Suasana pagi ini tampak cerah, seirama dengan hal yang terjadi di sebuah rumah bergaya eropa ini. Tawa kehangatan, serta candaan terus terlontar. Membuat semua orang yang mendengarnya ikut merasakan kebahagiaan.
"Mom akan pergi lusa ya?" tanya gadis berusia enam tahun. Matanya menyiratkan kesedihan, seolah tak rela melepaskan sang ibu untuk pergi.
Ruang makan lenggang, terdengar dentingan sendok yang beradu dengan meja kaca.
"Iya, maaf untuk itu. Pasti mommy membuat kalian kecewa." Wanita dua puluh tujuh tahun itu tersenyum sendu, matanya menatap nanar keempat anaknya secara bergantian.
Kemudian berhenti pada suaminya, pria itu balik menatapnya dalam.
"Bukan begitu,Mom. Hanya saja mommy sedang mengandung, takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan." Jelas putra sulungnya.
Jennie tersenyum lembut, "Kalian tidak perlu khawatir, cukup doakan yang terbaik saja."
"Janji untuk tetap sehat dan pulang dengan keadaan baik-baik saja ya, Mom. " Anak lelaki berusia 8 tahun itu akhirnya mengeluarkan suara.
Jennie mengangguk diiringi dengan senyuman lembut yang terpancar diwajahnya.
Vincent, pria dua puluh delapan tahun itu menarik napas dalam. Ada sesuatu yang ingin dia bicarakan, namun ia takut akan respon yang diberikan anak-anaknya.
"Daddy ingin mengatakan sesuatu?" Tanya putra bungsunya yang berusia 5 tahun.
Vincent gelagapan, "T-tidak."
"Ayolah,Dad. Sudah jelas-jelas kau ingin mengatakan sesuatu pada kami." Desak putrinya.
Vincent dibuat bungkam.
Jane mengusap punggung suamianya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Rasa hangat itu menjalar, sehingga memberi ketenangan pada Vincent.
"Katakan jika kau menginginkannya, namun jangan dipaksa Jika itu menganggumu." Ujar jane lembut
Vincent menatap istrinya dalam, Jane itu ramuan terbaik. Mampu membuatnya tenang dengan nasehat serta sentuhannya.
"Apa yang ingin daddy katakan?" tanya Damian putra sulungnya.
Vincent membasahi bibirnya yang terasa kering, "Sebenarnya daddy akan pergi juga lusa, berbarengan dengan Mommy."
"Sejujurnya kami tidak menyukai ketika Momm and Dadd pergi, berat. Itu hal yang sangat berat, mengingat di medan pertempuran itu hidup dan mati dipertaruhkan." ujar Xavier, putra kedua mereka.
"Tapi kita tidak bisa mencegah, itu adalah kewajiban sebagai abdi negara. Momm dan Dadd sangat dibutuhkan, hanya perkara kami tidak merelakan kalian itu bisa memakan ribuan nyawa." Elena dengan tenang menyampaikan kalimat yang mampu membuat kedua orangtuanya tersenyum bangga.
Anak-anak mereka tumbuh dengan cepat dan dewasa. Bahkan di usianya yang masih tergolong muda, sudah mampu memberikan nasehat serta kalimat bijak.
"Perlu bantuan untuk mengemas barang?" Tawar Damian.
"Itu ide yang baik."
Keesokan harinya, Vincent dan Jane sudah bersiap untuk pergi. Barang-barang yang mereka butuhkan sudah berada di bagasi mobil. Hanya satu kendalanya, si kecil Kava terus menempel pada Jane. Seolah tidak memperbolehkannya untuk pergi.
"Kava, Mommy dan Daddy akan pergi. Mereka akan terlambat." ujar Damian pelan , namun terdapat penekanan di dalamnya.
Kava menggeleng, ia terus memeluk kaki jane erat.
