Satu hal yang Gleid dapat malam itu. Setelah mimpi buruk, dia mendapat paket dadakan di tengah malam. Kalian mau tahu isinya apa?
Sebuah polaid bergambar mermaid yang hanya menampilkan ekor saja. Random sekali. Si pengirim maksudnya apa, coba? Tidak jelas sekali!
"Aneh," gumamnya pada diri sendiri.
Mencoba berpikir positif, mungkin pengirimnya lagi gabut. Gleid tak habis pikir. Namun di satu sisi, Gleid tak bisa mengelak bahwa ia sangat menginginkan hal tersebut. Lumayan, tambah-tambah koleksi.
***
Pagi itu, Gleid sudah siap dengan seragam sekolah. Hujan yang sedari kemarin sore melanda bumi, rintik-rintik kecilnya masih juga terasa sampai sekarang. Hujan di luar belum reda. Jalanan pun tampak licin dan becek.
Siap dengan sebuah payung berwarna pink di tangan, Gleid melangkah keluar dari pekarangan rumah. Bertepatan dengan itu, sang ayah keluar bersama mobil Avanza hendak ke kantor. Gleid tersenyum cerah melihat itu. Harapannya sedikit menggantung pada pria paruh baya itu.
"Pa... Gleid bisa numpang, kan?" tanyanya saat pintu kaca mobil itu terbuka.
Terlihat sang ayah yang memakai kacamata enggan melirik ke arahnya. "Tidak usah manja dan jangan berharap kaki kotormu itu bisa menginjak mobil ini," ujarnya tajam, berhasil menohok ulu hati Gleid paling dalam.
Gadis itu diam membisu dengan tangan terkepal kuat di sisi seragamnya. Kepalanya menunduk. Ayahnya berlalu setelah mencipratkan air jalanan ke seragamnya membuat seragam putih abu itu berbekas noda.
Matanya ia pejamkan erat. Mencoba meredam emosi yang kian bergerumuh dalam dada. Payung yang tadi ia gunakan sebagai pelindung dari hujan, ia buang dengan asal. Ia membiarkan badannya basah oleh air hujan. Tak peduli bahwa seragamnya kini pun ikut basah.
"Gleid benci papa. Gleid benci dunia ini. Gleid benci takdirnya. Kenapa sih, Gleid mesti dilahirin ke dunia kalo ujung-ujungnya bakal kayak gini? Gleid juga pengen bahagia, argh ...," lirihnya di akhir kalimat.
Langkah kakinya terus melangkah menembus hujan yang terasa kian deras. Bahkan ia sudah tak peduli dengan penampilannya sekarang yang acak-acakan.
"Gak usah ujan-ujanan lo! Lo bukan hulk yang punya daya tahan tubuh kuat. Lo itu cuma cewek lemah!" kata seseorang.
Di tengah jalan, seseorang tiba-tiba datang bersama payung besar. Gleid menghentikan langkah. Kepalanya ditolehkan ke samping. Mendapati sosok menyebalkan yang juga selalu membuat hari-harinya suram selama ini.
"Ngapain kamu payungin aku? Sana! Gak usah sok peduli sama Gleid!" sentak gadis itu dengan penuh nada pengusiran.
"Dih, siapa juga yang peduli sama lo!" elak cowok itu dan langsung menjauh dari radiasi Gleid. Membiarkan gadis itu kembali terguyur derasnya air hujan.
Namun tak bisa ia pungkiri, sesekali matanya melirik awas ke arah gadis itu. Jujur, ia khawatir. Namun, rasa itu terlalu gengsi untuk ia tunjukkan terang-terangan.
Gleid memejamkan mata mendengar itu. Dia, Melvano Valendra. Dia benar-benar cowok paling menyebalkan yang pernah Gleid temui. Harus selalu ekstra sabar jika berhadapan dengan makhluk aneh yang satu ini. Selain menguras emosi sampai ke ubun-ubun, dia juga terlalu batu untuk ditegur.
Karena terlampau kesal Gleid memekik, "Ya udah, sana jauh-jauh dari hidup Gleid. Kalo perlu, gak usah muncul lagi di hadapan aku."
Setelah berkata demikian, Gleid melangkah dengan cepat dari sana. Tak peduli dengan Melvano yang kini terdiam di tempat dengan kedua tangan di sisi celana yang terkepal kuat.
Netra hitamnya menatap tajam kepergian gadis itu. Aura yang terpancar darinya terlihat berbeda dari biasanya. "Sialan," gumamnya marah.
***
Gleid sampai di sekolah dalam keadaan basah dan badan menggigil hebat. Orang-orang memperhatikannya dengan tatapan aneh sepanjang koridor sampai mendudukkan bokongnya di bangku kelasnya tersebut.
Rintan selaku sang sahabat, tentu ikut penasaran akan hal itu. Langsung saja dengan heboh dia menghampiri Gleid dan duduk di bangku kosong sebelah gadis itu. Dia menatap sang sahabat lamat-lamat. Tatapannya begitu mengintrogasi, sampai-sampai Gleid merasa risih.
"Apa, sih?" tanya Gleid sebal.
"Lah, harusnya gue yang tanya anjir. Lo kenapa basah kuyup gini? Melvano gak abis bully lo, kan?" tanya Rintan dengan suara cemprengnya, gadis itu mungkin ditakdirkan untuk tidak bisa biasa-biasa saja kalau bicara. Selalu saja teriak-teriak, mana suaranya false tidak terkontrol lagi.
Sial. Gleid mengumpat kesal dalam hati. Rintan berteriak tepat di depan wajahnya sampai terkena cipratan air liur gadis sialan itu.
"Punya sopan santun gak sih?!" tanya Gleid kesal sembari mengusap wajah kasar. Mood-nya yang sudah anjlok sedari tadi tambah buruk gara-gara Rintan.
Rintan yang baru menyadari akan hal itu hanya bisa menyengir kuda seolah tak ada salah. Hal yang membuat Gleid memutar bola mata.
"Astaga, badan lo panas banget, Gleid! Main ujan-ujanan kan lo pasti?" Rintan kembali berteriak heboh sampai membuat beberapa murid menatap sinis ke arah mereka saat gadis itu tak sengaja meletakkan telapak tangannya di jidat Gleid.
Gleid berdecak. Ia menepis kasar tangan yang bertengger di jidatnya tersebut. "Lebay banget sih, ah!" cibirnya.
"Gue gak lebay, Gleid. Gue khawatir sama lo. Badan lo panas banget!!!" kata Rintan tak santai, frustasi.
"Ya udah, diem napa!" Gleid memejamkan matanya. Mulai risih karena kini mereka menjadi pusat perhatian. Dia pun sadar suhu badannya kini perlahan hangat dan semakin panas. Mungkin efek kena hujan tadi.
Rintan menggeleng tak setuju dengan ucapan sahabatnya. Dia menarik paksa Gleid yang hendak membaringkan kepalanya di meja. Tentu saja tindakan tiba-tiba itu membuat Gleid terlonjak kaget.
"Eh, aku mau dibawa kemana?" berontak Gleid saat Rintan terus menyeretnya sampai keluar dari kelas.
"Ayo, ke UKS! Lo harus istirahat," putus Rintan tak terbantahkan.
"Tapi kita kan masih ada kelas, Rin," ujar Gleid mencoba mengelak.
"Udah, itu soal gampang. Entar gue izinin!"
Dan pada akhirnya, Gleid hanya bisa diam mengikuti instruksi temannya tersebut.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Dua Dunia (On Going)
FantasyGleid hanya gadis biasa. Impiannya satu, ingin merasakan bagaimana menjadi mermaid. Suatu malam, keinginannya menjadi nyata. Saat Gleid ingin kembali menjadi normal, ada satu misi yang diberikan oleh Ratu Duyung harus diselesaikan dalam dua Minggu. ...
