Glimpse of us (2)

1.1K 203 50
                                        

06.


"Gib, gue mohon lo jujur!  Lo nikahin jean karena dia mirip sama aira kan? Jawab gib!!" sentak bima penuh emosi

Gibran menarik nafas sejenak, tatapannya datar tanpa ada rasa bersalah ataupun sesal di dalamnya. "Iya, gue gabisa lupain aira. Setiap liat jean, gue ngerasa aira hidup lagi."

Bima rasanya ingin menghajar habis-habisan pria dihadapannya. Namun,sebisa mungkin ia tahan. Ada beberapa hal yang harus ia bicarakan dengan pria brengsek itu.

"Anjing, kalo gak cinta ngapain lo nikahin bangsat. Aira ya aira, jean ya jean. Gabisa lo samain, jean sama aira itu beda jauh. Cuman karena mereka mirip, lo sampe ngerusak hidup orang yang bener-bener tulus dan cinta sama lo!!"

Gibran diam tak berkutik. Tentu saja ia menyadari kesalahannya itu dengan melibatkan perempuan sebaik jean. Tapi apa daya, ego serta rasa obsesi berlebihan telah membawanya begitu jauh. Hingga dengan sadar,telah melukai hati perempuan yang telah mengisi hidupnya selama 5 tahun ini.

Semenjak kematian aira, gibran tidak memiliki semangat hidup. Bahkan,beberapa kali ia mencoba untuk melakukan percobaan bunuh diri. Naas, takdir tidak berada di pihaknya.

Semesta berbaik hati kepadanya dengan mengirimkan perempuan yang benar-benar duplikat aira. Namun, keduanya tentu berbeda. Dari tingkah laku hingga gaya kedua perempuan itu. Aira itu tomboy,keras kepala, serta gaya bicaranya yang selalu sarkas. Sedangkan jean, perempuan itu sangat anggun, lemah lembut, dan juga sangat ekstra sabar.

Gibran mencoba membuka lembaran baru, diawali dengan berpacaran selama 3 tahun. Kemudia, dia melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Sudah 2 tahun berlalu, kehidupan pernikahan ia jalani bersama jeanne. Kebahagiaan mereka bertambah dengan kehadiran geo, melengkapi keluarga kecilnya dengan tangis dan tawanya yang begitu menggemaskan.

"Jane kurang apa,gib? Dia  nerima semua kekurangan lo, bahkan tentang masa lalu lo. Dia tau semuanya, bahkan jean nyadar kalau lo selalu ngasih barang yang berkaitan sama aira. Tapi, dia sebagai istri selalu berprasangka baik. Ada sekalipun dia ngeluh ke lo? Gue rasa sih gak pernah!"

"Dia gak kurang apapun, tapi soal perasaan gabisa dipaksa. Gue sayang sama dia, tapi rasa cinta itu cuman buat aira!"

"Bangsat, emang lo manusia terbangsat. Kalau endingnya kayak gini, mending jean gue rebut dari dulu. Daripada dia punya suami jelmaan iblis kayak lo."

Gibran tidak menanggapi ucapan bima, pria itu membiarkan sahabatnya berbicara. Cacian dan ungkapan bima itu fakta, ia tidak bisa mengelak. Hanya saja, egonya terlalu besar.

"Gue sumpahin lo bakal nyesel setengah mampus. Lo bakal tau gimana rasanya cinta sepihak, apalagi kalau orang itu bener-bener pergi dari hidup lo!" Bima meninggalkan gibran sendirian di dalam ruangannya. Biarkan pria itu berpikir mengenai semua perilakunya.





















Bima tidak menyangka, jika ucapannya akan terkabul secepat itu. Ada sedikit rasa sesal di benaknya, tapi rasa senang lebih mendominasi.

Sekarang, ia tengah berhadapan dengan jean. Ternyata, perempuan itu menguping semua pembicaraannya dengan gibran. Dengan segenap keberanian, ia menawarkan untuk mengobrol empat mata di cafe seberang kantor gibran.

"Sorry, seharusnya lo gak denger semua pembicaraan gue sama gibran yang terkesan bikin lo sakit hati." Bima menatap nanar perempuan cantik di hadapannya.

Seulas senyuman tipis itu hadir, rasanya bima ingin melindungi perempuan itu. Sayang seribu sayang, semesta tidak mengizinkannya.

"Kenapa lo yang minta maaf, bim? Malah gue berterima kasih, karena berkat lo gibran mau jujur. Jadi gue gak perlu repot-repot buat lepas dia."

Bima tak merespon, ia membiarkan jean untuk berbicara hingga ia rasa cukup. Tapi, rasa terkejut tercetak jelas diwajahnya. Apa jean sepasrah itu dengan sikap gibran?

"Hari ini anniversary pernikahan kita yang ke-2 tahun, gue mau kasih dia surprise. Tapi malah gue yang dapet surprise nya. Gapapa sih,gue kan strong. Tujuan gue sekarang cuman satu, gue mau pergi dari kehidupan gibran."

Jean menarik nafas dalam, kemudian melanjutkan, " Gue rasa cukup sampai disini buat perjuangin dia. Gue mau istirahat, batin dan mental gue kena. Sakit bim...."

"Terus lo mau gimana je?" bima menatap sendu perempuan dihadapannya.

"Gue mau cerai."










07.

07

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



08

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

08.

08

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.







Kisah Singkat TaennieCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang