Semua ceritaku sudah tersedia di playstore, tersedia juga dalam bentuk pdf dan cetak
info bisa wa ke no 081917797353
💗💗
Albert mengernyit ketika sinar matahari masuk melalui jendela yang sudah terbuka. Ia duduk, sedikit linglung ketika menyadari ia tertidur di sofa. Badannya terasa sedikit pegal, tapi anehnya semalam ia justru tidur dengan sangat lelap. Beruntung Albert memiliki Alexa di sampingnya. Saat ia merasa begitu lemah dan tertekan, Alexa dengan caranya sendiri selalu menguatkannya. Sejujurnya Albert malu setiap kali memandang wajah cantik Alexa. Ia malu ketika mengingat betapa lemah dirinya dibandingkan wanita itu.
Sejak pertama kali mereka bertemu sampai akhirnya mereka tinggal bersama, tidak pernah sekali pun Albert melihat Alexa menangis. Albert tahu bagaimana menderitanya Alexa selama ini. Menjajakan tubuhnya kepada pria hidung belang karena menjadi korban perdagangan manusia. Albert tidak bisa membayangkan apa yang Alexa rasakan ketika harus melayani ratusan atau bahkan mungkin ribuan pria yang tidak kenalnya dan belum tentu memperlakukannya dengan baik. Sedangkan dirinya? Ia justru selalu lemah dan tidak berani menatap masa depan seperti Alexa.
Aroma harum yang menguar dari dapur membuat perut Albert berbunyi. Setelah semalam melalui banyak hal yang berat, tidak heran kalau pagi ini merasa begitu lapar. Albert melangkah ke dapur dan menemukan Alexa di sana, tengah berkutat dengan semua perlengkapan masak di meja dapur.
Albert mendekat, memeluk pinggang Alexa dan menyandarkan kepalanya di pundak wanita itu, "Aku sekarang tahu dari mana aroma harum yang sejak tadi mengganggu penciumanku berasal," matanya menatap omlet yang dibuat Alexa dan semangkuk salad sayuran yang menggiurkan.
"Kau lapar?" Alexa mengelus wajah Albert pelan, "Mandilah setelah itu kita sarapan."
"Tapi aku mau sarapan dulu, perutku sudah lapar sekali," ucap Albert sambil mengendus leher Alexa. Ia tahu Alexa tidak suka itu tapi ia suka melakukannya hanya untuk menggoda Alexa, dan benar seperti dugaannya hanya dalam hitungan detika Alexa langsung berbalik menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Sudah berapa kali aku katakan padamu kalau aku tidak suka kau mengendus-endus leherku seperti itu. Memangnya kau ini anjing mengendus-endus seperti itu?" tangan kirinya berada di pinggang sementara tangan kanannya mengayunkan pisau yang tadi digunakannya untuk memotong sayuran kearah Albert.
Ini salah satu hal yang membuat Albert sangat menyukai Alexa. Menggodanya selalu membuat moodnya menjadi jauh lebih baik. Alexa seperti mood maker yang selalu bisa membuat tersenyum sesulit apa pun masalah yang dihadapinya.
"Berhenti tersenyum seperti anak anjing! Sekarang cepat mandi sebelum aku memotong-motong tubuhmu dengan pisau ini dan memberikan potongan tubuhmu pada ikan-ikan manis di akuriummu itu," lirik Alexa pada akurium yang berada di ruang keluarga.
Albert terkekeh. Mana mungkin ikan-ikan itu mau memakan daging karena ikan-ikan lucu itu bukan Piranha, tapi ikan Maskoki yang terlihat sangat lucu berenang kesana kemari dengan perut gendutnya. Tapi hal itu cukup untuk membuat Albert mengikuti keinginannya.
"Wow kau galak sekali, tidak heran tidak ada yang berani mendekatimu selama ini," ucap Albert lalu berlari ke kamar mandi sebelum Alexa mengamuk lebih parah dan tepat sebelum ia menutup pintu ia bisa mendengar teriakan Alexa yang tengah memakinya.
"Dasar pria bodoh," rutuk Alexa, tapi sebuah senyum terlukis di wajahnya. Albert sudah kembali dan itu sudah cukup membuat perasaannya lega.
Alexa kembali melanjutkan kegiatan memasaknya. Ia menggoreng ham dan menyajikannya di piring untuk Albert. Tidak lama setelahnya Albert sudah kembali ke dapur dengan wajah yang jauh terlihat segar.
