Air mata masih saja merembes dari kelopak mata gadis itu meski sesenggukannya sudah tidak terdengar sejak beberapa menit terakhir. Cahaya rembulan di langit kelam tampak menyorot ke arahnya. Berbanding terbalik dengan suasana hatinya yang sedang kacau, langit malam menampakkan sesuatu yang indah. Gadis itu seolah tak sefrekuensi dengan semesta. Jelas-jelas semesta menolak kerapuhannya.
Malam kian larut. Angin sepoi-poi menyapu pesisir pantai begitu lembut. Deretan pohon kelapa di depannya tampak bergoyang meliukkan badan. Tubuh hanya terbungkus sweater tipis berwarna maron. Sesekali diusapnya lengan agar membawa rasa hangat.
Desir ombak berkali-kali menghantam terumbu karang menciptakan suara berisik. Namun, justru hal itu yang menciptakan ketenangan batin. Justru karena hal itu suasana menjadi ramai di tengah kesunyian akan kesendiriannya.
“Kenapa? Kamu enggak terima saya memarahi anak tidak tahu diri itu?!”
Tangis wanita itu kian pecah mendengar ucapan suaminya. Seumur-umur, bukan hal ini yang dia inginkan terjadi dalam rumah tangganya. “Mas, kamu kenapa, sih? Dia anak kita!” selanya mengelak.
Pria dewasa itu menggeleng dengan tawa renyah membahana. “Enggak. Dia bukan anakku! Dia bukan anak kita, Gayatri! Kamu lupa dia itu cuma anak pungut!”
Terlintas sekelebat kejadian sekaligus isi percakapan orang tuanya sebelum dia berakhir di tempat nan jauh dari keramaian.
Gadis itu menundukkan kepala. Membiarkan cairan bening kian deras mengalir dari kelopak matanya. Sebuah fakta yang sulit untuk diterima dengan lapang baru saja dia ketahui.
Dia mengabaikan sebuah fenomena alam yang tiba-tiba muncul dari permukaan air laut berupa gelembung air yang membesar. Lalu disusul sebuah makhluk aneh dengan wajah rupawan dan tubuh dipenuhi sisik.
Manusia sering menyebut makhluk itu duyung.
Bola mata makhluk itu mengerjap. Bersinar dan mengeluarkan cahaya biru yang menyilaukan mata. Bersamaan dengan itu, cahaya rembulan berkumpul di atas kepala makhluk aneh menyorotnya.
***
Seorang gadis dengan seragam putih abu yang terlihat pas di badan mungilnya sedang membaca di bagian pojok perpustakaan. Gadis berkulit kuning langsat dengan rambut hitam terurai panjang itu tampak khidmat dengan buku yang tengah dibacanya, yakni sebuah buku fiksi.
Satu kebiasaan yang sangat jarang ditemui pada anak remaja seusianya di zaman sekarang. Jika kebanyakan teman-temannya lebih suka aktif di sosial media dan atau mungkin lebih suka berfoya-foya dengan prinsip ‘nikmati masa muda yang sekali datang dalam hidup’, maka berbanding terbalik dengan gadis yang satu ini.
Dia lebih memilih mengurung diri dalam kamar, membalut setengah badan dengan selimut, kepala disandarkan ke punggung ranjang dengan netra fokus pada kumpulan novel bertemakan putri duyung. Bahkan, Gleid akan dengan sukarela menghabiskan malam minggunya bersama buku-buku koleksinya.
Dia, Gleidrenty Mahatma. Gadis dengan imajinasi liar, punya mimpi suatu saat akan menjadi seekor mermaid. Gleid sudah benar-benar terobsesi berat dengan dunia perdugongan. Hampir tiap malam bermimpi menjadi tuan putri di sebuah kerajaan bawah laut, lalu berjodoh dengan pangeran merman, dan hidup bahagia.
Tidak hanya itu, semua hal-hal yang dikenakannya pasti bertemakan mermaid—makhluk yang konon katanya ialah makhluk tercantik di dunia—seperti baju tidur dan tas sekolah.
Lagi asyik-asyiknya membaca, seorang gadis yang tampak imut dengan kepang dua datang menghampiri bersama suara toa-nya.
“Halo, hola, haiii!”
“Lagi ape nih, bestieee?”
Suara itu lagi. Gleid menggeram tertahan. Matanya sampai ia pejamkan matanya dengan sekali tarikan napas panjang saat sebuah tangan mungil mendarat jeli di kedua bahunya.
Ya, Tuhan, kenapa makhluk satu ini selalu muncul di saat yang tidak tepat? Bahkan, dia datang mengganggu konsentrasiku...
Gleid merasakan guncangan kecil di kedua pundak membuatnya menghela napas gusar, meredam amarah yang berkecamuk dalam dada.
“Woi, ditanyain malah ngelamun!” seru gadis itu saat Gleid tak meresponnya barusan.
Dengan malas, Gleid memutarkan kepalanya menghadap si pengganggu dan melayangkan tatapan datar pertanda kesal. Si gadis hanya bisa cengengesan saat melihat mimik wajah yang ditampilkan sang sahabat.
“Mukanya jangan ditekuk sedatar gitu dong,” celetuknya agak sewot.
Kini, selera baca Gleid sudah hilang semuanya. Gadis itu beranjak dari bangkunya dan melenggang pergi dari perpustakaan tanpa sepatah kata pun. Tak lupa membawa serta buku yang dibacanya tadi.
Si gadis pengganggu melongo. Kedua bola matanya membulat lebar. Dia menatap bingung kepergian Gleid.
“Loh... Loh... Loh... Loh... Kok, main kabur aja sih!” protesnya.
“Woiii, tungguin gue elah!” lanjutnya berteriak, lalu bergegas menyusul Gleid yang sudah tertelan ambang pintu.
***
Bruk!
Suara tubrukan dua manusia beda jenis kelamin itu terdengar begitu nyaring sampai memenuhi seisi koridor. Seorang gadis terdorong beberapa langkah ke belakang lalu tersungkur di lantai karena tekanan besar di depannya.
“Woi, lu kalo jalan liat-liat dong!” bentak seorang lelaki berperawakan tinggi di depannya. Kulit putih susu dan wajah rupawan yang dimilikinya membuat beberapa kaum hawa menahan napas dan terklepek-klepek melihat itu.
Kini, mereka menjadi pusat perhatian.
Gleid hanya bisa menghela napas mendengar suara familiar itu. Bukan sekali dua kali kalimat penuh bentakan itu merasuk dan mengganggu indera pendengaran Gleid. Akan tetapi, berkali-kali.
Gleid meraih buku yang tergelatak tak jauh dari hadapannya dan hendak beranjak dari posisi jongkok. Namun, pergerakannya terhenti saat sebuah sepatu bermerk sudah lebih dulu menginjak buku yang hendak Gleid ambil.
Gleid mendongakkan wajah, mendapati wajah songong lelaki itu. Lelaki itu menundukkan badan dan mengambil alih buku itu dengan dahi mengerut bingung.
“Buku apa ini?” gumamnya sembari membolak-balik novel ber-cover ekor mermaid itu.
Senyum licik terbit di bibir saat sudah bisa menebak isi dalam novel yang dibawa-bawa gadis berkulit kuning langsat.
Gleid yang sudah berdiri hanya bisa membuang muka sembari mendengus saat tatapan jahil itu tertuju padanya. Sudah bisa ditebak, dia akan kembali mendapatkan bully hari ini seperti sebelum-sebelumnya.
Lelaki ber-name tag Melvano Valendra masih bersama raut jahilnya menjulurkan buku itu ke hadapan Gleid. “Nih, ambil! Gue kira apaan! Kagak penting!”
Kata-katanya begitu pedis. Sudah biasa baginya. Namun tak urung, tangan Gleid terjulur ragu meraih buku itu.
“Dasar cewek halu!” cibir Melvano sekali lagi.
Setelahnya, dia berlalu begitu saja meninggalkan Gleid yang terpaku di tempat. Menyoroti kepergian lelaki itu dengan bingung.
Tumben, Melvano tidak mem-bully-nya.
Ternyata dugaan Gleid salah.
Harusnya, dia senang. Namun, entah kenapa Gleid merasa aneh dengan keadaan seperti ini. Sehari saja, Melvano bahkan biasa tak membiarkannya bernapas sekalipun.
Apa Melvano sedang buru-buru?
Berikutnya, Gleid menggeleng-gelengkan kepalanya. Mencoba abai. Untuk apa dia susah-susah memikirkan hal ini? Ah, sudahlah!
Lebih baik dia beranjak ke kelas saja.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Dua Dunia (On Going)
FantasyGleid hanya gadis biasa. Impiannya satu, ingin merasakan bagaimana menjadi mermaid. Suatu malam, keinginannya menjadi nyata. Saat Gleid ingin kembali menjadi normal, ada satu misi yang diberikan oleh Ratu Duyung harus diselesaikan dalam dua Minggu. ...
