05 - Bertengkar Dimulai

26 2 0
                                        

"Mah maafin Fire ya, sudah buat kalian bercerai." ucapku saat hendak berpamitan dengan Mama yang akan kembali ke Bogor. Mama menegaskan bahwa semua yang terjadi bukan karena kesalahanku, terlihat ia menitikkan air mata aku langsung mengusapnya perlahan. Perpisahan sementara ini diakhiri oleh pelukkan yang hangat.

Jujur saat aku 3 hari di Jakarta, tinggal bersama Mama, Papa, dan Karina. Tidak ada rasa tak betah dalam diriku, mungkin karena mereka darah dagingku sehingga ikatan batin yang kuat membuatku nyaman. Meski masa lalu yang pahit masih menghantui, sehingga masih sering menangis sendirian hehe. T-tapi di sisi lain rinduku pada Ayah Bunda sangat membadai, begitu juga kepada Arvhie. Uhh dasar bucrut, bucin brutal. Akupun kembali pada kehidupan seperti biasa yaitu, sekolah dan kalo malam minggu suka double date sih. Double date? iyaa aku dengan Arvhie lalu Mikha dengan Azka. Hahaha aku lupa memberi tau kalian, bahwa Mikha berpacaran dengan Azka. Bahkan mereka sudah lebih dulu menjalin hubungan daripadaku. Sedikit cerita, dulu itu aku sering menjadi kamcong. Sekalinya punya pacar eh malah selengki, ntahlah cowo itu semuanya sama kecuali Ayah, Arvhie dan tak bisa dipungkiri Azka pun termasuk goodboy. Anak Tante Mita itu sangat menyebalkan, namun aku salut sih pada dia bisa setia dalam menjalani hubungan, meski si Mikha itu cemburuan berat orangnya. Ya Allah ghibah, pamali.

Senin pagi, aku telat datang ke sekolah dan y aku dihukum. Untung aku tidak sendirian, ada Flora juga disana. Namun sikapnya tak menggambarkan Flora yang aku kenal, ia sinis kepadaku. Aku ajak ngobrol pun, ia selalu menghindari dan fokus menyikat kloset toilet. Mungkin dia sedang ada masalah keluarga, pikirku. Setelah kami dihukum sekitar 1 jam, barulah dipersilahkan mengikuti pembelajaran oleh Pak Wawan, guru bk yang sangat baik seperti Jinora. Pembelajaran pun dimulai, seperti biasa aku menjadi murid yang aktif menjawab maupun bertanya. Istirahat tiba, aku membawa bekal roti. Tadinya sih pengen makan bareng Mikha, cuma ada Azka. Rotiku bisa habis dimakannya, akupun memutuskan untuk bergabung dengan Flora dan Reta. Ternyata tak hanya Flora, Reta pun bersikap sinis kepadaku. ADA APA DENGAN KALIAN BERDUA?

Aku tak berani bertanya hal - hal yang berbau sensitif kepada mereka. Terpaksa roti yang sangat enak ini, dimakan dalam keadaan mood anjlok. Sepulang sekolah aku mencegat Flora dan Reta di gerbang sekolah untuk pulang bareng dan terbuka akan sikap mereka padaku. Namun Flora malah mendorongku dan Reta terlihat kebingungan ingin menolongku yang jatuh tapi ragu-ragu. Namun datang Mikha, ia memarahi Flora dan Reta dan membantuku beranjak dari tanah.

"WOY KALO ADA MASALAH ITU OMONGIN BAIK-BAIK." Teriak Mikha pada Flora & Reta sehingga semua pandangan orang-orang tertuju pada kami. Flora menarik Reta untuk meninggalkan kami, lanjut Mikha memarahiku. Ia kesal denganku yang tidak melawan, namun aku hanya mengelak. Setelah menyapu belakang rok yang kotor dengan tangan kosong. Mikha menawarkan aku pulang dengan Azka, "Terus maneh gimana pulangnya?." ia menganggap sepele pertanyaanku sambil menunjuk angkot. Di perjalanan aku dimarahi oleh Azka karena hal yang sama, iyaa bagus semua orang marahi saja aku. Aku mendengus kesal sepanjang jalan, untungnya pas pulang ke rumah disuguhi wangi opor yang sudah tercium dari teras. Dunia ini terasa sempurna saat Bunda sudah memasak opor ayam, lalu aku goreng ayam opor itu dan disajikan dengan nasi panas. Ahh mantap, apakah ada yang satu sekte denganku?

