Vomment dari kalian akan sangat gue hargai❤️
***
"Bel, jangan lupa buku tulis MTK diambil di ruang guru," ucap Reyhan, lelaki di kelas Bella yang terkenal paling rajin di antara lelaki lainnya.
Bella yang tengah asyik bermain ponsel pun mendongak. "Bukannya udah pada ngambil?"
"Ada yang udah dan ada yang belum, gue termasuk yang belum," jawab Reyhan sambil membenarkan letak kacamatanya.
"Oke, gue ambil."
Bella beranjak keluar kelas dengan malas. Derita sebagai ketua kelas. Meskipun ia bodoh begini, ia dipercayai menjadi ketua kelas. Alasannya? Karena tidak ada yang mau menjadi ketua kelas. Kata teman-temannya, ketua kelas sama saja babu kelas. Awalnya Bella tak percaya, namun setelah mengalaminya sendiri, ia pun akhirnya percaya.
"Permisi, Bu, saya mau ambil buku tulis Matematika Wajib punya kelas IPA 1," ucap Bella dengan tersenyum ramah saat tiba di meja guru.
"Ambil saja."
"Terima kasih, Bu."
Mengambil beberapa tumpukan buku di atas meja, Bella melangkah keluar dari ruang guru. Untungnya, hanya tersisa sekitar sepuluh buku tulis, jadi ia tidak kesulitan membawanya. Teringat kalau ia belum makan siang, ia pun mampir ke kantin untuk membeli roti dan susu kotak. Setelahnya, ia kembali melangkah menuju ruang kelas. Namun, ia melangkah melewati area belakang kantin, tempat nongkrong Keano dan antek-anteknya.
Kepulan asap rokok dan suara tawa para lelaki menyambut Bella saat tiba di sana. "Keano," panggilnya sambil berjalan mendekat ke arah gerombolan itu.
Obrolan para lelaki yang ada di sana seketika terhenti saat melihat kehadiran Bella. Keano, lelaki itu terbelalak. Ia langsung memberikan gestur mengusir Bella menggunakan tangannya. "Ngapain lo ke sini? Hus-hus, jangan deket-deket."
Bella yang mendengar hal itu sontak memberengut. Ia meletakkan buku ke samping tempat duduk Keano. "Cuma mau ngasih ini, buku tugas lo," ujarnya dengan melempar sorot kesal. Sambil menggerutu, ia melangkah pergi dari sana.
Melihat raut wajah Bella entah mengapa membuat Keano tersenyum geli.
"Bella kayaknya marah tuh," ujar Ezra, lelaki yang bisa dibilang paling bijak di gerombolan tersebut.
Irfan, lelaki berbehel itu mengangguk-angguk. "Lo sih main ngusir aja. Mana ngusirnya kayak lagi ngusir ayam," sindirnya sambil menatap ke arah Keano.
"Gue nyuruh dia pergi buat kebaikan dia kok," ujar Keano. Ia menyesap rokoknya lantas menghembuskannya sebelum lanjut berujar, "Jangan sampai dia hirup asap rokok, nggak baik."
Gibran, lelaki bertubuh tinggi besar itu tersenyum jahil ke arah Keano. "Utututu ... so sweet-nya si buaya yang satu ini."
"Lo kalau suka sama Bella, gas aja lah," saran Ezra.
"Yoi, Bro, sebelum Bella diembat cowok lain. Kayaknya banyak yang suka sama dia, gimana enggak? Dia bening, cantik gitu. Gue juga suka sih," tutur Irfan sambil menyengir lebar.
Detik setelahnya Keano langsung melempar sorot tajam ke arah Irfan hingga membuat lelaki berbehel itu mengkeret seketika.
***
Suasana di meja makan hening, sehening malam ini. Bella menyuap nasi ke dalam mulut sambil sesekali melirik ke arah kedua orang tuanya yang tengah fokus makan.
"Bel."
Mendengar suara berat sang Papa, Bella langsung mengangkat kepalanya. "Ya, Pa?"
Papa Bella yang sudah selesai makan mengambil segelas air putih lantas menegaknya, barulah ia kembali menatap sang anak. "Tadi Papa lihat buku tugas Matematika Wajib kamu."

KAMU SEDANG MEMBACA
Playing with Kiss (On Hold)
Novela Juvenil(Akan dilanjut setelah "His Hug" tamat). "Bella--" "Shut up your mouth!" "Okay. I will shut my mouth, but with your mouth," tutur Keano dengan sudut bibir tertarik ke atas membentuk seulas seringaian tipis. *** Bella merasa nasib sial selalu mengi...