Bagian 61 // Belum Saatnya

23.6K 1.3K 438
                                        

"Ayolah ... yang mau sewa kamu bukan kakak doang kok. Bahkan anak-anak Futsal udah ada yang patungan loh, katanya kalau gangbang lebih enak ...."

"Udah sih ... Lo mendingan jual diri aja, hahaha. Lo pikir deh, banyak yang dukung Lo buat jual diri begitu. Gue setuju sama Rizky, daripada jadi siswa nakal mendingan Lo jadi jablay aja. Kan enak, cuman ngewe doang bisa dapet duit, dan lagi ... banyak kok yang mau ngewe sama Lo. Lo tahu? Lo itu sering jadi fantasy liar--"

"Gue cuman mau bilang, hati-hati ... posisi Lo di sini udah gak aman. Gak ada orang yang bener-bener mau temenan sama Lo. Lo bego, emangnya siapa yang mau temenan sama orang bego? Gak usah sok-sok an jadi siswa brandalan, teman-teman Lo sama aja ... mereka manfaatin Lo tanpa Lo sadar. Lo tahu? Rama, Johan, Rio sama Yudha masuk di grup ini juga."

"Oh ya? Kita lihat saja nanti. Apa Rizky bakalan jadi penyelamat buat Lo, atau malah ikut-ikutan juga. BTW, enak banget ya Rizky ... punya lonte ini di rumah, hahaha."

Sejak tadi Vian hanya bisa menjambak rambutnya, sebagai wujud rasa panik, khawatir, serta semua perasaan serba salah yang menghinggapi pikirannya.

Vian benar-benar tidak tenang, ia terus-menerus kepikiran dengan semua kemungkinan buruk yang akan menimpanya.

Mereka benar, ia memang murahan. Vian tidak akan menyangkal karena pada akhirnya dia sendiri sadar bila yang menjadi penyebab semua ini adalah kelakuannya.

Ia hanya terlalu bodoh, terlalu naif dengan kisah pertemanan yang dirinya lalui. Mereka tidak pernah tulus, buktinya saja keempat mantan sahabatnya itu kerap kali mencari kesempatan untuk menyentuhnya.

Kenapa Vian tidak sadar, ia benar-benar menyesal atas semua yang sudah terjadi.

Rizky tak salah sepenuhnya, itu yang Vian sadari. Bilapun ada yang harus disalahkan, maka itu adalah Vian sendiri. Di saat seperti ini Vian tak bisa menyalahkan orang lain. Mereka bertindak bila ada 'angin' mereka melakukan itu saat ada kesempatan. Ya... Vian sendiri yang memberi kesempatan.

"Vian! Makan dulu Vi!!"

Telinganya terasa tuli untuk saat ini, Vian tidak tahu berapa lama ia tak sadarkan diri setelah meminum beberapa butir obat tidur semalam. Saat ia terbangun hanyalah sakit kepala dan linglung yang ia rasakan. Pikirannya sudah tersasar, Vian tak dapat berpikir jernih sama sekali.

Ia mendadak takut, takut bertemu Rizky, takut bertemu orang lain, bahkan ia tak berani menghubungi ayahnya.

Pikirannya memang tak seutuhnya benar, tetapi... apakah ayahnya pernah memiliki pemikiran yang sama? Apakah ayahnya pernah menjadikan Vian sebagai objek pemuas nafsunya? Mengingat selama enam belas tahun ayahnya tak memiliki pendamping, hanya ada Vian di sampingnya.

Vian takut.

Kepalanya amat berat, matanya benar-benar perih, perutnya sakit. Tetapi semuanya tak sepadan dengan rasa takut atas keselamatan hidupnya setelah ia mengetahui fakta itu.

Vian memiliki trauma berat sejak dirinya masih kecil, dan benar-benar tak menyangka bila hidupnya akan terus dibayang-bayangi oleh hal yang sama. Lantas, apakah Vian benar-benar semurah itu? Apakah Vian benar-benar pantas untuk dijadikan objek liar mereka?

Vian tidak sadar, bila ia tak bisa membaca pikiran orang lain. Hal yang selama ini ia anggap biasa-biasa saja, bisa jadi berbeda untuk mereka. Vian menyesal karena tak berhati-hati, ia benar-benar kecewa dengan dirinya sendiri.

Suara Rizky sudah tak terdengar lagi, Vian hanya mampu berdiri dan mengikuti kata hatinya. Ia akan pergi dari rumah untuk menenangkan diri, minimal sampai ayahnya pulang. Vian benar-benar takut, terlebih saat ia ingat bila Rizky sama saja dengan orang-orang itu.

CUTE (BAD) BOY || BxB Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang