Jangan lupa tinggalkan jejak yah. Happy reading
💗💗
Alexa menumpukan tubuhnya pada tembok pembatas setinggi pinggang yang mengarah pada halaman belakang mansion keluarga Turner. Ia memilih sendiri di sana, menikmati segelas Wine tanpa harus dipusingkan dengan tatapan tidak suka Jeslyn. Ia juga butuh sendiri untuk menenangkan diri. Sejujurnya Alexa begitu mengkhawatirkan keadaan Albert saat ini. Meskipun terlihat kuat, tapi Albert jelas adalah pria rapuh. Pria rapuh yang bersembunyi di dalam tubuh besarnya.
Seandainya saja keluarga Albert seperti keluarga Nicholas yang terlihat begitu menyenangkan dan terbuka, ia yakin Albert tidak akan mengalami hal buruk dalam hidupnya. Menderita trauma berkepanjangan yang menghantuinya terus menerus. Albert berhasil melewatinya sejauh ini, bersikap seolah-olah pria itu adalah pria normal, seperti kebanyakan pria pada umumnya, meskipun kenyataannya tidak sepenuhnya sama.
Menyesap Wine dari gelas di tangannya, Alexa menatap halaman di depannya dengan tatapan kagum.
Melihat keluarga Albert, terutama Jeslyn membuat Alexa mengambil kesimpulan bahwa tidak selamanya harta bisa menjamin kebagiaan seseorang. Bukan berarti harga tidak penting. Harta tentu saja penting. Tapi harta berlimpah, jika tidak di barengi dengan kasih sayang dan saling menghargai di dalamnya jelas tidak akan memberikan kebahagiaan yang sesungguhnya.
"Dengan pakaianmu yang seperti itu kau bisa masuk angin kalau berlama-lama di sini," suara Nicholas dari sampingnya membuat Alexa terlonjak dan lagi-lagi hampir terjatuh kalau saja pria itu tidak sigap menangkap pinggangnya seperti yang dilakukannya ketika pesta semalam. Nicholas menatap Alexa khawatir, "Apa aku mengagetkanmu lagi? Sepertinya kehadiranku selalu membuatmu berakhir dengan hampir terjatuh."
"Dan kau akan selalu memegang pinggangku seperti ini untuk mencegahku terjatuh," balas Alexa yang hanya mendapat kekehan dari Nicholas. Dasar pria aneh, pikir Alexa. Baru beberapa saat lalu pria itu hanya diam tanpa menyapanya, dan kini tiba-tiba Nicholas sudah berada di sampingnya dan bahkan tertawa mendengar sindiran yang ia katakan.
"Maafkan aku, tapi sepertinya aku akan selalu mengagetkanmu kalau akhirnya aku mendapatkan keberuntungan dengan memegang pinggang indahmu seperti ini."
Sialan, rutuk Alexa. Nicholas benar-benar tahu cara menggoda seorang wanita.
Alexa memutar bola matanya. Bersikap acuh, "Sayangnya lain kali aku tidak akan terkejut kalau kau datang lagi. Selain itu memang tidak ada lain kali untuk kita Mr. Turner."
Nicholas tersenyum menggoda, ia menarik tubuh Alexa menempel di tubuhnya hingga tidak ada jarak di antara mereka. Dada kenyal dan besar Alexa menempel di dada bidang Nicholas. Sensasi itu membuat napas keduanya menderu.
Alexa berdehem. Ia menghela napas, hanya untuk menenangkan diri. Sayangnya hal itu justru semakin memberikan sensasi gesekan pada dadanya yang malam itu memang tidak mengenakan bra sama sekali. Alexa bergairah. Yang tidak di sangkanya, adalah Nicholas dengan begitu mudah membangkitkan gairahnya. Sesuatu yang begitu sulit ketika ia menjalani pekerjaannya dulu. Bahkan Alexa harus menggunakan pelumas, agar pelanggannya merasa senang pada reaksi tubuhnya.
"Benarkah? Sepertinya kau begitu yakin tidak akan terkejut lain kali," suara Nicholas yang serak terdengar begitu sexy di telinga Alexa. Mengalun bagaikan lagu yang begitu merdu.
Alexa menguatkan hati. Bukan saatnya tertarik pada Nicholas. Kedatangannya bukan untuk menjadi salah satu mainan dari Nicholas, "Tentu saja, karena aku tidak ingin kau mendapat kesempatan memegang pinggangku seperti ini lagi," Alexa mengarahkan padangannya pada tangan Nicholas yang masih menempel erat di pinggangnya.
