Kembali ke rutinitas sekolahnya. Gleid berangkat ke sekolah lebih awal seperti biasanya. Gadis itu sudah kapok terlambat. Di pinggir jalan gadis berdiri menunggu angkutan umum. Rintik gerimis yang sejak tadi membasahi bumi tak kunjung henti. Beralaskan naungan benda lengkung di atas kepala, Gleid terhindar dari basah.
Gadis itu mendesis kecil. Udara dingin menguar menusuk pori-porinya yang paling dalam. Diusap-usapnya seragam sekolah dibalik sweater pink tipis yang membungkus badan mungilnya.
Musim penghujan akhir-akhir ini cukup meresahkan. Biasanya datang secara tiba-tiba tanpa melihat waktu, dan itu cukup mempengaruhi aktivitas para insan di bumi. Seperti anak sekolah banyak yang terlambat ke sekolah karena terhalang hujan. Meski mereka diberi kebijakan, tetap saja rasanya kurang optimal untuk ukuran murid seperti Gleid. Tidak ingin ketinggalan pelajaran.
Gleid terpaku pada sebuah mobil yang baru saja melaju di depan matanya. Bukan mobil mewah itu yang menjadi perhatian Gleid, melainkan orang-orang di dalam mobil tersebut. Satu keluarga yang harmonis. Adegan antara sang ayah yang sedang mengantar anak-anaknya ke sekolah.
Senyum ceria yang mereka pancarkan hanya menimbulkan rasa diri dalam diri Gleid. Gleid pun ingin di posisi seperti itu, tetapi kapan Gadis itu terlalu banyak berharap sampai lupa bahwa semua dalam angan-angannya mustahil terjadi.
Gleid berdecak merutuki dirinya yang mudah sekali terbawa suasana. Bulir-bulir air yang sudah menggenang di pelupuk matanya disekanya begitu kasar.
"Angkotnya mana, sih?" Gleid mulai bergerak gelisah. Raut wajahnya risau. Resah sesuatu yang ditunggu tak kunjung menampakkan wujud. Entah sampai kapan Gleid akan menunggu sesuatu yang tak pasti.
Kembali Gleid berdecak. "Apa aku jalan kaki aja?" Sebuah ide brilian terlintas di kepala. Lama Gleid menimang-nimang hal tersebut hingga akhirnya mengambil keputusan.
Baru saja hendak mengambil langkah, Gleid kembali mengurungkan niat. Genangan air yang cukup dalam di depannya membuat gadis itu ragu untuk melangkah. Segala kemungkinan mulai dia pertimbangkan apalagi mengingat kondisinya sekarang yang setengah manusia setengah ikan. Bisa diamuk warga dan semacamnya kalau sampai ketahuan.
Gleid menggeleng-gelengkan kepalanya mengusir semua bayangan buruk itu. Tidak akan dia biarkan terjadi. Pada akhirnya, Gleid kembali menepi dan mengambil duduk di sebuah halte tak jauh darinya yang sejak tadi seperti sudah memanggil-manggilnya.
Melihat ada genangan kecil di bangku tersebut, Gleid merogoh tas dan membongkar isinya. Selembar dua lembar tissue dikeluarkan dari sana untuk mengelap genangan itu, baru bisa Gleid duduki. Setelahnya, gadis itu kembali larut dalam keheningan. Hanya deru rintik hujan yang terdengar kian deras. Lalu lalang kendaraan semakin minim terlihat.
Kabut tipis pagi hari mengambil alih menguar ke udara hingga penglihatan cukup terganggu. Gleid tidak dapat melihat sekitar dengan jelas. Hanya abu-abu yang tampak di mata.
"Apa hari ini aku absen aja, ya?" gumam Gleid. Gadis itu kembali mencebikkan bibir.
Teringat sesuatu, Gleid mencoba menghubungi Rintan. Mungkin saja sahbaatnya itu sudah tiba di sekolah lebih awal. Panggilan pertama hanya suara operator yang terdengar. Tidak ada respons. Tetapi, Gleid tidak menyerah begitu saja. Gleid gigih menghubungi Rintan sampai di panggilan entah yang ke sekian, panggilan itu pun tersambung.
"Halo, Gleid." Terdengar suara malas yang serak-serak khas bangun tidur dari seberang.
Gleid mendengkus. Baik, dia akui ekspektasinya yang terlampau tinggi tadi tentang Rintan yang sudah di sekolah. Itu sangatlah mustahil!
"Kamu enggak masuk sekolah, Rin?" Meski sudah tahu jawabannya, tetap saja Gleid lontarkan. Untuk berbasa-basi.
Terdengar decak bibir dari seberang. "Oh, ayolah Gleid. Siapa yang mau ke sekolah hujan-hujan begini. Saat-saat seperti ini tuh lebih bagus buat rebahan," sahut Rintan cukup sewot.
Gleid terdiam mendengarkan ocehan Rintan.
"Jangan bilang lo udah di sekolah?" tebak Rintan asal saat tak mendapat balasan dari Gleid.
Rintan mendengkus. "Sesekali kek hidup lo tuh enggak melulu tentang belajar. Lo itu udah pinter Gleid. Apalagi yang lo cari? Apa enggak berasap tuh otak dipaksa belajar terus?"
"Sesekali jadi orang normal pada umumnya kenapa sih, Gleid? Susah amat!" omel Rintan dengan suara cemprengnya yang sangat mengganggu telinga.
"Bacot!" umpat Gleid terlampau kesal dan mematikan sambungan telepon mereka. Lagi pula, dia menghubungi Rintan untuk memastikan gadis itu masuk sekolah atau tidak. Dan sekarang, Gleid sudah menemukan jawabannya.
Tidak Gleid pedulikan bagaimana emosinya Rintan di seberang sana. Mau kayang dan jungkir balik pun Gleid tidak peduli.
"Payungku ...," lirih gadis itu tersentak kaget. Tiba-tiba angin yang cukup besar datang menerbangkan payung dari genggaman tangan Gleid. Gleid bangkit dari duduknya. Segera berlari mengejar payung yang diombang-ambingkan angin di udara.
Setetes dua tetes air hujan membasahi tubuh gadis itu. Langkah kakinya seketika melambat merasakan sensasi bergejolak dalam dirinya. Melihat beberapa sisik tumbuh di leher dan pergelangan tangannya membuat gadis itu kalang kabut. Sialan, bisa-bisanya dia sampai melupakan satu hal itu.
"Duh, gimana ini sekarang?! Jangan sampai orang-orang tau wujud asliku," kata Gleid risau bermonolog pada diri sendiri.
Kepalanya tidak henti mengedar ke sekitar seperti sedang mencari tempat persembunyian yang cocok. Gleid perkirakan dalam hitungan jari wujudnya akan berubah total.
Tiba-tiba sepasang tangan menyahut pergelangan tangan Gleid dan membawanya menjauh dari sana. Gleid tidak tahu siapa lelaki di balik hoodie abu-abu bertudung itu. Yang Gleid lihat hanya sepatu hitam dengan celana sekolah abu-abu.
Gleid tidak berontak sama sekali. Justru Gleid merasakan sesuatu yang aneh. Rasa hangat yang mengalir dari telapak lelaki itu membuat Gleid nyaman. Namun, ada satu fenomena yang Gleid lewatkan.
Gleid tidak menyadari sisik-sisik yang tumbuh di leher dan pergelangan tangannya hilang dalam sekejap mata saat tangannya digenggam oleh lelaki itu.
🧜♀️🧜♀️🧜♀️
Halo, i'm back setelah Hiatus sekian lama😂
Bagaimana dengan part ini? Next???
KAMU SEDANG MEMBACA
Dua Dunia (On Going)
FantasyGleid hanya gadis biasa. Impiannya satu, ingin merasakan bagaimana menjadi mermaid. Suatu malam, keinginannya menjadi nyata. Saat Gleid ingin kembali menjadi normal, ada satu misi yang diberikan oleh Ratu Duyung harus diselesaikan dalam dua Minggu. ...
