14. Back Story

2.3K 508 47
                                        

Jeffrey telah mengakui bahwa ia mencintai Roseanne.

Kini keduanya sedang duduk di tepi danau setelah peryataan cinta tidak terduga itu.

Tidak jauh dari mereka, para rusa masih bermain di hamparan rumput, berlarian ke sana kemari.

Jeffrey menatap profil samping wajah Roseanne yang masih membungkam mulutnya.

Tampak banyak hal yang gadis itu pikirkan. Begitu pun dengan Jeffrey yang juga memikirkan mengenai masa depan dirinya dengan Roseanne.

Angin berhembus pelan, membuat rambut keemasan gadis itu menari-nari karenanya.

"Kau tidak harus membalas perasaanku, itu ... hanyalah perasaan sepihak bukan?" tanya Jeffrey dengan sedikit nada kecewa karena ia tidak mendapatkan respon yang ia harapkan.

Tapi hei, bukankah lebih baik begini?

Tidak lucu jika gadis yang ia harus bunuh justru membalas perasaan cintanya.

Jeffrey tidak akan sampai hati membunuh jika seperti itu.

Roseanne menyelipkan rambut ke belakang telinga kemudian menggeleng.

Respon dari gadis itu seketika menarik perhatian Jeffrey.

"Apa maksudmu, Roseanne?"

Gadis itu menutup matanya sejenak sebelum perlahan ia kembali membuka matanya, seolah sedang meyakinkan dirinya akan suatu hal.

"Aku akan jujur padamu, Jeffrey," ucap Roseanne.

Pandangan keduanya bertemu dan Jeffrey sungguh terkejut saat melihat iris mata Roseanne kini berwarna merah maroon. Jeffrey tahu, ia akhirnya tahu.

"Bohong jika aku tidak merasakan hal yang sama padamu setelah ... semua hal yang kita lalui bersama," ucap Roseanne dengan mata sayu, sama seperti malam sebelumnya saat ia berusaha mengalihkan perhatian Jeffrey.

"Kau juga mencintaiku?" cicit Jeffrey, ia masih takjub melihat iris mata Roseanne.

Gadis itu mengangguk.

"Dan aku akan jujur akan suatu hal," lanjut Roseanne.

Gadis itu mengalihkan pandangannya sejenak, menahan emosi dan air mata yang tiba-tiba muncul di pandangannya.

Ia pun menyeka pipinya dengan segera saat bulir air mata lolos membasahi pipi.

Roseanne kembali menatap Jeffrey, berusaha menunjukkan bahwa dirinya tegar.

"Benar, aku lah yang membunuh para ternak itu," ungkap Roseanne.

Pengakuan yang terlontar dari mulut Roseanne terasa bagai petir yang menyambar tubuh Jeffrey.

Mengejutkan dan menyakitkan secara bersamaan.

Namun, mengapa Jeffrey merasa sedikit sakit hati? Bukankah Jeffrey juga seorang pembunuh? Ia bahkan membunuh manusia.

"Mengapa?" tanya Jeffrey.

Hanya kata tersebut yang dapat lolos dari mulut Jeffrey.

"Aku butuh mereka," jawab Roseanne.

"Apa maksudmu?"

Sungguh, Jeffrey terdengar bahwa dirinya sedang menyangkal. Bohong jika ia tidak tahu alasan Roseanne membunuh ternak-ternak itu. Ia bersikap seolah tidak siap mendengarkan pernyataan ini.

"Bukankah kedua mata ku sudah menjelaskan alasanku membunuh para ternak?" tanya Roseanne dengan sebuah tawa kecil yang terdengar miris.

Vampire, kau vampire?

[✔] Obsessive KillerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang