[follow duls gaiseu biar berkah, kalau saya update jg ga ketinggalan]
**
The Deep Nostalgic Feeling
**
Ini bukan sekadar cerita anak SMA yang di mabuk cinta. Bukan juga kisah cinta klasik. Mungkin sedikit turun dari kata 'klasik'. Dan lebih cocok de...
"Sesuatu yang baru akan muncul ketika kamu sudah bisa menerima semuanya."
****
Hari terakhir dari hukuman Sabitha. Dua hari ia lewati dengan santai. Sesekali ia menanyakan tugas pada Rafa-si cowok culun yang pintar dikelasnya. Meskipun terkenal tukang bully, untuk tugas ia tidak pernah terlewat.
Hari terakhir ini ia habiskan untuk menonton drama kesukaannya. Karena besok ia kembali sekolah, tugasnya dikerjakan besok saja. Ia akan meminta catatan pada Haikal-cowok berkacamata-yang duduk didepannya.
Sedang asyik menonton, suara Vianty menggema hingga kamarnya. Dengan cepat Sabitha turun dan menghampiri Mamanya di dapur.
"Kenapa, Ma?" tanya Sabitha.
"Tolong beliin ini ke supermarket depan." Vianty menyerahkan daftar belanja serta uang kartu ATM milik Vianty.
Sabitha mengambilnya. "Sebentar aku ke kamar dulu."
Dengan cepat, ia memakai cardigan, mematikan laptop, lalu mengambil ponselnya. Ia berencana akan ke cafe dekat kompleknya sebentar. Yah hanya sekadar meminum kopi kesukaannya, yang ada di cafe itu.
Sabitha lalu turun dan pamit pada Vianty. "Tapi aku mau ke cafe bentar ya, Ma!" teriak Sabitha yang hendak membuka pintu depan.
"Ya tapi jangan lama-lama!" balas Vianty
"Oke!"
Sabitha hanya berjalan kaki untuk pergi ke supermarket. Selain jaraknya dekat, Sabitha juga ingin berlama-lama diluar. Hanya ingin jalan-jalan sebentar, tidak lama.
Jarak supermarket dan cafe hanya sekitar 200 m. Sedangkan supermarket dan rumahnya sekitar 1 km. Memang agak jauh, tapi Sabitha suka. Jadi ia bisa berlama-lama.
Kakinya memasuki supermarket, ia mengambil troli. Segera menuju tempat bumbu masakan. Mungkin seperti ini list belanjanya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Memang agak banyak, dan semua itu akan ada yang membawa. Siapa lagi kalau bukan supirnya. Karena rencananya ia akan ke cafe dulu.
Setelah selesai dengan troli yang sudah penuh, ia segera pergi ke kasir. Menyerahkan kartu itu kemudian langsung ke parkiran. Disana sudah ada Pak Hasan. Ia segera memasukkan belanjaan itu kedalam bagasi mobil.
"Makasih, ya, Pak." ucap Sabitha.
"Sama-sama, Non. Nanti pulangnya mau saya jemput, Non?" tanya Pak Hasan.