"Beresin yang rapi ... besok kita langsung pindahan ...."
Vian dan Rizky hanya mengangguk atas apa yang orangtua mereka katakan.
Keduanya ikut ke rumah milik Vian dan ayah, tujuannya untuk mengambil semua barang-barang yang akan dibawa dalam pindahan.
Ayah dan Bunda memang tidak akan menempati rumah salah satu dari keduanya. Mereka sudah membeli sebuah rumah minimalis yang terletak di dekat pegunungan. Ya ... agak jauh dengan sekolah Rizky dan Vian, sekitar limabelas menit lebih lama untuk pergi ke sekolah dari jarak rumah mereka yang sekarang.
"Ayahh ... ini simpan di mana?"
Vian membawa sebuah bingkai besar yang di dalamnya ada foto mendiang Ibunya. Vian mencoba bertanya sebaik mungkin, meskipun dirinya sadar bila Bundanya menatapnya dengan tatapan berbeda.
Ayah agak sedikit gugup kemudian menoleh ke arah Bunda dengan tatapan lain, membuat Vian paham akan satu hal ....
Ya, foto almarhumah ibunya tidak bisa ikut pindah dengan mereka.
"Ya udah ...."
Ia kemudian meletakkan foto itu di dalam laci kamar ayahnya. Merasa kecewa saat ia tidak bisa membawa serta kenangan berharga yang tak seberapa itu.
Vian sendiri tidak banyak mempunyai kenangan-kenangan dengan Ibunya, hanya beberapa foto dan perhiasan milik ibunya yang masih ayahnya simpan. Sisanya berada di rumah neneknya ... hal tersebut dilakukan hanya agar Ayahnya Vian tidak terlalu larut dalam kesedihannya saat ia ditinggal oleh istrinya saat masih dalam keadaan terlalu cinta.
"Vian ... foto Ibu masukin ke sini, kalau ke tempat yang sembarangan nanti kacanya kegores atau retak ...."
Vian menatap Bundanya dengan tatapan sendu seolah bertanya, benarkah ia mengizinkan Vian membawa foto Ibunya pergi?
"Udah ... sampai kapanpun, mendiang Ibu kamu akan tetap menjadi perempuan nomor satu di hati kamu. Bunda gak bisa halangi kamu untuk selalu mengenangnya...."
Vian tersenyum simpul kemudian memasukkan foto Ibunya ke dalam kardus yang disediakan oleh Bundanya itu.
"Makasih Bunda---"
"Vii! Bantuin Ayah angkat lemari!"
"OKEE!!"
***
"HEH RIZKY, BANTUIN! KERJANYA MAIN HAPE TERUS LO!"
"Dih, angkat aja sendiri ...."
"SENDIRI APANYA?! GUE ANGKAT LEMARI BERDUA SAMA AYAH! LO GAK KUAT ANGKAT LEMARI, YA? HALAH ... ANGKAT GALON JUGA PALINGAN TULANG LO LANGSUNG MLEYOT KAYAK TANTE SALEH DI UPIN IPIN!"
Rizky yang kesal kemudian berdiri lalu memaksakan diri untuk membantu Vian dan Ayahnya mengangkat lemari.
"Hush hush pergi sana, gue udah gak butuh Lo lagi!"
Rizky mendecak kemudian meninggalkan Vian dan Ayahnya tanpa sepatah katapun. Sang ayah kemudian menoleh ke arah Vian dengan wajah kesal,
"Jangan gitu sama kakak sendiri. Kamu harus bisa akur sama Rizky ... panggil dia kakak--"
"Apaan sih Ayah ... Vian sama dia kan cuman beda sepuluh hari doang. Vian tanggal 22, Rizky tanggal 12 .... Ngapain harus panggil Kakak sih? Dia nanti jadi besar kepala ...."
"Mau kalian beda sepuluh hari atau bahkan hanya sehari doang, kamu tetap wajib panggil Iky dengan sebutan Kakak!"
Vian mendengkus keras-keras kemudian memaksakan diri untuk duduk di sofa yang sudah diselimuti oleh kain.
KAMU SEDANG MEMBACA
CUTE (BAD) BOY || BxB
Novela JuvenilRizky dan Alvian adalah musuh bebuyutan selama di sekolah. Keduanya tidak pernah akur karena sejak dulu terus saja memperebutkan perempuan yang sama. Namun, Bundanya Rizky dan Ayahnya Alvian pada akhirnya menikah, menjadikan keduanya sebagai saudar...
