Hanya butuh satu sentuhan kecil untuk menumbuhkan rasa.
Dulu, pas gue dengar Dipta bilang gitu, gue ketawa. Selain aneh mendengar cowok jangkung itu berkata sesuatu yang cukup melankolis, tapi menurut gue pun itu gak masuk di akal. Gimana bisa lu suka sama orang cuma karena sentuhan kecil? Misal, tangan yang gak sengaja sentuhan saat mengambil barang jatuh. Macam scene drama yang sering ditonton Mega kalau lagi di Poncer (Pohon Ceri, tempat nongkrong anak komplek yang ada di bawah Pohon Ceri). Buat gue, itu non sense.
Dipta juga pernah bilang, perasaan itu hal yang gak bisa ditebak. Sebelumnya, gue nentang abis-abisan semua yang Dipta bilang, tapi sekarang, gue lagi ngerasain semuanya. Gue lagi merasakan sentuhan kecil yang gak tau gimana caranya bisa menumbuhkan perasaan aneh di gue.
Itu hari minggu, sekitar jam tiga sore, waktu gue buka gerbang rumah karena ada yang membunyikan bel. Salayna —yang biasa dipanggil Lay sama anak komplek, yang memang tetangga gue, datang ke rumah. Bawa tas kecil yang langsung disodorin ke gue. Di dalamnya ada beberapa tempat makan berisikan lauk-pauk.
"Dari Ibu buat nyokap lu. Nyokap ada?" Tanya Lay begitu gue suruh masuk ke rumah.
Bukannya masuk, dia malah duduk di kursi teras depan. "Nyokap baru aja pergi. Adanya abang gue doang. Mau ketemu?"
Gue bisa dengar suara tawanya meski kecil. "Tumben lu di rumah, Bar."
Karena dia masih juga gak masuk ke dalam rumah padahal udah gue tawarin, jadi gue yang nemenin dia di teras depan. Iya, udah gue tawarin minum juga, tapi katanya gak haus. "Karena nyokap gak ada di rumah makanya gue pulang."
"Lagian kenapa juga pake sewa apartement sih Bar, kalau tiap hari juga nongkrongnya di Poncer."
"Kenapa sih, Mbak? Kan gue cuma mau mandiri."
"Manggil gue mbak lagi, gue injek leher lu ya, Bar."
"Iya, ampun."
Gue sama Lay masih asik duduk di teras pas tiba-tiba dia ubah haluan duduknya jadi menghadap gue dengan kedua kaki yang naik ke atas kursi. Matanya natap gue dengan lekat, yang gak tahu kenapa jadi bikin gue agak deg-degan. Baru kali ini gue lihat wajah dia sedekat dan seintens ini. Mana dia senyum lagi.
"Tapi iya sih, Bar," Lay akhirnya buka suara, sambil terus natap gue. Seakan nelaah sesuatu di wajah gue. Yang ganggu itu senyumnya. Bisa gak pake senyum gak sih, Lay. Gue deg-degan. "Kalo dilihat lagi, elu sekarang udah perjaka ya, Bar."
"Lay—"
"Perasaan dulu masih suka nangis kalau ditinggal abang lu main sama Bang Genta."
"Itu udah lama banget ya, Lay—"
"Since when you grow up this fast, Nala Baruna?"
Bukan. Bukan pertanyaan Lay yang bikin gue speechless gak bisa jawab. Bukan juga suara dia yang manggil gue dengan nama lengkap —ya, itu lumayan bikin deg-degan juga sih, tapi tangan dia yang tahu-tahu udah sampai di atas kepala gue. Mengacak rambut yang memang sengaja gue gondrongin. Anjir lah, rambut gue yang diacak-acak, hati gue ikut berantakan. Dan tolong siapa pun, tolong kasih tahu ini Salayna Agni untuk gak senyum terus. Kesian jantung gue.
Gara-gara ini juga, gue jadi sadar kalau omongan melankolis Dipta tempo hari itu ada benarnya. Cukup sentuhan kecil untuk menumbuhkan rasa. Seperti sentuhan kecil dari perempuan di depan gue yang ternyata berefek ke gue. Ada rasa yang tumbuh, tapi gak bisa gue jabarin. Terlalu mendadak dan agaknya menyenangkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Obrolan Rasa
RomanceHanya obrolan soal rasa dari banyak macam manusia yang berkumpul di bawah Pohon Ceri. Rasa yang inkonsisten. Rasa yang absurd. Rasa yang sulit diprediksi. Ya, hanya sebatas obrolan soal rasa.
