Chapter 4

163 19 6
                                        

Yoo Alanders


Suasana kelas yang awalnya riuh mendadak hening saat sang wali kelas masuk dan pelajaran pun dimulai. Tak banyak pembahasan diawal semester ini, sang wali kelas hanya menjelaskan beberapa kegiatan yang wajib diikuti selama satu semester kedepan.

"Genna?! Kenapa kamu belum ngumpulin formulir ekskul? Kamu gak akan ikut ekskul selama tiga tahun disini? Nilai ekskul kamu selalu kosong, kamu perlu nilai itu!" Tegur sang wali kelas.

"Iya pak, akan saya kumpulkan segera!" Jawabnya pelan.

"Saya tunggu!" Final pria itu.

Genna membenturkan kepalanya ke meja, ia meringis. Bagaimana bisa ia mengikuti ekskul kalau Alan tak mengizinkannya? Teman sebangku Genna mengelus punggung gadis itu.

"Lo kenapa sih Gen?" Tanya Slena penasaran.

Genna tak menjawab.

"Saran gue ya, lo gabung aja bareng tim basket biar kita sama-sama terus!" Saran Selena.

Ia menatap Selena. Genna memang sudah lama menaruh minat pada cabang olahraga yang satu ini. Laska juga sering mengajarkannya tentang permainan itu, ia rasa dirinya tak terlalu buruk.

"Jadi hari ini saya akan mengumumkan nilai ulangan kalian dua hari yang lalu, juga nilai remedial!" Jelas sang wali kelas.

Pria itu mulai membacakan nama siswanya berdasarkan urutan absen beserta nilainya. Genna memejamkan mata ketika namanya disebut.

"Genna Harmeoni Samudra, nilai kamu lima puluh! Besok kamu remedial untuk yang ketiga kali. Saya tunggu setelah pulang sekolah!" Ujarnya.

Beberapa siswa tampak menertawakan Genna. Ia semakin gencar membenturkan kepalanya pada meja karena malu.

"Gerallia Anastasya Selena, kamu dapat seratus seperti biasa, pertahankan prestasi kamu!" Lanjut pria itu.

Seisi kelas bertepuk tangan untuk Selena yang selalu mendapat nilai sempurna, Selena tersenyum kecil. Namun, melihat temannya yang frustasi ia kembali mengelus punggung Genna. Gadis itu amat frustasi dengan ekskul juga nilai matematikanya. Tidak bisakah ia menghapus nilai D alias tujuh puluh yang merupakan KKM terendah? Nilai ulangannya selalu merah. Diantara teman-teman sekelasnya Genna adalah yang paling parah. Jika nilai terendah pada temannya yang lain adalah delapan puluh lima maka ia mendapat tujuh puluh.

"Genna, udahlah! Jangan nyerah. Ini cuma angka lho! Lo pasti bisa dapet yang lebih tinggi!" Ujar Selena menenangkan.

"Masalahnya kalo nilai gue kayak gini, gimana gue masuk universitas?" Keluh gadis itu.

"Masih ada waktu buat perbaiki semuanya!" Sela Selena.

"Tau ah, gue pusing!" Rutuk Genna.

~~~

Genna duduk di kursi gantung sambil membaca buku. Namun, pikirannya tak bisa fokus. Ia terus memikirkan nilai ulangan juga formulir pendaftaran ekskulnya.

"Kenapa juga nih formulir harus pake tanda tangan orang tua, kalo minta sama bunda pasti kak Alan tau, kalo sama ayah pasti di suruh izin ke kak Alan.....ishh!! Alan sialan, bisa gak sih lo gak ikat hidup gue?!" Rutuknya kesal.

"Tapi kalo bilang ke Laska aman kok!" Celetuk seseorang.

Genna terlonjak kaget, ia menoleh dan mendapati Laska yang berdiri disisi kursi gantungnya.

"Ya ampun kak, ngagetin tau gak!"

Laska tersenyum.

"Maaf, kamu sih ngelamun!" Balasnya santai.

Heart GrafterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang