Happy reading!
Pagi ini suasana sekolah tampak seperti biasanya, selalu ramai dan selalu menyenangkan juga menegangkan. Selalu ada hal yang dinantikan setiap kali kedua kaki dibalut sepatu kets hitam putih ini, menginjak halaman sekolah.
Aira tersenyum ramah, menyapa seorang satpam sekolah yang sudah cukup dikenal oleh seluruh siswa/siswi sekolah ini. Pagi ini penampilan Aira tampak lebih santai, rambut diikat lebih tinggi dari biasanya, wajah yang tampak lebih ceria.
Oh iya, sakitnya juga sudah sembuh.
“Ra!” panggilan itu membuat Aira menoleh ke belakang, dan mendapati Angga yang kini berjalan beriringan dengannya.
“Oy! Kenapa?” Tanya Aira santai, seakan mengabaikan fakta bahwa kemarin selama diboncengan Angga ia menangis.
“Lo udah sembuh?” tanya Angga tanpa sadar meneliti wajah gadis itu, karna kemarin wajah Aira tampak lebih muram, pucat, bahkan sendu. Bohong jika Angga tidak sadar, selama ia mengantar Aira ia bisa melihat Aira menunduk menangis.
“Udah kok,” jawab Aira tersenyum tipis menampilkan deretan gigi rapinya.
Angga hanya mengangguk, namun seketika ia merapatkan diri pada Aira dan berbicara berbisik. “Ra, jujur sama gue, kemarin lo kok bisa ke rumah sakit sama Bang Mark?” tanya Angga berterus-terang dan berhasil buat Aira menurunkan bahu, menghela nafas.
“Panjang ceritanya…”
“Yaudah ceritain, gue selalu punya banyak waktu buat dengarin cerita elo!”
“Dangdut amat mulut lo itu!” cerca Aira tertawa mendengar kalimat puitis Angga.
“Ck, serius Aya!” Cetus Angga berhasil membuat Aira tersentak lantas berhenti, menoleh dengan mata melebar menatap Angga.
“Ngga! Jangan panggil gue itu dong…” sungut Aira agak sebal.
“Kenapa? Bukannya lo dulu suka gue panggil dengan sebutan itu?” balas Angga gak mau kalah, namun berhasil membuat Aira melotot kemudian memukul pelan bahu pemuda itu.
“Kan dulu!” tandas Aira gak terima, dan Angga mendengus hingga kemudian keduanya kembali berjalan beriringan.
Yah! Fakta selanjutnya, Aira sempat dekat dengan Angga cukup intens. Hanya saja keberadaan Ryano selalu menjadi perusuh diantara mereka berdua, hingga seperti ini.
“Kalau dulu gue tembak lo, apa bakalan ada yang berubah?” pertanyaan tak disangka-sangka itu meluncur sempurna, keluar dari mulut Angga.
“Adalah! Makanya lo jadi cowok itu gentle dikit kek!” Balas Aira agak sebal mengingatnya.
“Tapi—”
“Apa?!” balas Aira agak galak. “Lagian, lo dekatin gue! Tapi lo dekatin tuh si Nyi Pelet di kelas kita, sadar dikit elah! Lo pikir gue cewek apaan!” omel Aira agak sebal mengingatnya, menyebutkan salah satu musuh terbesar di kelasnya yang sempat bertengkar dengannya.
“Gue pikir lo sukanya sama Ryano… makanya gue jauhin elo dengan dekatin Salwa…”
Aira menarik nafas panjang, sejujurnya membenarkan kalimat Angga. Buat saat ini. Karna ia mulai menyadari perasaannya belakangan ini.
Karna sebelumnya, Aira memang jatuh hati pada Angga, namun Aira juga nyaman setiap kali bersama Ryano.
“Udah deh, Ngga! Jangan dibahas hal yang dulu-dulu! Mending kita berdua mikirin gimana caranya biar gak remed ulangan Matematika!” keduanya tanpa sadar sudah berjalan menaikin tangga berdua.

KAMU SEDANG MEMBACA
Is Still Just?
Teen Fiction"Kenapa cewek-cewek suka cowok Bad boy?" Tanya Aira menatap cowok di sampingnya yang sudah babak belur berkelahi dengan anak sekolah depan. "Karna cowok Bad Boy itu ganteng!" jawab Ryan cepat buat Aira menggeleng tidak setuju. "Kalau cowoknya penyak...