❄️13. Aeras

665 116 7
                                        

"Jisung!!" Teriakan nyaring itu menggema sampai yang dipanggil harus menutup telinganya untuk meredam suara itu. Jisung menunggu Chenle yang sedang berlari ke arahnya. "Lihat!" Dengan antusiasnya Ia menunjukkan pusaran air didalam bola es, pusaran air itu membentuk ikan yang kemudian berubah menjadi sesosok wanita berekor ikan berenang didalam sana, kemudian menyatu dengan air dan menghilang.

Binar mata Jisung menunjukkan kekaguman, "Kau menakjubkan," Ucapnya seraya mengusak surai jingga itu. Untuk saat ini, Jisung memilih menyimpannya sendiri, walaupun Ia tau itu tak akan bertahan lama. Setidaknya Ia lebih lama melihat Chenle.

Keduanya menikmati waktu bersama, Jisung tetap menjalankan tugas yang diberikan Jaemin padanya. Ia tau Chenle memiliki pengaruh yang sangat besar, akan sangat berbahaya jika Chenle bersama dengan orang yang salah. Sedikit demi sedikit Chenle berhasil mengendalikan kekuatannya, ada maksud lain mengapa Ia belajar dengan semangat.

Chenle yang berada dihadapan Jisung membulatkan matanya melihat cahaya didepan sana, hal itu membuat Jisung membalikkan badannya guna melihat apa yang Chenle lihat. Cahaya itu semakin mendekat dan refleks Jisung memeluk tubuh Chenle saat cahaya itu melewati mereka. Pelukan dilepaskan, keduanya terkejut melihat Psyxros yang kembali seperti semula, tidak beku.

"Tadi itu apa?!" Tanya Chenle sangat antusias. Jisung tidak menjawab, lebih tepatnya termenung. Pandangannya kosong dengan pikiran yang entah kemana, sedikit ada kesenduan di mata itu.

"Kita kembali," Jisung menarik tangan Chenle, Ia membawanya kedalam mansion.

Jisung tetap menyeret Chenle entah kemana, bahkan Ia mengabaikan kakak-kakaknya yang memanggilnya. Irene dan Jaehyun memandang punggung Jisung dengan tatapan yang sulit diartikan, begitupula Hyunjin dan Yeji.

"Anak itu aneh," Suara Felix memenuhi ruangan, Ia berhasil menarik perhatian yang lainnya.

"Siapa?" Tanya Jaehyun.

"Si rambut jingga. Dia melupakan masa kecil hidupnya, seperti ditahan oleh sesuatu" Jelasnya. Mereka semua tau kemampuan Felix seperti apa, karena itu Felix sangat berpengaruh untuk melihat baik-buruknya orang yang berurusan dengannya dan rekan-rekannya.

"Seseorang sedang tertawa melihat tikus memakan umpannya, ingat kata itu?" Yang mendengarnya mengerutkan kening mendengar pertanyaan Mark. "Mungkinkah dia dikirim oleh seseorang yang sedang tertawa itu? Mata-mata,"

"Artinya, dia mata untuk musuh terbesar kita?" Mark menganggukkan kepalanya.

Ketegangan terjadi, mereka tidak seharusnya mengabaikan waktu. Kehancuran Psyxros seperti halnya bom yang siap meledak kapan saja, mereka harus bersiap untuk serangan yang kapan saja bisa datang, tidak tau arahnya dari mana.

"Sekarang aku mengerti mengapa Jaemin memilih menjauh dari mansion," Gumam Irene yang masih didengar oleh yang lainnya.

"Seharusnya kita sadar, mengeluarkan Yeji dari Holy Dome adalah pertanda buruk," Timpal Mark. Semua mata tertuju pada nama yang disebut, mereka membenarkan hal itu.

Tangan Yeji terangkat seraya mengeluarkan asap biru, membentuk ilustrasi sebuah kota kecil yang melayang disana, pinggirannya ditutupi sesuatu seperti membungkus kota itu. "Walaupun beberapa saat barier pernah hancur, energi Psyxros sangat kuat yang dapat dicium oleh klan lain," Yang membungkus kota itu perlahan runtuh, menampilkan ilustrasi kota yang suram. "Ancaman memiliki kesempatan untuk masuk ke Psyxros, tidak terbayang jumlahnya," Asap hitam kini menyelimuti kota itu dan kemudian meledak.

MALVERA [NoMin]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang