Ayahnya Alvian kemudian masuk ke dalam pembicaraan, ia merasa keberatan bila putranya harus diliburkan selama tujuh hari.
"Masalahnya, bila di rumah, tidak akan ada yang merawatnya, tidak akan ada yang mendidiknya juga. Saya tidak memiliki waktu cukup untuk membimbing Alvian bila dia harus di skors seperti itu. Untuk Sabtu dan Minggu, mungkin masih sempat ... tapi, untuk Senin sampai Jumat, sepertinya tidak bisa. Saya bekerja dari pukul 6 pagi hingga pukul 11 malam, dan tidak ada waktu untuk mengawasi Alvian. Saya tidak mungkin meninggalkan pekerjaan saya, saya kira ketika dia bersekolah ... sikapnya akan perlahan-lahan membaik, ternyata malah tidak. Saya minta maaf untuk hal ini, ini memang murni kesalahan saya. Apakah saya harus membayar denda? Berapapun akan saya bayar, tapi, tolong ... jangan skors Alvian."
Bu Airin menghela napas berat, apa masalahnya bila Alvian diskors?
"Mohon maaf ... saya menskors Alvian berharap agar anak itu bisa merenungi semua kesalahannya. Bila Bapak tidak bisa membimbing Alvian, masih ada Ibunya, kan? Saya rasa, bila berbicara dari hati ke hati, tidak akan terlalu sulit untuk memberikan pengertian pada Alvian."
"Iya, saya paham ... hanya saja, Alvian memang sudah tidak memiliki ibu. Bila ia dibiarkan sendirian, anaknya malah akan kabur-kaburan, karena ... saya berpikir bila di sekolah adalah tempat paling aman untuk dia."
Sudah begini, Bu Airin tidak bisa melakukan apapun lagi. Pantas saja Alvian tumbuh menjadi sosok liar seperti yang dikenalnya, ternyata tidak ada yang mendidiknya selama ini. Ibu yang seharusnya menjadi guru pertama untuk anak-anak ternyata tidak memiliki peran itu untuk Alvian. Idealnya, se-nakal apapun anak-anak, bila ia diperingati oleh Ibunya ... jiwa nakal mereka sedikit demi sedikit akan mengurang, namun Alvian tidak memiliki ibu, akan semakin sulit untuk mengendalikannya.
"Saya minta maaf, Pak ... tapi saya tidak memiliki pilihan lain. Alvian sudah beberapa kali saya bebaskan dari skors, tapi ia tidak kunjung jera dan sadar atas semua kesalahannya. Tapi, bila bapak tidak setuju Alvian diskors, tidak apa-apa bila dia mau pindah sekolah."
Benar begitu? Sebaiknya Alvian memang pindah sekolah saja. Farhan bisa memasukkan Alvian ke sekolahan khusus laki-laki, atau anaknya bisa ia masukkan ke pesantren juga. Tapi, Alviannya pasti tidak mau, dan Farhan tidak kuasa untuk menolak kemauannya.
****
"Saya minta maaf bila Alvian selalu membuat masalah pada anak Ibu, dia memang nakal ... sulit sekali untuk memperingatinya. Bila dibentak atau dimarahi, pasti langsung menangis. Anaknya juga sudah beberapa kali ditangkap polisi karena kasus balapan liar, karena umur dia belum cukup akhirnya dibebaskan lagi."
Rika, Bundanya Rizky hanya terkekeh mendengar cerita dari Ayahnya Alvian barusan. Beruntung, ia tidak memiliki anak yang tabiatnya seperti itu. Rizky anak baik-baik, tidak pernah melakukan hal yang macam-macam atau membuat kepalanya terasa pusing. Selain itu, putra tunggalnya juga siswa berprestasi, ketua OSIS teladan, dan disegani orang-orang.
"Vian mungkin perlu didikan seorang Ibu, apalagi kata Bapak tadi sejak bayi Vian sudah ditinggal meninggal oleh Ibunya."
Farhan mengangguk paham, ia juga sudah beberapa kali memiliki niat untuk menikah lagi. Tapi, niat itu ia urungkan kembali saat memikirkan ulang tentang perkara beberapa tahun lalu, calon istrinya tidak kuat menghadapi Vian, mengakibatkan calonnya itu hampir saya membunuh anak kesayangannya.
Oh, ya ... untuk keputusan yang tadi, Alvian akhirnya dimaafkan untuk terakhir kalinya. Tapi, bila ia sampai mengulang kesalahannya lagi, maka hukuman yang akan ia dapati lebih berat. Bahkan, bisa jadi Alvian akan dikeluarkan dari sekolah, dan pihak sekolah akan menyebarkan berita pada sekolah lain untuk mem-blacklist Vian. Dengan begitu, tidak ada pilihan lain kecuali untuk berubah menjadi lebih baik lagi. Di DO-nya Vian dari sekolah akan terjadi ketika bocah itu melakukan pelanggaran berat saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
CUTE (BAD) BOY || BxB
Novela JuvenilRizky dan Alvian adalah musuh bebuyutan selama di sekolah. Keduanya tidak pernah akur karena sejak dulu terus saja memperebutkan perempuan yang sama. Namun, Bundanya Rizky dan Ayahnya Alvian pada akhirnya menikah, menjadikan keduanya sebagai saudar...
