❄️17. Evanescent [END]

1.7K 113 24
                                        

Note: udah di revisi

Hari dimana ditentukan nya siapa yang akan menjadi pemenang, telah tiba. Delapan orang itu berdiri di balkon utama, menunggu sang Tuannya untuk datang. Tekad dan takut bercampur menjadi satu, namun masing-masing diri mereka memiliki ambisi yang besar untuk mempertahankan Klan terakhir yang masih tersisa.

"Bahkan rasanya hanya mengorbankan nyawa saja tidak cukup," Yeji tiba-tiba bersuara, membuat semua pasang mata menoleh padanya.

"Dia tidak pernah mengikuti arus takdir," Timpal Irene. Mereka tau Jaemin selalu menentang takdir, Ia tidak peduli walau harus menanggung resiko yang sangat besar.

Secara tiba-tiba Jaemin muncul didepan mereka, membuat delapan orang itu saling menoleh satu sama lain dengan resah.

"Aku harap kalian tetap fokus," Ucap Jaemin. "Ke perbatasan, sekarang!"

•••

Hamparan salju yang luas menjadi objek pertama yang Jaemin lihat, tempat dimana Ia pernah menghabisi nyawa ketua para penjaga hutan.

Yeji berjalan ke samping Jaemin, disusul Irene yang berdiri di sampingnya. Jaehyun berdiri sedikit didepan Jaemin, terlihat seperti ingin melindunginya. Sementara Hyunjin, Mark dan Felix berdiri dibelakang Jaehyun. Mata tajam Jaemin menatap lurus kedepan, menunggu seseorang keluar dari dalam hutan.

Angin berhembus ringan kala jubah itu dikibarkan, seseorang melangkah keluar dari hutan, senyuman di wajahnya tak pernah luntur, senyuman pembawa bencana.

Delapan orang dibelakangnya juga memancarkan aura yang tak kalah ngeri, nafas Irene tercekat melihat Jisung juga berdiri disana.

Jaemin melangkah kedepan melewati Jaehyun, sementara Eunwoo juga melakukan hal yang sama, hingga mereka berhenti saat jarak mereka sudah terbilang dekat. Jaemin menumbuk telak pada manik Eunwoo, sedangkan pria itu semakin melebarkan senyumnya.

Kedua ekspresi yang bertolak belakang itu memancarkan binar yang sama di manik mereka, hasrat ingin saling menghancurkan satu sama lain.

"Kau... Keturunan terakhir Vintró?" Tangannya terulur untuk mengusap rahang Jaemin. "Kau berbeda, sangat berbeda," Eunwoo tersenyum hangat seakan-akan sedang berbicara dengan anaknya.

Jaemin tak berekspresi saat Eunwoo mengatakan, "Kehancuranmu sudah pasti, Jaemin. Kau harus siap menerimanya,"

Garis tegang menghiasi wajah Yeji, Ia sedikit khawatir bagaimana jika dirinya gagal, perannya sangat penting disini. Bahkan saat Ia melihat sorot mata Jisung, Ia bersumpah tidak menyukai sorot mata yang tak pernah Ia lihat itu.

Lia yang tiba-tiba muncul didepannya membuatnya tersentak, gadis itu memberikan senyuman tegas pada Yeji. Lia menggenggam erat tangannya.

"Fokus, Yeji! Jangan sampai lengah!" Ucapnya. Seperti tertampar, Yeji memejamkan matanya, Ia harus yakin bahwa dirinya bisa, Ia tak seharusnya meragukan diri sendiri.

Jaemin melihat kebelakang Eunwoo, tatapannya bertemu tepat dengan tatapan Jeno yang tak pernah lepas dari Jaemin. Keduanya seakan ingin membaca pikiran masing-masing, tatapan yang sulit diartikan.

Keturunan terakhir Vintró itu tersenyum beralih pada Eunwoo, bersamaan dengan Olivia yang datang seperti angin dan menendang telak rahang Eunwoo. Pria itu terlempar sangat jauh, matanya nyalang menatap Olivia.

Eunwoo bangkit seraya mengibaskan jubahnya, saat itu pula ratusan orang datang dari dalam hutan. Jaemin mencuramkan alisnya melihat Eunwoo menyeringai padanya.

MALVERA [NoMin]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang