10. Membuka Malam

2.3K 528 27
                                        

Double update! Cek chapter sebelumnya jika belum baca!

♒♒♒

Hari sudah berganti gelap, sebelum matahari terbenam, Roseanne membawa Jeffrey ke dalam ruang baca dalam istana itu dan menutup pintu rapat-rapat.

Ia menyampaikan bahwa para peri akan bekerja untuk menyalakan obor-obor yang ada pada istana, maka dari itu Jeffrey tidak boleh melihatnya. Dan untungnya Jeffrey menuruti gadis itu, lagipula tujuan Jeffrey datang bukanlah untuk melihat peri.

Keduanya kini terduduk di depan perapian, di atas kapret beludru yang terasa begitu halus dan lembut di kulit mereka. Malam ini, Jeffrey akan tidur di ruang baca ini dan Roseanne sudah menyiapkan kebutuhan seperti selimut-selimut tebal untuk pemuda itu pakai.

"Kau pasti sangat kesepian," ucap Jeffrey menatap Roseanne yang memandang perapian.

"Itu hanya menurut dirimu saja," kekeh Roseanne mengalihkan pandangan dari perapian dan menatap manik mata hitam Jeffrey. Tenggelam dalam indahnya kilauan mata pemuda itu.

Kini, giliran Jeffrey yang mengalihkan pandangan, "aku terdengar aneh."

"Mungkin?" goda Roseanne.

Jeffrey terkekeh pelan kemudian ia menghela nafasnya pelan, belum pernah sebelumnya ia merasa se-rileks dan senyaman ini saat bersama dengan orang lain. Mungkinkah ini kali pertama?

"Aku hidup berpindah-pindah, bertemu banyak orang, tetapi aku kesepian, maka dari itu saat melihatmu yang hidup seorang diri di istana ini aku menyangka kau kesepian," ungkap pemuda itu, entah mengapa tetapi Jeffrey ingin menyampaikan hal-hal yang mengganggu dirinya pada Roseanne, gadis yang akan ia bunuh ini.

"Boleh kah aku bertanya suatu hal padamu?" tanya Roseanne.

Jeffrey menganggukkan kepala.

"Mengapa kau ... memilih untuk menjadi seorang pembunuh bayaran?" tanya Roseanne.

Jeffrey tersenyum sedih, tidak ada yang pernah bertanya hal ini kepadanya, gadis itulah yang pertama kali memberanikan diri untuk bertanya.

"Aku dilahirkan di sebuah desa miskin yang jauh dari sini. Kedua orang tuaku ... mereka membuangku, membiarkan aku hidup sebatang kara sebelum seorang wanita paruh baya dari desaku merawat diriku yang masih bayi dan nyaris mati karena tidak diurus," jelas Jeffrey, potongan memori saat ia berusia lima hingga enam tahun terlintas di benak pemuda itu.

"Aku bertumbuh dewasa dan wanita paruh baya yang aku panggil nenek itu juga bertambah tua dan ringkih," lanjut Jeffrey membuang pandangannya pada perapian di hadapannya.

"Nenek merawatku dengan sepenuh hati, bekerja keras agar dapat membelikan diriku makanan lezat agar aku dapat tumbuh dengan baik, ia juga menyekolahkan diriku." Jeffrey mengedipkan matanya cepat saat merasa air mata mulai muncul di kedua matanya.

Roseanne masih dengan setia menunggu Jeffrey melanjutkan ceritanya.

"Dia mengajarkan padaku banyak hal baik dan selalu menyampaikan padaku untuk selalu memaafkan tindakan kedua orang tuaku yang telah membuangku, ia tidak ingin aku tumbuh dalam kebencian," ungkap Jeffrey.

"Dia terdengar hebat," gumam Roseanne.

Jeffrey tersenyum, "dia memang wanita hebat."

Namun perlahan senyum Jeffrey menghilang, "semuanya terdengar indah bahkan suatu hari nenek berhasil memenangkan sebuah lotre berhadiah cukup besar, dia menyimpan uang itu untuk biaya hidupku."

"Lalu kedua orang tuaku datang, mereka meminta uang itu dari nenek, aku yang masih berusia 16 tahun berusaha mempertahankan uang itu agar tetap berada di tangan nenek, tetapi mereka ... kedua orang tuaku ... mereka membunuh nenek tepat di depan mataku."

[✔] Obsessive KillerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang