Part 11 : Tugas (belum) Selesai

120 12 0
                                        

Gleid dan Rintan yang sedang berjalan terburu-buru di koridor sekolah---baru saja keluar dari toilet---tidak menyadari keberadaan seorang pria berseragam sekolah seperti mereka berdiri di sebuah koridor samping bangunan toilet.

Pandangan lelaki itu kosong tak terbaca, hanya lurus menatap dua sosok gadis remaja itu. Jakunnya tampak sesekali naik turun setiap kali. Sinar mentari menyilaukan membuat matanya sedikit menyipit.

“Aku menemukannya,” kata lelaki itu menggumam.

Sudut bibirnya tertarik sedikit ke atas. Ada raut senang luar biasa yang tersembunyi di balik muka biasa-biasa itu. Senang yang tak bisa diungkapkan lewat kata-kata lagi.

Princess mermaid.”

***

Semilir angin menyapu pesisir pantai malam itu. Gemercik ombak yang tercipta terdengar seirama dengan langkah kaki seorang pemuda yang sedang berjalan ke bibir pantai. Kaki jenjang itu terus menyusuri daratan pasir tanpa alas kaki. Hingga kini sudah berdiri tepat di perbatasan antara daratan dan lautan.

Tatapannya menerawang jauh ke depan seolah di sana sebuah harapan menantinya. Senyum tipis yang sedari tadi terukir di wajah pemuda itu kian melebar melihat jernihnya air laut. Matanya berkilauan mengeluarkan cahaya biru, cahaya yang senada dengan air laut.

“Akhirnya, aku bisa kembali setelah tertahan di tempat asing ini berbulan-bulan lamanya,” tuturnya pada diri sendiri diakhiri dengan hela napas lega.

“Apa kamu kira tugasmu di sini itu sudah selesai? Ck, mustahil kerajaan bawah laut menerimamu semudah itu?”

Pemuda yang hendak menceburkan diri ke laut itu mengurungkan niat saat suara mendengus tertangkap di indera pendengarannya. Sebuah suara khas lelaki yang terdengar tak asing di telinganya. Suara menyebalkan yang hampir tiap hari merusak gendang telinga.

Pemuda itu terdiam sejenak dengan gurat bingung di raut wajah, sebelum akhirnya berbalik dan menatap penuh tanya sosok pemuda lain yang kini sudah berdiri beberapa meter di belakangnya.

“Apa maksudmu? Bukankah tugasku menemukan calon pendamping penerus pemimpin kerajaan bawah laut sudah selesai? Aku sudah menemukan orang itu,” tanyanya sekaligus memberitahu tentang hal itu kepada pemuda yang mendatanginya.

Pemuda yang satunya---tampak lebih muda satu setengah tahun darinya---terkekeh lucu mendengar ucapan sang kakak. Diakhiri dengan dengusan sinis.

“Keano, Keano ....” Melvano, pemuda yang baru datang itu geleng-geleng kepala. Membuat Keano, pemuda yang hendak menceburkan diri ke laut, semakin bingung melihat reaksi sang adik.

“Bahkan tugasmu baru kelar 30%,” desis Melvano memberitahu.

Deg!

Keano mematung mendengar penuturan Melvano. Hukuman semacam apalagi ini?

Bukankah Ratu dan Raja mengutus mereka berdua ke daratan untuk menemukan calon princess mermaid yang sudah terpilih oleh dewa. Sekarang, Keano sudah menemukannya mendahului sang adik yang juga diutus. Tugasnya sudah selesai. Lantas, kenapa sekarang dia tidak boleh pergi?

“Kata siapa tugasku belum selesai?” Keano yang mencoba berpikir positif balik menyudutkan sang adik. Raut datar mendominasi wajahnya.

Lelaki itu mendengus dalam kekehan. Dia lanjut berbicara, katanya, “Jujur saja kalau kamu merasa kalah karena aku lebih dulu menemukan gadis itu. Oh, ayolah, jangan bersikap seperti anak kecil lagi. Jangan menahanku untuk terus bertahan di sini menemani masa hukumanmu yang bertambah.”

Rasanya, Keano merasa di atas saat berhasil menyerang balik Melvano. Membuat sang adik diam sebungkam-bungkamnya. Lihatnya Melvano sekarang yang sudah menatapnya dingin dengan bola mata menajam. Rahangnya mengeras kokoh. Sudah mudah terbaca bagaimana ekspresi anak itu setiap kali merasa di bawah Keano.

Keano lalu menyebur ke dalam laut. Hingga tubuh manusianya berubah menjadi mermaid. Tidak mendengarkan kata sang adik, Keano menyelam ke dalam lautan.

“Tugas kita belum selesai Keano. Ayo, kembali. Kita harus bisa membuat gadis itu jatuh cinta pada kita dan membawanya ke kerajaan bawah laut!” teriak Melvano sekali lagi membujuk sang kakak agar mendengarkan ucapannya untuk kali ini saja.

Tetapi, Keano tetaplah keras kepala. Dia menyelam semakin dalam. Mengdayung-dayungkan ekornya.

“Aku tidak percaya padamu!” balas Keano di tengah lautan, kepalanya menyembul ke permukaan dan menatap Melvano di bibir pantai sekilas.

***

Semakin dalam Keano menyelam, maka semakin gelap pula yang dia temui. Penerangan rembulan sangat minim tak mencapai dasar lautan yang dalam. Harapan Keano perlahan hilang. Rasa hampa menghampiri. Sempat terbesit rasa menyesal di hati karena tak mendengarkan perkataan sang adik.

Namun, Kenao tak ingin menyerah. Hingga dari kejauhan, dia dapat melihat sebuah cahaya terang bersumber dari sebuah bangunan megah di tengah-tengah dasar lautan.

Bola mata Keano berbinar. Perlahan mendekati bangunan megah yang tak lain adalah kerajaan bawah mermaid itu dengan gembira.

“Untung aku tak mendengarkan ucapan Melvano. Huh, anak itu mencoba mengelabuiku. Dasar bocah licik!” dengusnya kasar, berbisik pada diri sendiri.

Namun, saat hendak Keano masuk ke pintu utama. Kekuatan besar menghempaskan Keano hingga terjungkal ke belakang beberapa senti meter. Kerajaan bawah laut seolah menolak raga Keano untuk masuk ke dalam. Ada apa ini?

Keano menatapi dirinya. Membulatkan bola matanya tak percaya. Dia menggeleng. “Tidak mungkin!” gumamnya frustasi.

Ternyata, apa yang dikatakan Melvano ... benar adanya.

***

Dua Dunia (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang