"Lihat! Semakin banyak ternak yang mati! Tuan Arthur lakukan sesuatu!!!"
Penduduk kembali berkumpul dan mengamuk di hadapan pemimpin desa mereka, Arthur, yang kini semakin geram dengan ulah 'makluk' itu. Tatapan mata Arthur terarah pada Jeffrey yang terdiam, bersandar santai pada dinding rumah salah satu penduduk.
Pria itu lalu segera mendekat, menunjuk Jeffrey agar segera mengikuti dirinya. Jeffrey sudah sangat paham apa yang akan pria itu utarakan padanya, tapi ia hanya diam dan menuruti titah pria paruh baya itu.
Keduanya memasuki bar, kali ini berjalan menuju sebuah ruangan yang lebih tertutup. Dan rupanya para aparat keamanan desa, termasuk William, turut mengikuti Jeffrey dan Arthur masuk ke dalam ruangan ini.
"Jeffrey, apa yang membuatmu belum membunuh gadis itu?" tanya Arthur setelah semuanya telah berada di dalam ruangan itu.
Jeffrey menatap Arthur yang entalah ... tampak murka?
"Kau enggan bercerita atas dasar apa aku harus membunuh gadis itu," jawab Jeffrey.
"Dia monster! Dia pelakunya!"
Jeffrey menggelengkan kepalanya, "aku sudah melakukan pengintaian pada gadis itu dan aku rasa kau salah besar."
"Huh? Bagaimana dengan kesepakatan kita? Aku akan menyerahkan 500 Markka di awal dan sisanya akan kuserahkan jika kau berhasil membunuhnya!" seru Arthur dengan tidak sabar.
Jeffrey terdiam, ia melirik William yang memberinya kode untuk menerima tawaran itu.
"Di mana uangnya?" tanya Jeffrey.
Arthur pun memanggil salah seorang pengawalnya yang tampak membawa sebuah kantung berwarna hitam. Apakah mereka membawa uang kemana pun mereka pergi?
Arthur pun meraih kantung itu dan menyodorkannya pada Jeffrey, "Ini 500 Markka mu, segera bunuh gadis itu!"
Jeffrey menerima uang itu dan tersenyum, "tidak bisa secepat itu, jika ia adalah makluk buas yang kau ucapkan maka ia juga dapat membunuhku, jika aku terbunuh siapa yang dapat membunuh gadis itu?"
"Huh?"
"Beri aku tambahan waktu untuk mengatur strategi, selagi aku berpikir, perketat keamanan di sekitar kandang-kandang ternak," ucap Jeffrey.
"Dan berapa lama kau harus berpikir?"
Jeffrey menatap Arthur dalam dan ia pun menjawab, "hingga 2 minggu yang akan datang dan kupastikan satu nyawa bersalah akan melayang."
♒♒♒
Siang itu, cuaca cukup berkabut, matahari tidak dapat menembus gumpalan awan yang tebal.
Langkah kaki Jeffrey kembali membawa pemuda itu menuju istana tempat Roseanne tinggal. Sejujurnya, ia pergi ke tempat ini tanpa rencana apapun terlintas di otaknya. Karena ia sendiri juga tidak habis pikir mengapa Arthur mati-matian menuduh Roseanne?
Kini ia menjumpai Roseanne yang sedang terduduk di atas kain merah muda yang ia bentangkan di atas rumput, di balik batu besar dekat danau, sedang membaca buku dengan serius.
Jeffrey melangkah mendekat tanpa kata dan langsung duduk di sebelah gadis itu, Roseanne tampak tidak terkejut dengan kemunculan Jeffrey.
"Hai," sapa Jeffrey.
"Hai Jeffrey," balas Roseanne tanpa menatap sang lawan bicara.
Jeffrey melirik gadis itu dan memutuskan untuk diam saja, ia juga tidak tahu mengapa bertingkah seperti ini, rasanya ia hanya ingin ... menemui gadis itu?
"Apa kau pernah jatuh cinta?" tanya Roseanne secara tiba-tiba, pandangan tidak terlepas dari buku di tangannya.
Jeffrey kini meletakkan seluruh atensinya pada gadis itu, "tidak."
![[✔] Obsessive Killer](https://img.wattpad.com/cover/296241728-64-k240694.jpg)