0.5| Jakarta and City Lights
"Jakarta di malam hari memang selalu indah. Tetapi akan lebih indah jika Jakarta, Aku, dan Kamu."
****
Hari menjelang malam, tetapi tidak menghentikan laju motor pemuda berjaket kulit itu. Kedua remaja yang masih memakai seragam putih abu-abu. Menikmati senja di antara gedung-gedung tinggi.
Argan mengajak Sabitha mengelilingi kota Jakarta. Tentu saja tanpa persetujuan dari gadis itu. Berulang kali Sabitha menanyakan hal yang sama.
"Ini sebenernya mau kemana?"
Pertanyaan itu berulang kali dilontarkan oleh Sabitha. Dengan Argan yang menjawab asal, membuat Sabitha kesal dan pada akhirnya ia memilih untuk diam. Menikmati angin sore Jakarta, yang lumayan sejuk. Jalan sore ini juga terbilang ramai, tetapi tidak macet. Padat merayap.
Laju motor Argan memelan ketika memasuki sebuah komplek. Sabitha tidak tahu komplek apa itu. Ia pun tidak pernah kesini. Tetapi yang jelas, komplek itu dipenuhi ruko-ruko bagi yang ingin membuka usaha. Karena banyak sekali toko-toko di sana. Seperti toko kue, toko aksesoris, toko perlengkapan dekorasi, juga ada beberapa cafe di komplek itu.
Argan berbelok ke sebuah cafe. Cafe Asteria. Itu nama cafe-nya. Cukup unik, karena terkesan Vintage Vibes. Julukan untuk cafe tersebut. Lampu-lampu di Cafe Asteria dominan berwarna oranye dibagian depan. Sementara di dalam berwarna putih. Ada tempat duduk outdoor seperti kayu yang dipahat. Sangat aesthetic bagi Sabitha untuk ukuran cafe yang tidak terlalu besar ini.
Sabitha turun dari motor besar Argan. Gadis itu membuntuti Argan dari belakang. Mereka duduk dekat jendela. Jendelanya pun bukan seperti Cafe Renjana yang besar. Melainkan jendela yang lumayan kecil dengan lengkungan di atasnya. Tentu saja terbuat dari kayu.
"Lo laper nggak?" tanya Argan.
"Lumayan, sih." balas Sabitha, "tapi emang ada makanan berat di cafe ini?" tanyanya.
"Ya ada lah! Kan ini bukan Cafe Renjana." ujar Argan.
"Sok tau lo!" kata Sabitha tidak percaya.
"Kalau lo nggak percaya, nih, liat aja menunya." Argan menyodorkan selembar menu yang ternyata sudah ada di meja.
Sabitha membaca satu persatu menu. Ternyata benar, ada spaghetti, berbagai macam menu mie, ada cake slice juga, ada smoothie dan coffee, ada minuman biasa juga. Rasanya seperti ada di restoran, padahal ini cafe.
"Lo mau makan apa?" tanya Argan pada Sabitha.
Sabitha bergumam sebentar. Matanya masih memperhatikan daftar menu. Deretan menu Mie Pedas Level menarik perhatiannya. Sudah lama juga ia tidak memakan makanan pedas.
"Gue Mie Pedas Level 4 deh. Sama Lemon Tea. " kata Sabitha.
"Kalau gitu gue sama kayak lo," Argan bangkit menuju tempat pemesanan.
Karena ini bukan Restaurant yang memiliki pelayan.Sementara Sabitha tengah melihat-lihat setiap sudut cafe ini. Pengunjungnya terlihat cukup ramai dan hanya ada 7 barista yang melayani pesanan para pengunjung.

KAMU SEDANG MEMBACA
THE HIRAETH
Teen Fiction[follow duls gaiseu biar berkah, kalau saya update jg ga ketinggalan] ** The Deep Nostalgic Feeling ** Ini bukan sekadar cerita anak SMA yang di mabuk cinta. Bukan juga kisah cinta klasik. Mungkin sedikit turun dari kata 'klasik'. Dan lebih cocok de...