau perasaan cinta yang tumbuh di hatinya untuk Naru adalah karena adanya jantung Naori di dalam rongga dadanya.
"Nata rasa sebab jantung ini, jantung Kakak yang terus aja berdebar buat Kak Naru adalah hal yang membuat Nata ikut mencintai dia. Maafin Nata." Setitik air mata mengalir dengan sendirinya di pipi Nata, membuat pandangannya menjadi kabur.
"Boleh Mama masuk?"
Nata tersentak. Dia cepat-cepat mengahapus jejak air mata lalu menoleh ke arah pintu. Ah, dia lupa tidak menutup seluruhnya. Ada sosok sang ibu di sana, sedang menatapnya dengan satu senyum teduh.
"Boleh, Ma."
Atas izin dari Nata, Harumi datang menghampiri dan duduk di sisinya. "Sedang apa?"
"Lagi lihat album foto lama." Nata memperlihatkan sebuah halaman foto yang sedari tadi dirinya amati di atas pangkuannya.
"Kangen Kakakmu?"
Nata mengangguk, "Iya, semoga Kakak selalu bahagia di atas sana."
"Kakakmu pasti sudah bahagia." Harumi turut menyematkan senyum menatap potret mendiang putri pertamanya sambil membelai sayang puncak kepala Nata. Tak lama, perhatian wanita baya nan cantik itu beralih seluruhnya pada sang putri bungsu yang kini menjadi satu-satunya. "Ngomong-ngomong, Mama Kushina mengajak kita sekeluarga dinner di rumahnya besok malam. Kamu harus ikut ya, Nak?"
Seketika itu jantung Nata kembali berdebar-debar. Gadis itu tersentak untuk yang kedua kalinya. Makan malam bersama keluarga Naru, otomatis dia akan bertemu dengan pria itu, kan? Dan Nata sepertinya belum siap untuk kembali bertatap muka.
"T-tapi, Ma ... Nata masih harus belajar buat persiapan ujian." Dalihnya, berusaha menolak secara halus.
"Cuma sebentar. Kamu bisa belajar malam ini, atau setelah pulang dari dinner besok." Bujuk Harumi. Dia pantang menyerah untuk mengajak putrinya ikut serta. "Mama tidak enak menolak ajakan mereka, Sayang. Biar bagaimanapun mereka sempat akan menjadi bagian keluarga kita, tidak etis kalau menolaknya." Dan kenyataannya, alasan yang dipaparkan sang ibunda memang masuk logika.
Nata tidak punya pilihan lain selain mengiyakannya.
"Y-ya udah, Nata ikut."
***
Tbc...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.