Bab 4-Tetangga Baru

2.3K 185 3
                                    

Hola sayang-sayangku! Ai balik lagi~

Jangan lupa tinggalkan jejak vote/komen biar nggak sepi banget kayak kuburan di deket rumah gue:”

***

Keano melepas helm di kepalanya, kemudian melangkah menuju ruang kelasnya. Awalnya, raut wajah lelaki itu datar dan matanya masih menyorot tajam. Namun, saat berpapasan dengan adik kelas, ia langsung mengubah ekspresinya, menyorot lembut dan tersenyum lebar.

“Pagi, Kak Keano! Udah masuk loh, Kak, nggak takut diomel guru?” tanya adik kelas itu.

“Paling dihukum, nggak masalah sih,” sahut Keano disusul tertawa kecil. “Gue duluan, ya.”

“Oke, Kak,” sahut adik kelas itu, menatap kepergian Keano dengan senyum malu-malu. ia bergumam, “Ganteng, ramah, murah senyum, siapa sih yang nggak suka?”

Sampai di depan pintu ruang kelasnya yang tertutup, Keano mendengkus singkat dengan wajah datarnya. Ia terlambat, ini semua diakibatkan terlalu lama di base camp. Seandainya geng Mavros tidak mencari gara-gara, pasti dirinya tidak akan repot mengurus masalah dahulu.

Dengan mengubah ekspresinya menjadi Keano versi ramah, ia membuka pintu kelas lantas melangkah masuk. “Selamat pagi, Bu,” sapanya dengan sopan.

Sang guru yang tengah menerangkan materi langsung terhenti. Ia melempar sorot tajam ke arah Keano. “Telat lagi,” geramnya. Ini bukan pertama kalinya Keano terlambat di jam pelajarannya. “Apa alasannya kali ini?”

“Mengantar Mama saya ke tempat kerja, Bu. Tadi ban mobil Mama saya bocor di jalan, jadi saya harus putar balik dan mengantar Mama saya dulu,” jelas Keano dengan kebohongan yang lancar.

Guru itu mengangguk-angguk, begitu pula para siswa yang menatap Keano dengan binar kagum, seolah lelaki itu adalah sosok mengagumkan yang amat menyayangi Mamanya. Namun, lain halnya dengan Bella. Gadis itu tahu kalau Keano pasti berbohong, ia hapal dengan kebiasaan sahabat kecilnya itu.

“Alasan kamu bisa diterima, tapi saya tetap harus memberikan hukuman. Kamu mau saya hukum dengan mengerjakan tugas atau dijemur di lapangan upacara?”

“Mengerjakan tugas, Bu,” jawab Keano dengan cengiran khasnya. Ia lantas melirik ke arah Bella. Jika mengerjakan tugas, maka ia bisa meminta bantuan Bella, begitulah pikirnya.

“Baiklah. Kamu bisa duduk sekarang, nanti akan saya berikan tugasnya.”

“Terima kasih, Bu,” tutur Keano masih dengan senyum yang bertengger di wajahnya. Sebelum beranjak duduk, ia menyalami tangan guru tersebut dan mencium punggung tangannya. Kebiasaannya agar dibilang sebagai murid yang sopan.

Saat Keano berjalan menuju tempat duduknya dan melewati tempat duduk Bella, dapat ia lihat kalau gadis itu menggeleng heran ke arahnya, rautnya pun tampak tidak bersahabat. Bukannya marah, Keano justru terkekeh geli. Tanpa permisi ia mengulurkan tangannya untuk mengacak puncak kepala Bella sebelum beranjak duduk.

Baru saja Keano duduk dan mengeluarkan buku serta alat tulisnya, ia melihat Adnan—lelaki yang duduk di seberang bangku Bella—mencolek lengan Bella. Tanpa sadar rahang Keano mengetat, senyum luntur di wajah lelaki itu, berganti dengan wajah datar dan sorot tajamnya.

“Bel, pinjem pulpen dong,” ujar Adnan.

Bella menoleh sejenak, kemudian menyerahkan pulpen lain di tempat pensilnya kepada Adnan. “Nih.”

“Makasih, ya,” tutur Adnan dengan melempar senyum.

Ketika Adnan hendak kembali menatap ke arah depan, ia tak sengaja bertemu pandang dengan Keano yang duduk persis di belakang Bella. Lelaki itu mengernyit melihat Keano yang tersenyum lebar ke arahnya. Heran, ia pun menggelengkan kepalanya. Keano yang terkenal playboy itu memang aneh, begitulah pikirnya.

Playing with Kiss (On Hold)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang