14 : Accept My Kiss

462 49 0
                                        

Abraham terbaring di ranjangnya dalam kegelapan. Bahkan malam cerah dengan sinar bulan malam ini pun tak mau masuk ke sana.

Dia lalu bangun perlahan, mengambil sesuatu dari dalam laci. Tak ada kesulitan untuk melakukannya, walau tak ada satupun penerangan. Abraham dengan lihai mengambil sesuatu yang dia butuhkan selama bertahun-tahun itu.

Yaitu sebuah botol kaca kecil yang berisi pil berwarna merah terang, dia lalu mengambil beberapa dan menenggak nya sekaligus.

Tanpa sadar air matanya turun, dia tersenyum bak orang gila. Keringat mulai bercucuran di seluruh tubuhnya. Deru nafasnya mulai memburu. Detak jantung nya mulai berdetak cepat. Kepalanya merasa berputar. Dan kesadarannya mulai melemah hingga dia tak mampu berjalan dengan tegak.

Dia mulai meracau dan terus menerus memanggil nama 'ANASTASIA'. Dengan sisa tenaga yang ada, dia lalu mengambil sebuah kamera foto lawas yang dulu selalu ia bawa kemanapun dia berada.

Tak ada alasan spesifik, selain karena kamera itu adalah pemberian Anastasia dan juga penuh akan memori indah mereka berdua.

Dengan perlahan, Abraham membuka satu persatu file dimana memperlihatkan dia dan Anastasia berfoto bersama.

Abraham tanpa sadar tersenyum melihat foto itu. Sejak dulu gadis itu selalu nampak menawan. Dia selalu tersenyum manis dengan pita merah di rambut nya.

Dia menggeser satu persatu foto tersebut hingga tanpa sadar dia teringat kembali masa itu. Masa kelam yang paling menyakitkan di hidup seorang Abraham.

Yaitu hari dimana dia berpisah untuk yang terakhir kalinya dengan Anastasia-nya.

































Flashback off



"Hati-hati An, kau bisa jatuh nanti" Peringat Abraham melihat tingkah aktif gadis itu yang melompat-lompat kegirangan.

"Aku memang sengaja. Agar kau bisa menangkap ku" Balasnya sambil mengedipkan sebelah matanya.

"Dasar gadis nakal"

"Wleeee..."

Anastasia langsung berlari sambil menjulurkan lidahnya ke arah Abraham. Berniat untuk menggoda laki-laki itu.

Tapi bukannya marah ataupun membalas perbuatannya. Abraham malah tersenyum. Dan berpikir bahwa apapun yang dilakukan oleh Anastasia-nya terlihat begitu menawan dan cantik.

Tapi bukan Anastasia-nya kalau dia tidak keras kepala. Dia tetap  berlarian kesana kemari dengan senyum yang mengembang di wajah cantiknya.

"Apa kau tidak lelah?"

"Tidak selama aku terus bersamamu"

Wajah Abraham tiba-tiba saja memerah. Rasanya benar-benar aneh di saat dirinya mengalami hal ini. Semenjak dia bertemu dengan Anastasia, degup jantungnya sering berpacu dengan cepat.

Setiap kata yang diucapkan oleh gadis itu terasa seperti sebuah puisi yang indah di telinga nya. Intinya, semua hal yang dilakukan oleh Anastasia-nya, dia suka itu.

'BRAK'

"ANASTASIA!"

Abraham berlari ke Anastasia, membawa lembut gadis itu ke pangkuannya. "An.. bangun! Anastasia! Bangun! Aku mohon" Isak nya sambil mengusap wajah gadis itu yang telah berlumuran darah.

"TO..!"

Belum sempat Abraham meneruskan kalimatnya, gadis itu mulai menggenggam erat tangan nya dan bersuara dalam kesakitan.

OBSESSION DEVILTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang