Part 12 : Aneh

101 9 1
                                        

Esok paginya, Keano kembali ke rutinitas paginya bersekolah seperti biasa. Pemuda jangkung itu melangkah lebar memasuki lingkungan sekolah. Satu tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana membuatnya terlihat keren.

Pusat perhatian murid-murid khususnya perempuan langsung tertuju padanya. Keano memang terkenal di sekolah karena kecerdasan dan ketampanannya. Samar-samar terdengar pujian, juga pekikan yang terlontar dari bibir murid-murid begitu Keano melintas di koridor.

Keano hiraukan itu semua. Dengan wajah tanpa ekspresi terus melangkah. Lagi pula, dia bukan tipikal orang yang haus pujian. Keano berbanding terbalik dengan sang adik, Melvano. Meski secara fisik keduanya sama-sama memiliki wajah rupawan, namun sifat dan tingkah laku keduanya tentu memiliki perbedaan yang kontras. Keano yang dewasa dan punya sikap tenang, serta Melvano yang jutek dan emosian.

Sedikit lagi sampai di kelas, langkah Keano terhenti di depan pintu. Melvano datang menghadang jalannya. Jangan lupakan wajah songong anak itu.

“Gimana semalam? Berhasil?” Menaikkan satu alis, Melvano bertanya.

Keano hanya bisa menghembus napas kasar, juga melengoskan pandangan. Tak ingin meladeni sang adik, Keano beranjak masuk ke dalam kelas. Melewati Melvano tanpa sepatah kata.

Melvano memandanginya, tertawa kecil. “Woiii, kok main lari-lari aja. Pertanyaan gue belum lo jawab, oiii!” pekiknya, namun dihiraukan oleh Keano.

Lanjut, Melvano geleng-geleng kepala. “Huh, sudah dikasih tahu masih aja ngeyel. Gini kan, jadinya.” Bergumam pada diri sendiri. Lantas, dia ikut berlalu di sana.

***

“Vano, tungguuu!”

Suara lengkingan yang memekakkan telinga menghentikan langkah Melvano yang sedang berjalan di koridor sekolah.

Kini semua pasang mata langsung tertuju pada mereka berdua. Tampak beberapa orang yang menatap sinis seorang gadis yang baru saja meneriaki Melvano. Hal yang membuat pemuda jangkung itu memutar bola mata malas. Bahkan tanpa berbalik pun dia sudah tahu siapa di balik pemilik suara itu.

Melvano menggugah napas lelah tepat saat gadis itu berdiri di hadapannya. Sebuah kotak bekal yang entah isinya apa terjulur ke hadapannya.

Melengoskan pandangan Melvano berkata, “Apa lagi?”

Namun, seolah tanpa peduli dengan raut wajah Melvano yang keberatan akan kedatangannya, gadis cantik berbulu mata lentik itu tak lekas menyungging senyum.

“Sarapan buat kamu. Pasti belum sarapan, kan?” Satu alis terangkat menatap Melvano.

Nada lembut yang terlontar dari bibir gadis itu bukannya membuat Melvano luluh malah membuatnya bergidik jijik. Akan tetapi, pada akhirnya Melvano menerima kotak bekal itu karena tidak ingin menyakiti hati gadis itu.

“Emmm, makasih.” Dengan senyum yang tampak dipaksakan, Melvano mengambil alih kotak bekal itu.

Senyum kian tersungging lebar di bibir gadis itu. Ada perasaan senang yang membuncah dalam hati. Lalu, dia beranjak pergi dari sana dengan hati berbunga-bunga. Berpamitan, gadis pemilik nama Lisa itu berlalu dari sana.

“Ya udah, aku duluan, ya. Makanannya jangan lupa dimakan.”

“I-iya ...,” sahut Melvano terbata.

Lalu, Melvano mengerutkan hidung tak suka menatap sisa-sisa kepergian gadis itu.

***

Di samping itu, Gleid tiba di sekolah agak lambat. Mata pelajaran sudah hampir dimulai ketika tiba di kelas. Untung saja guru yang sedang mengajar di kelas tidak memperpanjang hal tersebut dan mengijinkan Gleid masuk dan mengikuti proses pembelajaran. Tidak seperti guru lain yang akan menghukum murid ketika datang terlambat apapun alasannya. Gleid hanya diinterogasi sebentar seperti ditanyai kenapa datang terlambat oleh guru tersebut. Gleid bersyukur karena hal itu.

“Saya lambat bangun dan enggak ada yang antar saya ke sekolah.” Gleid beralasan sebelum dipersilakan duduk di tempatnya. Tidak sepenuhnya berbohong.

Sang guru hanya memejamkan mata sembari menghela napas mendengar itu. Alasan yang sangat klise dan umum digunakan oleh murid-murid.

“Ya sudah, silakan duduk di tempat kamu!” titah guru laki-laki berkacamata itu.

“Makasih, Pak.” Sedikit senyum terbit di bibir Gleid, lalu melangkah ke tempat duduknya sambil memegang kedua tali tasnya.

Rintan sudah menatapnya penuh interogasi sedari tadi. Namun, Gleid abaikan itu. Dia duduk di samping Rintan seolah tak terjadi apa-apa.

“Pagi Rintannn!” Gleid menyapa. Hal yang tak biasa dari gadis itu.

Rintan sampai mengerut kening melihat itu. Seperti ada yang tak beres dan aneh dengan gadis itu. Dia tampak seperti bukan Gleid pada umumnya.

Sebenarnya apa yang terjadi? Rintan membatin.

***

Dua Dunia (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang