8.Lili

11 1 0
                                    

Di waktu istirahat di saat ruangan sepi dari semua karyawan, aku yang terlambat pergi karena baru saja menghabiskan waktu di toilet malah menemukan sesuatu.

Saat melewati ruangan kerjaku, aku mendapati Lili yang masih ada di sana. Gadis cantik itu tampak mondar-mandir di dekat meja kerja Kale. Sedangkan Kale sudah lebih dulu turun ke kantin karena katanya hendak membeli minuman hangat. Pria itu menolak untuk menitip karena katanya jika dia diam saja, kepalanya terasa pusing.

Aku tadinya ingin langsung menyusul ke kantin saja karena rasanya tidak enak jika diam-diam mengintip. Tapi karena aku berpikir mungkin ada hal buruk yang terjadi, maka aku memilih sembunyi di balik tembok. Aku memperhatikan Lili, dari wajahnya gadis itu tampak kebingungan dan juga gelisah. Satu tangannya ada di belakang tubuh, seperti sedang menyembunyikan sesuatu.

Melihat itu aku jadi semakin penasaran tapi aku juga gelisah karena jam makan siang sudah sangat mepet sedangkan perutku terasa lapar.

Aku galau antara tetap disini mengintip Lili atau berbalik badan dan menyusul yang lain ke kantin?

Lama berpikir dan berniat untuk berbalik arah ke kantin, aku malah gagal melakukan itu saat Lili terlihat meletakkan sesuatu di atas meja Kale. Aku menyipitkan mata, mencoba mencari tahu apa yang baru saja diletakkan oleh Lili. Tanpa sadar aku berdecak pelan dan menggelengkan kepala saat melihat satu kaleng minuman isotonik yang sejak tadi disembunyikan oleh Lili.

Astaga. Hanya ingin memberikan minuman kaleng seperti itu saja sampai mondar-mandir lama dan juga gelisah. Benar-benar mirip dengan ABG.

Percuma saja aku berada lama disini kalau hanya itu yang bisa aku lihat. Aku jadi menyesal sudah menyia-nyiakan waktu istirahat ku yang berharga.

Lekas aku meninggalkan tempat itu dan berlari kecil menuju kantin. Untungnya aku sudah menitipkan pesanan ku pada Lalisa sehingga saat aku tiba di kantin, aku tinggal duduk manis dan menyantap soto ayam pesanan ku.

"Darimana sih? Lama banget," tanya Lalisa.

Aku melirik ke arah nya. Lalu beralih ke arah Kale yang jadi semakin kalem karena sedang sakit. Padahal dengan lamanya aku datang, mereka jadi memiliki waktu berdua lebih lama, tapi kenapa Lalisa malah terlihat kesal.

"Perut gue sakit. Kayaknya gue makan nasi goreng nyokap gue kebanyakan tadi pagi," kilahku.

Tentu saja aku tidak mengatakan tentang penemuan ku tadi kepada Lalisa dan Kale. Aku tidak ingin membuat rencana manis Lili untuk memberikan sesuatu secara diam-diam, gagal. Cukup sudah dengan menggagalkan rencana Lalisa sebelumnya.

Ah! Aku kembali mengangkat wajah dan menatap ke arah Lalisa. Wajah temanku itu benar-benar terlihat masam dan kesal. Aku meringis.

Sepertinya aku memiliki firasat bahwa Kale sudah memberi tahu pada Lalisa bahwa aku membongkar pengirim nasi goreng dan obat itu kepadanya sehingga sekarang Lalisa tampak sangat ingin memakan ku hidup-hidup.

"Hehe.. Kalian kayaknya udah enggak canggung lagi ya?" tanyaku ngawur.

Aku melihat Lalisa yang melotot setelah mendengar pertanyaan ku itu. Sedangkan Kale malah menaikan sebelah alisnya, anak itu benar-benar terlihat lemas.

"Ngomong apa sih, Mbak? Mending Mbak makan aja cepetan, sebentar lagi jam makan siangnya habis," balas Kale jengah.

Aku mengecimus. Langsung membuka mulutku lebar agar suapan besar bisa masuk ke dalamnya. Aku juga sebenarnya tidak sabar untuk melihat raut penasaran Kale saat melihat pemberian dari Lili yang ada di atas mejanya. Maka aku menghabiskan dengan cepat kuah kuning dengan lontong itu, kemudian mendorongnya masuk ke perut dengan segelas teh hangat. Kali ini aku memang sengaja tidak ingin meminum es karena cuaca sedang tidak karuan, aku tidak ingin berpartisipasi menjadi pengidap flu seperti Kale.

Namanya, KalendraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang