03. The Lake

3K 729 39
                                        

Hari menghebohkan matinya ternak telah berlalu.

Pagi ini, suasana yang sebelumnya ramai kini normal kembali walau kasus kematian ternak masih menjadi tanda tanya besar bagi penduduk desa Helsinki. Bahkan Jeffrey sendiri belum menemukan petunjuk apapun mengenai makhluk yang membunuh hewan-hewan itu.

Semalam, pemuda itu minum-minum di bar dengan beberapa gadis dan pemuda lainnya, entah lah ia tak begitu mengingat siapa mereka. Pemuda itu memutuskan untuk pulang saat menyadari beberapa gadis mulai berusaha menyentuhnya.

Tch, mereka pikir mereka siapa?

Jeffrey tidak sembarangan menyentuh orang dan tak mau disentuh sembarang orang.

Karena kepala nya terasa sedikit pusing akibat pengaruh alkohol, pemuda itu berjalan menjauh dari desa Helsinki, berniat ingin mencari sumber air di mana ia bisa menyeka wajahnya dan mungkin saja mandi.

Jangan kaget, mandi bukan lah suatu kewajiban di sini.

Bagaimana bisa kau mandi jika suhu air mencapai 6 derajat Celcius? Helsinki memiliki cuaca yang selalu dingin setiap tahun, dengan begitu para penduduk jarang sekali berkeringat saat beraktivitas.

Mandi hanya diperuntukkan setelah kegiatan tertentu atau jika pun kau mau mandi, kau harus lah memanaskan air dalam kuali terlebih dulu dan itu sungguh melelahkan.

Langkah kaki pemuda itu kini memasuki hutan Helsinki, dengan bilah pedang yang berada dalam sarung kulit rusa milik nya, Jeffrey sedikit merasa was-was, takut-takut makhluk yang membunuh ternak datang menyerangnya.

Suasana di dalam hutan sangat lah berbeda dengan suasana desa, di dalam hutan jauh terasa lebih dingin, ah, dapatkah Jeffrey mandi kali ini? Mungkin menyeka wajah saja sudah cukup.

Semakin jauh ia melangkah ke dalam hutan, semakin sunyi pendengaran di telinga nya.

Telinga Jeffrey terus berjaga untuk mendengar setiap suara yang dihasilkan oleh suatu pergerakan, baik daun-daun yang saling bergesekan, hembusan angin dan lainnya. Insting pembunuhnya ia gunakan untuk melindungi dirinya.

Aneh.

Jeffrey tidak mendengar satu pun suara—

SRAK!

Jeffrey menarik dan mengangkat bilah pedangnya dengan cepat, tetapi ia menghela nafasnya saat menyadari jika suara itu berasal dari seekor rusa jantan yang melompat dari semak-semak.

"Mengagetkan ku saja," gumam Jeffrey.

Ia menyimpan pedang nya itu dan berjalan mendekati rusa itu yang justru berjalan menjauh dari dirinya. Jeffrey mengangkat alisnya dan memutuskan untuk mengikuti rusa tersebut.

Rusa itu tidak melompat pergi atau berlari menjauh, ia benar-benar berjalan pada track jalanan hutan seolah menuntun Jeffrey menuju suatu tempat.

Hingga akhirnya ia tersadar ia melihat cahaya yang yang terang dari ujung jalan itu, hutan berakhir di ujung itu.

Sesampainya mereka di tepi lain dari hutan itu, rusa itu segera berlari menuju kawanan rusa lain yang sedang berada di hamparan rumput yang begitu lapang, banyak bunga liar tumbuh, batu-batu besar yang tampak indah dan sebuah danau!

Jeffrey tersenyum lebar, sempat berpikir bahwa rusa tersebut menolong dirinya, tapi mungkin saja itu hanya sebuah kebetulan.

Di tepi danau itu terdapat sebuah batu besar lainnya, di mana pada puncak batu itu ditumbuhi sebuah pohon yang entah bagaimana bisa berada di sana, tempat ini begitu ... magical di mata Jeffrey.

Jeffrey berjalan mendekat ke arah danau, mulai melepas kancing mantel nya, kemudian melepas nya begitu saja. Mantel mahal pemberian seorang saudagar kaya dari daratan Asia itu kini berada di atas tanah.

Pemuda itu kini menarik dua lapis pakaian yang ia kenakan di balik mantel dan udara dingin dengan segera menyambut kulit pemuda itu yang terekspos, tetapi Jeffrey tidak terlalu masalah karena ia begitu senang dapat menemukan danau yang begitu ... indah.

Langkah Jeffrey terhenti, di balik batu besar yang terdapat pohon di atas nya, Jeffrey menyadari kehadiran orang lain di sana.

Seorang gadis tengah berdiam diri di dalam danau, memunggungi Jeffrey. Rambut panjang gadis itu tampak basah seluruhnya, menandakan bahwa gadis itu baru saja menyelam ke dalam air dingin itu.

Rasa senang karena dapat menemukan danau kini hilang dalam sekejap mata. Mata Jeffrey terarah pada gaun serta mantel gadis itu yang berada tidak jauh dari tempat gadis itu berendam. Kemudian mata Jeffrey terarah pada sebuah kastil istana yang berada di sisi lain danau itu.

"Jadi, kau pasti Roseanne," ucap Jeffrey.

Gadis itu diam saja, tidak memberikan respon apapun pada pemuda itu. Namun Jeffrey tahu bahwa gadis itu tidak terkejut dengan kehadiran nya, lihat saja bagaimana ia tampak begitu tenang dan tidak menggubris diri nya.

"Aku tahu pasti menyebalkan mendengar para penduduk desa menuduh dirimu adalah penyerang hewan ternak itu," imbuh Jeffrey kemudian.

"Tapi kini aku rasa tuduhan itu bukan tanpa dasar, lihat diri mu sekarang." Jeffrey memperhatikan Roseanne yang kini sedikit menoleh kan kepala nya.

"Manusia tak akan sanggup berendam dalam air bersuhu 6 derajat selama diri mu, Roseanne," lanjut Jeffrey.

Dan pemuda itu tidak mendapatkan respon apa pun dari gadis itu. Ia pun hanya menghela nafasnya, berjalan menuju tepi danau untuk meraup wajah nya dan membasuh badan nya sebelum kembali berjalan menuju pakaian nya yang tergeletak di tanah, memungutnya kemudian memakainya.

Jeffrey pun berjalan menjauh, meninggalkan Roseanne yang kini menatap permukaan air danau dengan mata berkaca-kaca.

♒♒♒

To be continued ...

spicypastaaa 🍝

[✔] Obsessive KillerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang