Part 10 : Hampir Ketahuan

140 9 0
                                        

“Siapa di dalam?”

“Halo!”

Suara itu kian menjadi-jadi.

Gleid meneguk salivanya susah payah. Ia menatap Rintan yang tak kalah paniknya dengan kerutan bingung. Tepatnya, menatap sayu gadis itu seolah sedang meminta pertolongan.

“Rin,” cicit Gleid sarat akan makna.

“Iya, kasih gue kesempatan buat mikir bentar,” cerca gadis itu bernada pelan. Rintan terlihat begitu risau. Ia memaksa memutar otak dengan IQ yang tak seberapa untuk mencari cara agar Gleid tak ketahuan.

Hanya deru napas yang memburu, bersahutan dengan degup jantung yang menggila memenuhi ruangan sempit itu. Raut risau jelas-jelas tampak di wajah dua gadis itu.

Hingga kemudian, Rintan bingkas bangun dari posisi jongkok. Ia hendak menghampiri pintu dan membuka. Namun, langkahnya tertahan saat Gleid mencekat pergelangan tangannya.

“Lo mau gue ketahuan, hah?!” geram Gleid dengan nada pelan. Ia menatap nyalang Rintan yang dibalas dengan helaan napas dari gadis itu.

Rintan berdecak, memberontak minta dilepaskan. “Lepasin bentar.”

“Apa lo bilang? Lepasin?!” beo Gleid.

Gadis itu tertawa sinis. “Dengan begitu lo bakal buka pintunya dan gue  bakal ketahuan?! Gila lo!” cibirnya.

Rintan memutar bola mata malas. Gleid ini terlalu overthingking. Mentang-mentang Rintan terkenal di kelas dengan nilai terendah, lalu Gleid pikir Rintan akan melakukan hal itu. Aigoo, dia tidak sebodoh itu juga kali. Itu sama saja dengan menyerahkan sahabatnya ke publik untuk di-bully.

“Gleid, lo pikir dengan diam di sini kita bakal aman? Bisa aja, kan, orang itu dobrak pintunya. Lo mau?” ujar Rintan berhasil membuat Gleid diam.

“Udah, deh, mending lo cepat-cepat keringin tuh ekor. Biar gue yang samperin,” katanya lagi memberi saran.

Meski agak ragu, Gleid melepaskan pergelangan tangan Rintan. Gadis itu melangkah beberapa kali ke depan, lalu membuka pintu setengah sehingga hanya memperlihatkan setengah badan.

Diam-diam, Gleid menggugah napas lega. Lalu, gadis itu mengelap ekornya dengan terburu-buru sembari mendengar percakapan antara Rintan dan orang yang datang memergoki mereka.

“Hai. Ada apa?” Rintan melontarkan pertanyaan setelah menyapa seorang gadis berkacamata segi empat dan rambut dikepang dua sedang berdiri di depan.

Gadis cupu itu sedikit melongokkan kepalanya ke dalam bilik, membuat Rintan mendelik.

“Apa ngintip-intip?” sewotnya tak suka.

Cewek cupu yang diketahui bernama Rani itu menggaruk tengkuk belakang salah tingkah. Dia menyengir kuda, memamerkan sederetan gigi yang rapi bersih. Dari lensa kacamatanya terlihat kelopak mata itu menyipit.

“Sendirian, Kak?” tanyanya ragu-ragu.

“Iya, kenapa?! Kepo!” sentak Rintan sok garang. Berniat agar cewek itu takut padanya dan berlalu dari sana.

“Oh, kirain berdua. Soalnya Rani tadi dengan pekikan dari dalam. Rani kira kakak kenapa-kenapa. Terus, Rani juga kayak dengar suara orang lagi bincang-bincang,” kata Rani panjang lebar.

“Oh, ya udah pergi sana!” respons Rintan sangat malas mendengar penjelasan Rani. Dia mengusir tikus pengganggu yang satu itu.

Rani yang merasa tak enak hanya bisa mengangguk takut-takut. “I-iya, kak. Kalo begitu, Rani pamit duluan,” ujarnya sembari memperbaiki letak kacamatanya dan berlalu dari sana.

Setelah Rani menghilang dari pandangan barulah Rintan mengembus napas lega. Dia berbalik dan menutup pintu. Badannya disandarkan pada pintu tersebut. Seketika dia kaget mendapati Gleid sudah kembali ke wujud aslinya. Gadis itu sudah berdiri di depan Rintan sembari memamerkan senyum.

“Buset, cepat juga!”

“Yuk!” Gleid terkekeh dan kemudian mengajak Rintan berlalu dari sana.

***

Dua Dunia (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang