B E L A J A R M E N E R I M A

27 24 7
                                        

Tiga motor besar terparkir rapih di tempatnya, dengan tiga cowok yang masih duduk di jok motor itu, mereka turun dari motornya lalu berjalan ke koridor

Dengan paras ketampanan yang melebihi standar, membuat mereka bertiga menjadi incaran para kaum hawa.

"Apa lo benar benar siap?." tanya Byan pada Agraxsa.

"Maksud lo?." cowok itu menaikan sebelah alisnya.

"Maksud gue lo siap ketemu Alin?."

"Iya." jawab nya dingin.

"Aduh susah banget gue buat manggil lo Agraxsa." keluh Danu tiba tiba.

"Bagusan juga nama lo yang dulu."

"Gue pake nama Agraxsa buat samaran."

"Oke lah demi kebaikan kita bersama, gue akan rela manggil lo Agraxsa." ucap Danu dengan tersenyum.

"Idih sok banget lo rela relan, tinggal sebut nama aja apa susahnya." Byan mencibirkan bibirnya.

"Eeyy sirik ae lo babi." mereka bertiga melanjutkan langkahnya menuju kelas.

"Gue duluan." Agraxsa berjalan mendahului kedua temanya.

"Tu bocah aneh banget dah, orang kelasnya lewat sini, ngapa ke sono?." Danu menggaruk kepala heran.

"Biarin, paling mau buang hajat." ucap Byan. Lalu pergi menuju kelas meninggalkan Danu yang masih menatap Agraxsa heran.

"Woy tungguin." Danu mengejar Byan yang telah pergi mendahuluinya.

Agraxsa berjalan di koridor dengan tangan yang dia masukan ke dalam saku celana, dasi yang di longgarkan dan jangan lupa tiga kancing atas sragamnya yang dia biarkan terbuka.

Bruk...

Agraxsa tidak sengaja menabrak seorang gadis hingga membuatnya terjatuh. "Aduh.. kalo jalan hati-hati." ujar gadis itu berjongkok membereskan buku-bukunya yang berjatuhan.

"Sorry." ucap Agraxsa dingin.

Gadis itu mendongak menatap Agraxsa, matanya berbinar dan seketika menjatuhkan bukunya lagi, dia berdiri menghadap Agraxsa dengan raut wajah senang.

"Bintang...." ucap gadis itu. Agraxsa sempat kaget, ternyata yang dia tabrak adalah Alin.

"Bintang kamu masih hidup?." tanya Alin dengan wajah tidak percaya.

"Lo bicara sama gue?." tanya Agraxsa dengan raut wajah datar. Alin mengangguk antusias.

"Nama gue Agraxsa." seru cowok itu.

"Nggak... kamu pasti Bintang."

"Ini aku, Alin." Alin terus berusaha meyakinkan.

"Ternyata apa keyakinan aku selama ini memang benar, kalo kamu masih hidup Bintang." mata Alin kini mulai berkaca kaca, bukan menangis karna sedih melainkan karna bahagia.

"Terserah." ucap Agraxsa kembali dingin.

"Bintang kamu kenapa?."

Jarak Dan LukaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang