Part 14 : Hampir Ketahuan (2)

102 8 1
                                        

“Barusan ... Rani tidak salah liat, kan?” Gadis berkacamata dengan gaya rambut kepang dua itu mengucek matanya berulang kali. Beberapa kali memperbaiki letak kacamatanya bahkan membersihkan lensanya. Berharap apa dilihat yang beberapa saat lalu hanyalah halusinasi semata.

Di depannya, terlihat dua orang gadis sedang berbincang serius dengan seragam sekolah yang sama dengannya. Mereka adalah Gleid dan Rintan.

Sudah sedari tadi Rani, cewek cupu itu membuntuti mereka. Tidak sengaja dia melihat Gleid sedang menyeret Rintan di koridor sekolah. Hingga mereka bertiga berakhir di tempat ini dengan keadaan Gleid dan Rintan yang tak menyadari keberadaan Rani.

Waktu itu posisi Rani baru keluar dari toilet. Bukan karena apa-apa Rani sampai membuntuti mereka kemari. Hanya saja sedikit rasa penasaran menggerayangi hati gadis itu ketika tak sengaja melihat gelagat aneh mereka.

Rupanya bukan hanya Rintan yang dibuat melongoh dengan pertunjukan beberapa saat lalu oleh Gleid.

“Kok, bisa? Kak Gleid punya kekuatan super?” Dia berbicara pada diri sendiri, melayangkan pertanyaan itu entah pada siapa.

Rani mengintip dan mencuri dengar pembicaraan dua gadis itu di balik tembok sebelah kanan mereka. Meski hanya terdengar samar-samar. Namun setidaknya, ada satu kata yang terlontar dari bibir Rintan berhasil menarik perhatian Rani.

“Bangsa mermaid?” gumamnya pelan.

Kepalanya yang semula mengintip lewat tembok ditarik kembali.

Rani mencoba mencerna satu kata itu baik-baik. Kerutan jelas tercetak di kening pertanda sedang berpikir keras. Tak lama, bola mata gadis itu membulat sempurna. Dengan refleks menutup mulutnya dan merutuk diri dalam hati ketika hampir saja mengeluarkan suara heboh.

“Jadi, Kak Gleid keturunan mermaid gitu? Terus dia punya kekuatan super?” ujarnya menerka-nerka.

Kembali menyembulkan setengah kepalanya dan berseru kecil, “Woah, kerennn!” pujinya.

Bola matanya berbinar bak seorang gadis mungil yang baru saja mendapat boneka baru dari sang ayah.

“Ngapain di sini?” Hingga suara berat khas laki-laki mengalihkan atensi gadis itu. Lebih tepatnya terlonjak kaget

Dengan gerakan cepat Rani menarik kepala dan berbalik sepenuh ke belakang untuk melihat si pelaku yang datang-datang hendak membuat jantung copot. Tangannya refleks bersemayam memegang dada.

“K-kak Vano ...?” cicit Rani menyebutkan nama itu.

Jujur saja, dia langsung ketar-ketir dan bergerak gugup. Ah, bukan karena ketahuan sedang menguping pembicaraan orang, tetapi karena diperhadapkan oleh seorang kakak kelas yang digilai sejuta umat kaum hawa.

Kedua tangan di bawah rok saling meremas. Lanjut menggigit bibir gerogi. Ingin rasanya memekik senang karena bisa merasakan jarak yang cukup intim ini dengan seorang cowok paling berpengaruh di sekolah. Bahkan untuk berada di posisi ini sangat sulit bagi kaum hawa. Andai saja keadaan memungkinkan, mungkin Rani sudah berteriak sekencang-kencangnya dan memberitahukan pada dunia bahwa Melvano yang lebih dulu mendatangi dan menyapanya.

“Kakak sendiri ... ngapain di sini?” Mengabaikan pertanyaan Melvano, Rani malah melayangkan balik pertanyaan yang serupa.

Melvano menatap datar. Tak ada senyum di sana secuil pun. Hal yang Rani tunggu-tunggu dari tadi dan menurutnya itu adalah sebuah kemustahilan. Melvano mengulum senyum saat berbicara padanya? Hanya imajinasi semata.

“Enggak usah ngalahin pembicaraan!”

Tegas. Satu kata untuk kalimat yang baru saja terlontar dari bibir pemuda itu. Hal yang membuat Rani seketika bungkam.

“Lo nguping pembicaraan orang?” lanjut Melvano menebak. Jangan lupakan tatapan interogasi yang kian menajam.

Ditatap seperti itu tentu membuat Rani gelagapan dan menunduk takut. Dia akui dirinya salah. Memang tidak sopan menguping pembicaraan orang seperti ini.

“M-maaf, Kak. Rani enggak maksud apa-apa. Rani cuma penasaran sama Kak Gleid dan Kak Rintan yang buru-buru makanya Rani ikuti sampai ke sini. Tapi malah enggak sengaja dengar pembicaraan mereka yang lagi bahas mermaid. Terus Kak Gleid juga bisa kendalikan air. Tadi Rani enggak sengaja liat,” ujar Rani terburu-buru. Tak ingin di-klaim buruk oleh Melvano dan ujung-ujungnya Rani menceritakan semua apa yang dilihat dan didengarnya.

“Sekali lagi maaf, ya, Kak. Tapi jangan laporin Rani ke guru BK,” mohon Rani.

Melihat raut Melvano yang tak berubah sama sekali. Bahkan saat Rani memohon sambil memasang bola mata berkaca-kaca. Raut sedih yang ditambah-tambahi agar mendapat empati dari Melvano.

“Kak ...,” Lagi, Rani mencicit. Lengan Melvano dia goyang-goyangkan sebelum mendapat tepisan secara halus dari pemuda itu.

Anggukan juga gumam pelan dari Melvano membuat senyum semringah terbit di bibir gadis itu. Dengan cepat dia melangkah pergi lepas mengatakan terima kasih pada Melvano.

“Rani.”

Namun, langkah yang baru satu meter dari Melvano seketika terhenti mendengar namanya dipanggil. Gadis itu berbalik dan menatap penuh harap. Satu alis terangkat ke atas menatap Melvano sepenuhnya.

“I-iya, Kak?” Ada nada gugup di dalamnya.

Melvano tidak mempedulikan sahutan gadis itu. Fokusnya hanya pada target, yaitu mata gadis itu. Dia menatap lekat iris cokelat itu dengan bibir berkomat-kamit seperti tengah merapal sesuatu. Bersamaan dengan itu, tubuh Rani tumbang dan kehilangan kesadarannya.

Hampir saja terantuk ke lantai. Andai saja seorang pemuda lainnya tidak datang dengan gesit. Dia menopang tubuh gadis berkepang dua itu. Lanjut melayangkan tatapan tajam penuh peringatan pada pemuda jangkung di depannya.

“Kamu sudah melanggar perjanjian!”

***

TBC.

Dua Dunia (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang