Chapter 1 [Pagi Indah]
Pagi hari yang indah seminggu setelah kabar jika Indonesia telah membuat kekacauan di sebuah gedung bersama suatu 'organisasi' besar.
Aku telah mengenal Indonesia sejak kami berada di sekolah yang sama. Aku tidak menyangka ia melakukan hal itu, tapi bisa saja ia berubah tidak seperti Indonesia yang ku kenal 7 tahun yang lalu.
Saat kami berada di sekolah yang sama, dia adalah anak penurut, baik hati, dan sedikit pendiam. Aku tak tau banyak tentangnya, aku hanya tau jika ia bukan seperti manusia biasa pada umumnya.
Terakhir kali aku melihatnya saat ia mengatakan ia memiliki keluarga angkat, yah setelah itu aku tidak pernah melihatnya lagi, aku mengurung diri dirumah untuk waktu yang cukup lama.
Cukup lama aku mengurung diri dan hanya makan makanan yang ada di rumah. Sesekali aku tahu ada seseorang yang memberikan ku bahan makanan di depan pintu, apakah karena aku menyedihkan?
Tapi tak apa, selama aku masih bisa menikmati pagi dengan teh hangat dan juga roti panggang, aku bisa bertahan hidup untuk waktu yang lama.
Aku menyesap teh yang ku buat persis seperti apa yang aku lakukan kemarin dan kemarin dan kemarin. Aktivitas ku akan terus terulang, namun hari ini ada sesuatu yang berbeda.
*Tok tok tok
Seseorang mengetuk pintu, jarang sekali ada yang bertamu ke rumah ini. Aku beranjak dari kursi dan mendekati pintu lalu membukanya dan melihat terdapat dua orang disana.
Kedua orang itu sedang beradu mulut, entah apa yang mereka inginkan di depan rumahku lantas aku pun menutup pintunya.
"Mungkin salah rumah" batinku. Namun pintu itu di ketuk kembali.
Saat ku buka, mereka berdua sudah berdiri dengan sopan. Kelihatannya mereka seperti mencari seseorang.
Mereka memakai jubah yang menutupi kepala mereka. Jubah itu berwarna putih dan satu lagi berwarna biru.
"Ah maaf telah mengganggu pagi mu- a... jadi... ... kau saja lah yang berbicara" anak dengan jubah putih itu menoleh ke orang yang di sampingnya, wajah anak berjubah biru itu kelihatan malas seklah-olah berkata "Ga dulu, makasih. Lakukan saja sendiri" setidaknya itu yang ku pikirkan.
Anak dengan jubah putih itu terus merengek minta temannya yang berbicara, namun terus di tolak hingga ia menyerah."
"Kamu tau kondisi temanmu yang bernama Indonesia?"
Hah? Setelah mendengar itu aku langsung mengeluarkan ekspresi terkejut sekaligus bingung. "Bagaimana kau tau itu temanku?" Ucapku.
Anak dengan jubah putih itu tersenyum lalu mengangkat wajahnya, sekilas aku bisa melihat helai rambutnya dan juga wajah manisnya.
Anak itu hanya tersenyum, wajahnya terlihat seperti ia tau segalanya namun tidak mengatakan yang sejujurnya. "Tentang temanmu itu, bisakah kau menolongnya? Dia tidak bisa mati begitu saja"
Ku dengar, Indonesia memang tidak akan bisa bangun, hanya menunggu waktu ia mati. Aku penasaran apa yang terjadi padanya di saat-saat koma, apakah ia sedang berimajinasi?
"Kau tau penyebab koma-nya?" Lanjutnya, aku menggeleng, yang membuat diriku sendiri menyadari jika aku tidak tau apa-apa soal Indonesia sekarang. "Kalau begitu, mau kah kau membantunya? Bisakah kau cari pelaku dibalik koma-nya Indonesia?"
Aku terdiam sejenak, berpikir kenapa aku harus melakukannya. "Kenapa tidak orang lain saja? Seperti saudara Indonesia?" Tanya ku, anak berjubah putih itu tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. "Sebelum Indonesia koma, di pagi hari ia berdebat dengan keluarganya. Mana mungkin kami meminta mereka"
Itu adalah hal yang masuk akal, tapi kenapa harus aku? Orang yang telah lama tak bertemu Indonesia 7 tahun lamanya.
Anak berjubah itu merogoh tas kecilnya seperti mencari sesuatu. Sambil tersenyum, ia mengeluarkan suatu barang dengan cahaya di sekitar barang itu. Lalu ia memberikannya kepada ku, dan itu adalah sebuah pisau dengan motif elegan.
Aku berpikir aku disuruh untuk membunuh seseorang, dan pikiran ku benar. "Aku tau kau sudah mengetahuinya kan, aku memintamu untuk membunuh sang pelaku" ucapnya dengan wajahnya yang terlihat tak berdosa itu.
Yang ku pikirkan cuma 1 hal, "Mr. UN?". Aku tau Mr. UN adalah korban, namun hanya hal itu yang ku pikirkan tentang 'pelaku' penyerangan itu.
Mungkin memang sudah dari sananya anak ini terus tersenyum, bahkan dugaanku hanya di balas senyuman manis tak berdosa itu. Sedangkan anak jubah biru itu hanya diam sedari awal.
Anak berjubah putih itu memegang tanganku, tangannya terlihat pucat dan dingin tidak seperti tanganku yang hangat. "Tolong ungkap kebenarannya ya, tanganmu lumayan hangat ya... sudah lama..."
Ia terus mengelus dan memperhatikan tanganku, entah apa yang anak ini pikirkan, tapi aku penasaran.
Akhirnya mereka berdua izin pamit, sebelum mereka pergi aku sempat menanyakan nama mereka tetapi percuma, mereka sudah pergi.
Aku kembali masuk ke dalam rumah sambil membawa pisau itu, melihat ke arah jam untuk mengetahui berapa lama aku mengorbol. Namun, jam itu tidak berubah sedari aku keluar. Apakah jam itu mati?
KAMU SEDANG MEMBACA
Who? [CountryHumans?] [End]
FantasyKejadian yang menimpa temanku malah membuatku terlibat. Aku di datangi oleh dua orang asing, memintaku untuk menyelidiki kasus teman ku. Hidupku yang hampa selama bertahun-tahun akhirnya mulai terisi dengan beragam hal random. Namun, apa memang haru...
![Who? [CountryHumans?] [End]](https://img.wattpad.com/cover/301574410-64-k659208.jpg)