happy reading!
jangan lupa votmen ya~
***
April menghembuskan napas panjang di depan sebuah kafe yang sudah nggak asing lagi baginya. Garden Cafe.
Seperti Dejavu.
Jari-jarinya menggenggam erat ponsel, hampir saja menghubungi Gama dan menyuruh pacarnya itu untuk bergabung dengannya saat ini.
Apa April batalin aja ya? Tapi ya, masa iya? Dia sudah di sini, sudah melangkahkan kaki jauh, sudah berdandan sedikit lebih rapi dari biasanya—bukan buat Rehan, tapi buat dirinya sendiri biar pede, masa mundur begitu saja?
Pintu kafe berbunyi saat ia mendorongnya masuk. Aroma kopi bercampur kayu manis menyambut, menenangkan tapi juga membuat jantungnya semakin deg-degan. Matanya berkeliling, mencari sosok yang sudah lumayan dikenalnya.
Dan di sanalah dia.
Rehan duduk di sudut ruangan, mengenakan hoodie hitam dengan lengan tergulung, menampilkan tato baru di lengannya. Tangannya menggenggam cangkir kopi, dan matanya langsung menangkap sosok April saat perempuan itu masuk.
April berhenti sejenak, menelan ludah. Lalu segera memasang cengiran khasnya. Padahal dalam hati April terasa… campur aduk.
Ini dia gimana ngomongnya ya?
Rehan segera menyambut kedatangan April saat perempuan itu berjalan mendekat. “April.”
April tersenyum kaku. “Hai”
Tanpa menunggu undangan, April duduk di hadapannya. Seorang pelayan datang dan menanyakan pesanannya, tapi April hanya mengangkat tangan kecil. Perutnya sudah penuh dengan kecemasan, tidak ada ruang untuk makanan atau minuman lagi.
“Jadi…” Rehan meletakkan cangkirnya, menatap April dengan mata yang sama seperti dulu—tenang, tapi menyelidik. “Mama menyuruhmu datang?”
April menghela napas. “Kamu tahu?”
Rehan tersenyum kecil. “I know how my mom thinks. And I know how you are."
April menegakkan punggungnya, merasa sedikit tersudut. “Terus, kalau kamu tahu, kenapa tetap mau ketemu?”
Rehan menyandarkan tubuhnya ke kursi, tangannya bermain di atas meja. “Karena aku juga penasaran. Apa yang bakal kamu bilang?”
April mengernyit. “Aku… sebenarnya juga nggak tahu harus bilang apa.”
Rehan terkekeh. “Klasik.”
April mendengus. “Hei, aku serius, tahu! Tante Maya benar-benar berharap aku bisa membujukmu buat batal ke LA.”
Rehan menatapnya sejenak, lalu tersenyum samar. “Dan menurutmu aku harus batal?”
April terdiam. Ini dia inti permasalahannya. Apakah ia benar-benar ingin Rehan batal? Atau ini hanya karena tekanan dari Tante Maya?
“Rehan…” April menarik napas dalam-dalam. “Aku cuma mau tahu… kenapa? Kenapa kamu benar-benar ingin ke LA dan meninggalkan bisnis di sini?”
Rehan menatapnya lama sebelum menjawab. “Karena aku ingin lepas.”
April mengernyit. “Lepas?”
Rehan mengangguk, jemarinya menggulung lengan hoodie-nya lebih tinggi. “Dari semua ekspektasi, dari semua tuntutan. Aku capek, April. Aku nggak mau cuma jadi anak yang diatur Mama. menjalani bisnis keluarga, mengikuti rencana yang bukan buatku. Aku mau punya sesuatu yang benar-benar milik aku sendiri.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Amazing April [END]
Romance"Nggak semua orang punya pacar. Tapi semua orang, pasti punya jodoh." * Sudah baper, sudah dekat, tinggal menunggu jadian. Eh, dia malah jadian dengan sahabat sendiri. April pernah mengalaminya. Dan sialnya, itu bukan hanya kejadian sekali saja. Ta...
![Amazing April [END]](https://img.wattpad.com/cover/270989311-64-k19065.jpg)