8.

29 5 0
                                        


"Ma, jelas-jelas Zara sudah sangat keterlaluan. Berhenti memperdulikan anak bebal itu."

"Ponselnya tidak aktif. Mama khawatir terjadi sesuatu padanya."

Aldrich terlihat semakin frustasi melihat sikap Cath yang terus-menerus mengkhawatirkan Zara.

Keduanya kini sudah berada di mansion setelah terpaksa membatalkan acara makan malam itu karena insiden yang disebabkan oleh Zara.

"Terserah Mama saja. Aku mau beristirahat." Aldrich meninggalkan Cath begitu saja dan langsung masuk ke dalam kamarnya. "Sialan!" Umpatnya dengan suara keras sambil membanting vas bunga yang ada di kamarnya. "Berani-beraninya anak sialan itu mengacaukan rencanaku. Dia harus mendapatkan ganjaran dari perbuatannya malam ini."

Dia mengambil ponselnya mencoba menghubungi Zara, namun ponsel gadis itu masih belum aktif. Aldrich membanting ponselnya penuh emosi. Hancur. "Sialan! Dimana kau sialan?!"

Kemarahan sudah menguasai Aldrich. Dia bergegas keluar dari dalam kamarnya.

"Aldrich? Kau mau kemana?" Tanya Cath khawatir melihat Aldrich menuruni tangga dengan wajah yang penuh amarah.

Aldrich tidak menggubris. Dia tetap berjalan melewati Cath begitu saja, keluar dari mansion dan melajukan motornya dengan kecepatan maksimal menuju area mansion keluarga Hathway.

Aldrich tidak peduli jika sekarang sudah hampir tengah malam, dia harus bertemu gadis itu dan memberinya pelajaran.

"Tuan Aldrich?" Tanya petugas keamanan melihat Aldrich datang. "Nona Zara tidak ada di rumah"

Aldrich mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Kau tahu dia kemana?"

"Maaf Tuan, Nona Zara tidak membertahu saya kemana dia pergi."

Aldrich kembali menghidupkan motornya dan kembali melajukannya dengan cepat kembali ke mansionnya.

"Aldrich kau baik-baik saja?" Tanya Cath dengan wajah khawatir melihat putranya sudah kembali.

Aldrich tidak menyahut, dia masuk begitu saja dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tamu.

"Aldrich?"

"Anak sialan itu tidak ada di rumahnya, ponselnya juga belum aktif. Aku harus memberinya pelajaran malam ini." Ujar Aldrich dengan nada seperti orang yang sedang frustasi.

Perlahan Cath menghampiri putranya itu dan duduk di sebelahnya. "Mama mohon, jangan menyakitinya." Ujar Cath dengan suara serak menahan tangis. Entahlah, saat ini perasaannya benar-benar kacau. Dia sangat ingin menangis.

Dia sangat menyayangi Zara juga Aldrich. Zara salah karena sudah sangat keterlaluan, tapi entah mengapa Cath tidak ingin menyalahkan anak itu. Tapi dia juga tidak bisa menyalahkan Aldrich apalagi Zefanya.

"Setidaknya anak sialan itu harus meminta maaf, Ma. Tapi lihatlah, dia malah menghilang begitu saja."

"Iya Mama tahu. Zara memang salah. Kita tunggu saja, Mama yakin besok pagi dia akan datang kesini."

***

"Ayo sarapan." Ujar Zoe melihat Zara keluar dari dalam kamar mandi dengan rambut yang masih basah, membuat Zoe sedikit kesusahan menelan ludahnya.

"Aku langsung pergi saja." Sahut Zara sambil mengambil tas dan ponselnya.

"Aku akan mengantarmu." Zoe bangkit berdiri.

"Tidak perlu. Aku akan naik taksi saja." Sahut Zara cepat.

Zoe diam saja.

"Terima kasih sudah mengizinkan aku menginap di sini." Ujar Zara sambil berjalan menuju pintu.

ZARATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang