Chapter 5 [Makan siang di Restoran]
Pagi ini aku memutuskan untuk mengganti menu sarapan. Tidak, aku tidak akan memasak apapun, aku akan menunggu siang hari agar aku bisa makan di luar. Memang tidak enak harus menunggu waktu berjam-jam tanpa melakukan apapun.
Kira-kira apa yang bisa aku lakukan? Rumah sudah cukup bersih, tak perlu dibersihkan lagi. Sekarang yang bisa aku lakukan sepertinya hanya tidur di lantai dan tidak bergerak. Benar-benar membosankan.
Aku tidak sadar jika aku sudah tertidur pulas dalam beberapa menit, lalu terbangun oleh suara ketukan pintu. Aku penasaran siapa yang mengetuk pintu pagi ini, apa mungkin anak berjubah itu? Kalau memang dia, itu adalah hal yang bagus! Aku bisa bertanya apakah aku boleh menerima bantuan France atau tidak.
Aku berdiri lalu berjalan kearah pintu sambil berharap yang datang adalah anak berjubah biru itu, tapi jika bukan dia juga tak apa. Saat ku buka pintunya, ternyata France yang berada disana dengan keranjang piknik di tangannya.
“Selamat pagi…” sapanya, awalnya aku sedikit terkejut akan kedatangannya, dia kan tak tau apa-apa tentangku “Pagi juga France. Ada apa?”
Aku mengajaknya masuk ke dalam, seharusnya aku menyeduh teh jika tahu ia akan datang. Ia menaruh keranjang pikniknya diatas meja makan lalu membukanya. Ah aku mencium aroma roti yang baru keluar dari oven! Benar-benar aroma yang enak.
“Aku ingin mengajakmu makan di luar, tapi karena ini masih pagi dan jarang ada toko yang sudah buka, akhirnya aku membawakanmu roti” katanya sambil menunjukan keranjang pikniknya yang penuh roti.
Aku menguntip ke dalam keranjang, roti-roti itu terlihat enak! Rasanya aku ingin segera mengambil satu lalu menikmatinya dengan teh. Dan akhirnya aku sarapan dengan roti dan teh hangat lagi.
"Apa aku boleh meminjam dapurmu? Aku akan menyeduh teh yang cocok untuk roti-roti ini, kau boleh menikmatinya selama aku disana" orang ini benar-benar baik! Rasanya sungguh menyenangkan.
Setelah memperbolehkan France mengambil alih dapur, aku langsung menyomot salah satu roti yang masih hangat.
Tanganku kepanasan saat memegangnya, namun saat ku gigit, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ini terlalu enak! Lebih enak daripada roti yang biasa ku buat! Oh France, jika begini kau boleh menjadi koki di rumahku.
Mulutku terus mengunyah roti lembut itu sampai aku mencium aroma yang tak biasa. Aroma teh yang tak pernah ku ketahui sebelumnya.
France kembali ke meja dengan seteko teh panas dan dua gelas. "Bagaimana rotinya?" tanya France, aku langsung menjawab pertanyaan itu dengan penuh semanga, “itu adalah roti terenak yang pernah ku makan!”
"Terima kasih, aku senang kau menikmatinya. Awalnya aku takut kau tak menyukai roti seperti ini dan menganggu waktu tidur mu" kata France, dia tidak tahu jika aku selalu bangun pagi untuk sarapan dan tidur lagi setelahnya.
"Ah iya, kemarin aku tidak sempat menanyakan alamat mu, jadi aku bertanya ke para staff yang mungkin mengenalmu. Tapi aku malah mendapatkan alamatmu dari atasanku" jelas France.
Bagaimana atasannya tau alamatku? Apakah ia mengenalku? Padahal aku tidak bertemu siapapun selama 7 tahun terakhir, mustahil seseorang yang tak ku kenali mengetahui alamatku.
France menuang teh dari teko ke gelas, aroma teh itu menyelimuti ruangan ini. Kelihatannya teh itu masih panas, aku tidak akan bisa menikmati teh itu sekarang.
Kami berdua menikmati roti dan teh yang dibawa France bersama-sama. Suasananya sangat berbeda dibanding aku sarapan sendiri setiap hari. Seru rasanya saat kami menikmati sarapan sambil mengatakan hal-hal yang tak penting.
KAMU SEDANG MEMBACA
Who? [CountryHumans?] [End]
FantasyKejadian yang menimpa temanku malah membuatku terlibat. Aku di datangi oleh dua orang asing, memintaku untuk menyelidiki kasus teman ku. Hidupku yang hampa selama bertahun-tahun akhirnya mulai terisi dengan beragam hal random. Namun, apa memang haru...
![Who? [CountryHumans?] [End]](https://img.wattpad.com/cover/301574410-64-k659208.jpg)