Chapter 10 [Pengakuan sang pelaku]
Nama WHO keluar dari mulut UN. Ada apa dengan WHO?
"WHO?"
UN mengangguk, "Dia adikku. Adik perempuanku. Ciri-cirinya sangat mirip dengan apa yang kau sebutkan."
Mc tak mengenal siapa itu WHO, tapi memangnya dia pelakunya? Siapa tau mirip doang.
UN juga berharap seperti itu, sayangnya pada hari itu, WHO yang membawa Indonesia ke rumah sakit dalam keadaan tidak sadarkan diri. Mana mungkin nemu di jalan, kan? Eh tapi bisa aja
Jika memang WHO adalah pelakunya... "Bolehkan kau tunjukan dimana ruangan WHO?"
"Ah- tentu saja" wajahnya terlihat meragukan.
Mc berdiri dari kursinya, merapihkan bajunya, "Tunggu, jika kau bertemu dengan France. Tolong bujuk dia masuk kantor lagi ya? France adalah orang yang selalu mendengarkan ceritaku, tapi beberapa hari ini ia tidak masuk. Jadi kalau bertemu dengannya, tolong sampaikan jika aku menunggunya ya?"
Entah bagaimana perasaan UN jika ia tau France tertidur untuk sementara waktu yang tidak diketahui seberapa lama. Mc merasa bersalah karena dirinya, UN menjadi tambah merasa sendirian karena France tidak ada.
Dan kelihatannya, UN memang tulus mengatakan semua itu.
Mc mengangguk, tentu ia akan menyampaikannya jika ia bertemu France. Jika memang bisa bertemu lagi.
Mereka berdua keluar dari ruangan. Sebelum pergi ke ruangan WHO, Mc meminta izin untuk ke toilet sebentar, UN mengangguk dan menunggu ditempat yang sama.
Mc tau dimana letak toilet karena tadi sempet lewat. Azha menatap kearah Mc yang berlari dan semakin lama semakin menghilang.
"Lama tidak bertemu, Azha"
"Huh? Kupikir kau sudah melupakan kehadiranku disini"
"Mana mungkin bisa ku melakukan itu, dasar perecok (orang yang membuat ribut)"
Di toilet, Mc langsung ke wastafel dan membasuh mukanya dengan air itu. Dingin juga, tapi seger. Ia tidak menyangka jika WHO adalah pelakunya. Walau ia tidak mengenalnya, tapi WHO adalah orang yang bekerja dibidang kesehatan, kan?
Lebih mengejutkan mengetahui jika pelaku yang selama ini dicari-cari olehnya adalah adik dari UN. Apa-apaan ini, kenapa kakak adek sama² cari masalah? Atau memang begitu?
Mc menatap pantulannya di cermin lalu mencuci tangannya. "Kenapa aku begitu terkejut dengan ini? Ini bukan hal yang sangat mengejutkan. Eh... tapi ini hal yang ga pernah ku tebak sih... dhlh" ia menepuk-nepuk kedua pipinya lalu mengeringkan tangan dan wajahnya.
Jika pelakunya sudah ditemukan, pasti semuanya akan berakhir, kan? Sudah 2 bulan sejak ia bertemu dengan Azha dan temannya. Menikmati waktu yang berjalan, tidak seperti tahun² lalu yang tidak ada artinya, kali ini hidupnya berbeda.
Apa yang terjadi saat semuanya selesai? Apakah ia akan kembali ke hidupnya yang membosankan?
"Mungkin aku akan mencoba kembali bersekolah seperti dulu. Entah bisa atau tidak" gumamnya.
Ia membuka pintu toilet dan kembali ketempat UN dan Azha berada.
"Rasanya aneh saat kau datang kesini tanpa membuat kegaduhan"
"Mana mungkin begitu, pasti nanti akan ada sebuah kegaduhan yang terjadi"
UN dan Azha mengobrol tanpa saling melihat satu sama lain entah kenapa.
Mc pun muncul dari ujung koridor, berjalan dengan tegak seperti sudah siap bertemu dengan sang pelaku.
"Sudah? Ruangan WHO tidak terlalu jauh dari sini"
KAMU SEDANG MEMBACA
Who? [CountryHumans?] [End]
FantasyKejadian yang menimpa temanku malah membuatku terlibat. Aku di datangi oleh dua orang asing, memintaku untuk menyelidiki kasus teman ku. Hidupku yang hampa selama bertahun-tahun akhirnya mulai terisi dengan beragam hal random. Namun, apa memang haru...
![Who? [CountryHumans?] [End]](https://img.wattpad.com/cover/301574410-64-k659208.jpg)