Menyendiri di kamar membuatku teringat kembali sikap Flora dan Fauna, eh Reta maksudku. Waktu Bagian Overthinking dimulai, masalahnya kenapa bisa begini padahal kami sangat dekat sekali. Aku, Flora dan Reta malah satu tetangga, kita bertiga pun sama-sama anak karang taruna. Mana besok ada rapat di rumah Reta untuk membahas imunisasi dengan ketua RW, pasti akan kikuk.

Dan benar saja, dari rapat dimulai hingga selesai mereka mengacuhkanku. Hingga Pak RW merasa aneh dan bertanya padaku "Apakah baik baik saja neng? kalo ada apa-apa sama Reta bilang saja yah." lalu aku menjawab "Gaada pak, aman hehe." Melihat ada yang tak beres, Ayah yang tadinya sedang mengobrol dengan bapak-bapak langsung mengajakku pulang.

Malam ini aku dan Mikha video call hingga larut malam. Aku tidak curhat tentang rapat tadi, takut Mikha marah. Ia terus bercerita tentang Azka, karena tadi sore ditinggalkan tanpa sengaja di parkiran mall. Aku hanya curhat mengenai perceraian Mama Papa.

"Mik mereka cerai bukan salah aing kan?." tanyaku dengan hati-hati.

"Bukanlah gilak, otak maneh mungil banget sih." Mikha ngegas.

Tak sempat di end, tak sengaja aku ketiduran. Katanya sih, Mikha terus memanggil takut aku meninggal dalam keadaan vidcall haha. Seminggu sudah, sikap Flora dan Reta masih sama saja. Padahal aku sudah mencoba meminta maaf meski tak tau apa salahku. Tiba saatnya hari imunisasi yang lebih tepatnya hari sabtu, kami anak-anak karang taruna bertugas masing-masing. Namun sikap mereka seperti memainkanku, aku disuruh mengerjakan tugas mereka berdua. Apakah ini kesempatan emas bagi mereka untuk membully ku? apakah ada kesalahan lain yang telah mereka pendam sejak lama?

Saat kami beberes alat imunisasi, Flora menyenggolku dengan sengaja sehingga jatuhlah semua alat, bahkan diantaranya ada yang pecah. Tak tahan dengan sikapnya, aku meluapkan emosi. Kami saling tarik menarik rambut hingga rontok, di pisahkan oleh Kang Ari, ketua Karang Taruna. Disaksikan oleh Papa yang kepanikkan melihat kami, ia datang kemari tanpa sepengetahuanku. Setelah kami diamankan ke rumah masing-masing, Ibunya Flora mendatangi kediaman ku dengan tidak sopan. Wanita pemilik nama Vera itu bahkan mendobrak pintu dan bicara sambil berteriak, pokoknya ia sangat menghakimi aku sambil menunjuk-nunjuk. Padahal sudah sangat jelas kalau Flora yang salah, aku juga salah sih cuman dia yang mulai duluan. Bu Vera dan Bunda saling adu mulut membela putrinya masing-masing. Ayah mengamankan Bunda yang terlihat sudah berbusa karena tak henti menanggapi Bu Vera.

Lalu, Papa memberi kami solusi yaitu Aku dan Flora dipertemukan dalam suasana hati yang sudah tenang. Bu Vera menyetujui meski awalnya masih tidak ingin kalah, ia lalu digeret suaminya yang tak lain ialah Ustadz di lingkungan kami.

"Udah umi, malu mi." 

-Bersambung-

4 TersayangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang