10

40 7 2
                                        




Zoe sedang berkutat dengan ipadnya ketika bell penthousenya berbunyi.

Saat ini Zara sedang tidur, setelah Zoe selesai membereskan lukanya.

Zoe bergegas membuka pintu dan menemukan seorang pria berwajah dingin sedang berdiri di depan pintu dengan tatapannya yang mengerikan. "Kukira kau tidak akan peduli pada gadis bodoh itu."

"Mana Zara?" Tanya Aldrich tanpa basa-basi.

"Sepertinya kau terlalu khawatir. Tenang saja, gadis bodoh itu masih hidup. Lebih baik kau pulang saja." Sahut Zoe tenang tanpa merasa terintimidasi dengan tatapan pria dihadapannya itu.

"Minggir." Aldrich mencoba menggeser tubuh pria yang tidak kalah jangkung itu.

"Aku tidak memberimu izin untuk masuk." Sahut Zoe tanpa ada niat menggeser tubuhnya.  "Keluar dari hotel saya, atau kau akan menyesal."

Aldrich tersenyum sinis. "Aku tidak ada urusan denganmu. Aku kesini untuk menemui Zara."

"Kau pikir aku mau berurusan denganmu?" Sahut Zoe.

"Aldrich?"

Sebuah suara parau berhasil mengalihkan perhatian kedua pria berwajah dingin itu.

"Kau tidak ku izinkan keluar dari sini." Ujar Zoe pada Zara.

Tapi Zara tidak peduli. Dia berjalan semakin mendekat pada kedua pria itu dan tatapannya hanya ditujukannya pada Aldrich. "Kau tahu aku ada disini?"

"Apa kau sengaja melakukan ini? Menghilang dan membuat Catherine cemas? Kau tahu kalau aku sangat terganggu dengan ulahmu yang seperti ini? Catherine terus menerus menyuruhku untuk mencarimu. Kau benar—benar penganggu."

Bukannya merasa takut, Zara malah melemparkan senyumnya. "Kau datang mencariku? Kau mau aku pulang ke rumahmu? Baiklah. Mari kita pulang. Tunggu disini, aku harus mengambil tasku."

"Kau tidak dengar? Aku tidak mengizinkanmu keluar dari sini." Ujar Zoe datar.

Zara tidak menggubris, dia tetap melanjutkan langkahnya untuk mengambil tasnya.

Aldrich hanya diam saja.

Zoe mengikuti gadis itu. "Kau tidak boleh keluar dari sini?"

"Peraturan macam apa itu?" Sahut Zara santai. "Aku pergi dulu."

Zoe dengan cepat meraih pergelangan tangan gadis itu.

"Aww! Sakit, sialan!" Teriak Zara merasakan lukanya sakit karena Zoe menariknya dengan kasar.

Zoe segera melepaskan tangannya setelah sadar dia menekan luka gadis itu.

Aldrich memperhatikan dengan seksama kain kasa yang membalut pergelangan tangan Zara. Sebelumnya leher. Sekarang tangan?

"Aldrich! Kau tidak ada niat mau menyelamatkanku?"

Dengan langkah cepat dan tatapan dingin menusuk, Aldrich menghampiri Zara dan menarik dengan kasar tangan gadis itu. "Kau membuatku terlalu lama menunggu."

Zoe hendak menahan tubuh gadis itu, tapi gerakannya kalah cepat. Akhirnya dia mengalah. Dia membiarkan gadis itu dibawa oleh Aldrich. Bukan karena dia takut pada Aldrich. Hanya saja dia tahu gadis itu juga sangat ingin pergi.

"Pelan-pelan, aku bisa jatuh." Ujar Zara sambil berlari-lari mengikuti Aldrich. Tangannya masih ditarik paksa oleh pria itu.

Aldrich tidak menyahut. Wajahnya masih terlihat dingin mencekam. Sorot matanya begitu gelap. Siapapun yang melihatnya saat ini pasti merasa takut. Kecuali Zara, pastinya.

ZARATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang